
Selesai kelas yang pertama, Nat dan Queen duduk di cantik, keduannya tengah mengisi perut mereka sebelum berhadapan dengan dosen killer, setelah ini.
Dan jangan lupa sifat buruk dosennya yang suka memberi tugas. Hanya satu soal tapi jawabannya bisa berlembar-lembar sudah begitu harus tulis tangan dia era digital seperti sekarang ini, sungguh menjengkelkan.
"Ara." Panggil Nat, setelah selesai menyantap mie ayamnya.
"Hmm." Queen masih menikmati seblak-nya sehingga ia hanya bergumam sebagai respon.
"Zicko dan anak-anak ingin ketemu kamu." Queen menghentikan makannya, mengambil air putih lalu meneguknya hingga setengah.
"Mau ngapain! Aku udah nggak bisa keluar lagi seperti kemarin-kemarin." Tanya Queen.
Jujur saja, jauh di lubuk hatinya ia masih sakit hati dengan kejadian dipesta keponakan suami, waktu itu.
Disana dia mungkin orang baru tapi, sudah jelas banyak teman-temannya juga, mereka memang baru kenal beberapa bulan ini. Tapi apa harus sampai hati, diam saja melihat dia dipermalukan seperti itu.
Dan mengingat semua itu membuat Queen membenci dirinya yang selalu bergantung kepada orang lain.
"Mereka ingin minta maaf sama kamu." Jawab Nat sembari menatap Queen dengan perasaan bersalah.
"Bilang sama mereka, aku udah maafin mereka! Tapi aku belum dikasih izin keluar rumah lagi." Queen mencoba, bersikap biasa-biasa saja.
Nat menarik lalu menghembuskan nafasnya, sebenarnya dia agak tidak yakin mendengar jawaban sahabatnya itu, tapi dia tidak mungkin memaksa Queen jika wanita itu tidak mau.
"Iya nanti aku sampaikan." Tiba-tiba ponsel Nat berbunyi sekali, begitu pun ponsel Queen."Ya udah, kita masuk kelas yuk, bentar lagi dosen masuk." Ucap Nat, setelah membaca pesan dari komting mereka.
Keduanya pun beranjak dari tempat duduk masing-masing lalu meninggalkan kantin menuju kelas.
"Emangnya kamu mau kemana Ra?"
"Aku mau ke toilet dulu, udah kebelet banget nih." Bohongnya.
" Mau aku temani?" Tawar Nat, namun Queen dengan cepat mengeleng kepalanya. "Ya udah jangan terlambat, entar kamu nggak di izinkan masuk." Nat mengingatkan Queen.
Queen mengangguk kepalanya lalu keduanya berpisah, Nat menuju kelas sedangkan Queen menuju toilet namun sebelum sampai di toilet, Queen langsung memutar jalannya ia segera berlari keluar fakultasnya berjalan dengan tergesa-gesa bahkan sampai harus sedikit berlari.
Queen meninggalkan kampus menuju Halte yang letaknya tidak jauh dari sana, menunggu bus.
Begitu bus datang Queen langsung naik, tidak peduli bus jurusan apa, ya terpenting untuk saat ini dia harus kabur terlebih dulu. Queen mengusap dadanya, ada perasaan lega, begitu ia merasa Bus itu telah menjauh dari kampusnya, Queen sudah bertekad untuk pergi dari Evan tidak perlu bagaimana caranya ia akan mencobanya sampai berhasil pergi dari pria itu.
Dua jam setelah kepergian Queen, mobil yang tadi mengantar wanita itu kembali lagi ke kampus dengan Evan didalamnya.
Ia menunggu wanita itu diparkir setelah mengirim pesan dan mengatakan kepada Queen jika dia menunggunya.
Namun Queen tak kunjung membuka pesan, hingga membuat Evan mengerutkan keningnya bingung.
Tak puas Evan mencoba menghubungi ponsel Queen, namun wanita itu tidak menjawabnya." Kamu akan mendapatkan hukuman kali ini Queen, kalau kamu sampai berani kabur lagi." Ucap Evan sembari mengepalkan tangannya sambil terus mencoba untuk menghubungi gadis itu lagi.
Hingga suara yang terdengar begitu asing itu menyapa Indra pendengarannya." Halo_"
Evan menautkan alisnya, "Siapa ini? dimana Queen? kenapa ponselnya ada di kamu." Tanya Evan secara beruntun kepada orang yang menjawab panggilannya untuk sang istri.