My Queen

My Queen
Dare Queen!



Botol itu terus diputar, banyak dari mereka telah mendapatkan giliran. Kejujuran ataupun tantangan. Sudah mereka lakukan, pertanyaan yang di tanyakan pun tidak terbatas bahkan namun ada yang memilih berkata jujur ada pula yang memilih mengambil hukuman itu dengan meminum satu sloki Vodka yang sengaja di siapkan untuk mereka.


Bahkan tantangan pun terbilang ekstrim namun masih dalam batas normal, contohnya saja, Chika mendapat tantangan menampar salah satu pengunjung yang ia temui pertama kali saat keluar dari pintu itu dan jangan tanya seberapa murka orang yang dia tampar, bersyukurnya dia segera kembali masuk kedalam ruangan itu dan bersembunyi di belakang tubuh teman-temannya.


Gila memang, tapi mereka menilai disitulah letak keseruannya, karena permainan ini sedikit berbeda dari biasanya. Walaupun kenyataannya sama saja hanya peraturannya yang sedikit berbeda.


Dan kita tersisa empat orang yang masih dibilang cukup beruntung, karena ujung botol itu belum mengenai mereka, walaupun mereka sudah beberapa kali mendapatkan belakang botol itu.


Empat orang itu adalah, Nat, Queen, Zicko dan Tommy. " Kita mulai lagi ya." Ucap Nat, dia mendapat giliran bertanya sehingga dia yang bertugas memutar botol itu.


"Ye Tommy." Girang mereka bertiga begitu ujung botol itu berhenti tepat di depan Tommy dengan belakangnya menghadap Zicko.


Zicko tersenyum menunjukkan smirknya. " Truth, Tom!" Ucapnya.


"Hmm." Gumam Tommy dengan malas, pria itu seakan tahu apa yang ditanyakan sahabatnya.


"Kamu pernah jatuh atau tidak, jika pernah sebutkan nama cewek itu." Tanya Zicko.


Bukan sebuah pertanyaan yang perlu di takutkan namun entah kenapa, Tommy lebih memilih meneguk Vodka itu dari pada menjawab pertanyaan sederhana itu dan hal itu membuat semua orang disitu saling menatap bingung namun tidak berani kepo.


Tommy beranjak dari tempat duduknya, sementara Zicko hanya tersenyum sembari mengeleng kepalanya.


Pria itu tahu, perasaan salah satu anggota inti Phoenix itu. Ya karena Zicko cukup dekat dengan Tommy.


"Ayo kita main lagi." Ucap Zicko membuat semua orang kembali fokus kepada pemain mereka.


Putaran pertama, ujung botol itu tidak mengenai siapa-siapa karena di meja itu tinggal mereka bertiga saja. Ke-dua pun begitu dan ketiganya botol itu berhenti di depan Nat.


"Sial." Wanita itu sempat mengumpat akan hal. Namun ia tidak bisa berhenti begitu saja.


"Karena belakang botolnya tidak mengarah kepada siapa pun maka aku yang akan memberikan tantangan kepada mu Nat." Ucap Zicko, langsung di angguki saja oleh Nat. " Dare Nat?.


"Ya, cepet." Sahut Nat.


"Seperti apa dilakukan Ema, keluar dari pintu itu dan mintalah benda apapun dari pengunjung yang pertama kali kamu temui." Ucap Zicko.


Tanpa banyak bicara Nat langsung meneguk Vodka, bukan karena dia takut gagal tapi Nat takut tidak beruntung dan mendapati pria perut bunci yang suka dengan gadis-gadis belia sepertinya, mengingat club ini kebanyakan berisi pengusaha-pengusaha beruang yang mencari kesenangan dengan uangnya.


Walaupun Nat harus sedikit merasakan mabuk, tak apalah ketimbang harus berurusan dengan pria-pria pengkhianat itu.


Bagaimana tidak disebut pengkhianat, sudah memiliki istri dan lubang halal di rumah tapi mereka lebih suka menemui mengali sumur di luar hanya karena penampilan luarnya, sungguh menjijikkan dan Nat tidak akan pernah mau berurusan dengan pria-pria seperti.


"Begitu saja kamu memilih hukuman, nyali kamu kecil Nat!" Cibir Zicko, namun wanita itu hanya menaikkan kedua bahunya tidak peduli.


Pemain itu kembali dilanjutkan, kini tersisa Zicko dan Queen. Sekali putaran botol itu langsung berhenti di depan Zicko.


Tidak ada orang lagi selain keduanya, mau tak mau Queen-lah yang memberikan pertanyaan.


"Iya apa?"


"Kamu pasti memiliki wanita yang spesial dalam hidup kamu sekarang, selain mama dan saudari perempuan. Siapa nama wanita itu?" Tanya Queen.


Namun seperti yang di lakukan Tommy dan Nat, jika pun memilih meneguk Vodka sebagai hukuman.


"Mengatai orang! Padahal kamu juga nggak ada bedanya dengan mereka. Ucap Queen mencibir pria itu.


Namun Zicko hanya tersenyum." Aku sudah meneguk hukumanku, sekarang giliran kamu, Dare Queen!" Ucap Zicko sembari meletakkan gelas sloki berisi Vodka itu di hadapan Queen.


"Apa, bukannya permainan ini sudah selesai?" Sahut Queen tidak percaya.


"Tidak Queen permainan ini baru akan selesai jika semua sudah kebagian truth or dare nya. Nggak adil dong kalau kita semua kena kamu nggak! Kecuali dari awal kamu nggak main, benar nggak teman-teman?" Ucap Zicko sembari meminta persetujuan teman-temannya.


Dan tentu saja mereka kompak membenarkan hal itu.


"Si-alan kamu." Umput Queen, merasa tidak punya pilihan dan harus menerima tantangan dari ketua geng mereka.


"Dare Queen!"


"Hmm, apa buruan." Sahut Queen kesal.


Namun jika hanya menanggapinya dengan senyum kemenangan." Kali ini tantangannya aku kasih pilihan." Ucap Zicko membuat Queen mengerutkan keningnya bertanya-tanya, namun wanita itu tidak kunjung bertanya dan hanya diam menunggu Zicko selesai dengan ucapannya." Kamu ingin mencium salah satu diantara cowok yang ada diruang ini, atau keluar pintu itu dan mencium pungunjung yang kamu temui di luar sana?" Ucap Zicko tanpa dosa, telah membuat Queen dalam pilihan sulit.


Meminum Vodka atau melakukan tantangan gila yang di berikan Zicko. Tentu saja Queen tidak akan menyentuh minuman beralkohol itu, walaupun dia suka kebebasan ini namun Queen sangat tahu batas.


Dia tidak ingin, orang tuanya serta kakek, neneknya bangkit lagi dari kubur hanya karena melihat dia menyentuh minuman itu.


Queen pun mulai beranjak dari duduknya, ia melangkah keluar ruangan itu untuk mencari mangsa demi memuluskan tantangan yang di berikan oleh Zicko.


Saat Queen berada di luar, seseorang tiba-tiba berjalan kearahnya dan tanpa melihat siapa orang itu Queen langsung menarik kerah bajunya lalu mencium pipi orang itu.


Dan betapa terkejutnya dia setelah melepaskan ciumannya dan melihat wajah orang itu. Seorang pria yang sudah dua kali ia menciptakan masalah dengannya.


Dialah Evander Sagara Atmaja, pria sombong dan menyebalkan versi Queen, sayangnya Queen tidak tahu kalau pria itu adalah suaminya sendiri, lelaki yang tidak pernah mau mengunjunginya.


"Kau!" Ucap Evan, sembari mengerang marah, namun sedetik kemudian terbentuklah smirik penuh arti diwajahnya.


" Pria tanpa sadar mengulurkan tangannya, menjambak rambut belakang Queen, menarik wajah wanita itu untuk mendekat kepadanya, lalu dengan kasar ia menubrukkan, bibirnya dengan bibir Queen. Melu-matnya dengan kasar bahkan sengaja mengigit bibir wanita hingga Queen dapat merasakan dari bibirnya yang terluka.


Setelah itu, Evan mendorong tubuh Queen hingga tersungkur di lantai lalu melewati wanita itu begitu saja setelah mengatainya. " Wanita mura-han."


Jangan tanya Se-marah apa Queen saat ini. Rasanya dia ingin membunuh pria itu andai pembunuhan itu di halalkan saat sakit hati karena harga diri terus di rendahkan oleh pria si-alan.


" Apa katanya, wanita mura-han! Aku berdoa semoga membuatmu tunduk di bawah kaki wanita mura-han ini, pria breng-sek." Ucap Queen dengan berteriak, berharap pria itu dapat mendengar doanya, walaupun itu sangat tidak mungkin karena pria itu sudah lebih dulu menghilang di balik pintu ruang VVIP yang bersebelahan dengan ruang yang mereka sewa.