My Queen

My Queen
Nyaman Juga



Evan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, ia ingin mengelak apa yang di katakan David namun semua yang dikatakan pria itu benar.


"Lagian kamu aneh! disaat dia sedang membutuhkan sandaran dan seseorang agar menuntunnya supaya tetep bertahan, yang kamu lakukan justru membiarkan dia bertahan dan berjuang sendiri. Sekarang disaat dia sudah terbiasa sendiri dan tidak membutuhkan sandaran lagi kamu tiba-tiba datang untuknya. Sehat dude?" Lagi dan lagi, perkataan Erick pun benar adanya tapi dia juga memiliki alasan untuk melakukan itu semua.


" Aku menikahinya saat di masih sangat kecil dan saat itu aku tidak mencintainya." Evan berusaha memberi pembelaan.


Ketiga sahabatnya langsung menunjukkan respon yang berbeda. "Ya Yang kamu katakan itu benar, tapi tidak dengan meninggalkan dia begitu saja."


"Aku tidak meninggalkannya David, aku mengurusnya dengan baik serta memenuhi semua kebutuhannya walaupun mengunakan perantara." Evan tidak terima tuduhan David.


"Tapi kenyataannya memang seperti itu Van, maaf-maaf nih yah, bukan aku ingin menasehati kamu, tapi dari yang aku tahu gadis seperti seperti kamu itu lebih membutuhkan perhatian ketimbang harta dan segalanya. Dia baru ditinggal, dinikahkan biar ada yang perhatian dan jaga dia, oke kamu jaga dia dengan sangat baik, lalu bagaimana perhatian dan kasih sayang yang dia butuhkan." Ucap David panjang kali lebar dan yang dikatakan sang rektor itu juga di benarkan hati Evan.


" Ya aku setuju dengan bapak rektor kita ini, apa lagi waktu itu kamu bilang kamu menikahinya saat dia masih kecil. Kamu tentunya tahu bahwa dia sudah tidak memiliki siapa-siapa dan satu-satunya keluarga yang dia punya saat ini kamu, harusnya kamu lebih meluangkan waktu untuk bersamanya, jika tidak ingin menyentuh bukan berarti harus menghindar jugakan." Jelas Jefri.


Namun Evan hanya diam tidak membenarkan atau menyangkal ucap jefri.


David yang mengerti keterdiaman Evan langsung terkekeh. Ia seakan menemukan sesuatu untuk menggoda sahabatnya itu.


"Jefri, Erick kaliankan tahu sahabat kita ini, imannya setipis tissue yang dibasahi, mana mungkin dia tidak menyentuhnya." Ucap David diakhiri dengan tawa yang mengelegar diruangan ketika mendapat tatapan tajam dari Evan.


"Hai Van mau kemana, baru juga datang." Teriak Evan saat pria itu melangkah keluar meninggalkan ketiga sahabatnya itu, ia bahkan tidak memperdulikan teriak dan tawa David di belakang sana.


Kesal tentu saja namun Evan memilih untuk pergi, terlalu malas meladeni ucapan sahabat-sahabatnya dan sialnya dia tidak bisa menyangkal ucapan mereka, sebab apa yang dikatakan ketiga pria itu benar adanya.


Evan memutuskan untuk pulang ke rumah Queen. Selama diperjalanan ia terus mengingat apa yang dikatakan ketiga sahabatnya dan membandingkan dengan sikap Queen, 'mungkinkah dia membutuhkan perhatian dariku?" Tanya Evan pada dirinya sendiri.


Evan lupa jika ia juga pernah bersikap buruk kepada Queen dan yang paling buruknya ia memperlakukan Queen lalu melempar istrinya itu kedalam kolam renang dan juga mengatainya murahan.


Dan setibanya ia dirumah, Evan langsung menuju kamarnya, setibanya di kamar, ia melihat gadis itu begitu nyaman tertidur dibawah selimutnya, tidak terusik sedikit pun dengan keberadaannya.


Evan lalu mendaratkan bokongnya pada tepi ranjang tepat disamping, melihat wajah damai gadis itu, sembari mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Queen.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan paginya Queen terbangun lebih dulu, wanita itu merasa sesak seakan ada yang menghimpit tubuhnya.


" Euugh." Ia melenguh lalu membuka kedua matanya namun sedetik kemudian ia kembali menutup kedua matanya kembali sebelum membukanya lagi. "Apain? Kenapa bathtub berubah jadi seperti ini." Tanya Queen dalam Hatinya.


Wanita itu ingat betul, jika semalam ia tidur didalam bathtub, namun begitu ia membuka matanya mata Queen justru melihat dada bidang pria.


Ia mendongak kepalanya untuk melihat siapa orang itu," Bagaimana tidurmu?" Tanya dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Aaahhkk." Bukannya menjawab Queen justr berteriak lalu mendorong tubuh Evan hingga pelukan keduannya terlepas.


Queen melompat turun dari ranjang king size itu kemudian berlari ke dalam kamar mandi tak lupa mengunci pintu.


Didalam sana Queen mengatur menarik dan menghembuskan nafas sembari memperhatikan penampilannya di kaca, ia merasa lega karena penampilannya masih sama seperti semalam, mengingat suaminya tidak mengunakan baju.


Sementara diluar sana Evan tersenyum sambil menggeleng kepalanya, tingkah Queen sungguh sangat mengemaskan. " Ternyata nyaman juga, tidur sembari memeluk seseorang." Ucap Evan lalu menarik kedua sudut bibir, sesuatu yang jarang sekali Evan lakukan, tersenyum. Tapi pagi ini dia melakukannya karena Queen.


...\=\=\=\=\=...


...Hai, apa kabar semua....


...semoga kalian selalu sehat ya!...


...Maafkan aku yang baru bisa lanjut cerita ini lagi, tapi belum bisa setiap hari.🙏🙏 Karena aku masih harus menjalani pengobatan....


...Terima kasih.❤️...