My Queen

My Queen
Queen Sagara



"Maaf pak! Aku Nathalia sahabatnya Anara, tadi Anara nitip tasnya ke aku terus izin ke toilet, tapi sampai sekarang belum kembali." Jawab Nat panjang lebar dari seberang sana, dari suaranya wanita itu terdengar gugup.


Evan bahkan dapat mendengar suara tarikan nafasnya. " Anara siapa?" Tanya Evan yang bingung istrinya di panggil Anara.


"Maaf tuan, Anara itu Nona Queen. Namanya Queen Anara Ardely." Jelas sang supir.


Evan mengangguk kepalanya paham, lalu mengakhiri panggilan itu secara sepihak karena tidak ingin membuang-buang waktu dengan berbicara sama nat.


Pria itu kemudian meminta supirnya untuk mencari sahabat Queen yang bernama Nat itu.


"Tuan, itu yang namanya Nat."Pak Mardi yang hendak keluar dari mobil, melihat Nat berjalan kearah parkiran, ia kembali masuk kedalam mobil untuk memberi tahu tuanya.


"Suruh dia kesini?" Titah, sembari mencoba menghubungi seseorang.


Pak Mardi mengangguk lalu keluar untuk menghampiri Nat. " Cari istriku sampai ketemu, aku beri Kamu waktu 30 menit." Ujar Evan kepada orang yang dia telpon lalu mengakhiri panggilan itu secara sepihak, bersamaan dengan pak Mardi yang mengetuk kaca mobilnya.


Evan pun menurunkan kaca mobilnya setengah, karena tidak ingin menjadi pusat perhatian mahasiswi labil yang mengidolakannya.


Sedingin-dinginnya Evan, ia tetap menjadi idola para wanita di luar sana, semua itu karena kehebatannya dan termasuk jajaran pria good looking serta good rekening idaman para wanita.


"Tuan ini Nat_"


"Tuan Sagara." Pekik Nat, kemudian membekap mulutnya sendiri. Membuat pak Mardi tidak dapat melanjutkan ucapannya. "Tuan, tolong maafkan Ara! Dia gadis yang baik dan wakt_"


Evan menaikkan telapak tangannya dihadapan wajah Nat, meminta wanita itu untuk diam." Mana Tas Queen."


"Queen?"


"Queen Anara Ardely." Ucap pak Mardi yang paham dengan pertanyaan Nat.


Wanita itu langsung menepuk jidatnya sendiri, ia dia juga tahu itu nama Sahabatnya. Tapi kenapa tuan Sagara memanggilnya dengan Queen. Apa hubungan mereka? Panggilan Queen terdengar begitu akrab.


Semua itu terlintas dipikiran Nat namun wanita itu tidak berani bertanya kepada pria yang terkenal hebat namun kejam itu.


"Kenapa diam?" Suara Dingin itu terdengar begitu menusuk." Mana tas-nya." Lanjutnya tidak sabaran.


"Kamu boleh pergi." Usir Setelah mendapatkan barang-barang istri-nya.


"Dasar pria menyebalkan, tampan doang yang ganteng tapi sikapnya.menyebalkan." Umpat Nat dalam hatinya lalu berbalik pergi dari sana tidak ingin berurusan dengan pria sinting itu walaupun dia sangat penasaran, akan hubungan Anara dan pria itu.


\=\=\=\=\=\=\=


Ditempat lain Queen menginjakkan kakinya di pasar, wanita itu berencana untuk mencari pekerjaan terlebih dulu sebelum mencari tempat tinggal, ia sengaja memilih pasar karena dia yakin Seorang Evander Sagara Atmaja tidak akan mungkin menginjakkan kaki di tempat seperti ini.


"Permisi Bu," Ucap Queen pada salah satu ibu-ibu pemilik warung kecil yang ada di pasar ini.


Queen mendengar beberapa penjual sayur berkata jika ibu ini sedang membutuhkan pekerja untuk mencuci piring di warungnya.


Itulah mengapa dia menghampiri wanita paruh baya itu dan bertanya, siapa tahu dia bisa berkerja di sana."Iya neng! Ada yang bisa ibu bantu."


"Begini Bu, saya dengar ibu sedang membutuhkan karyawan di warung ibu, jika masih membutuhkan saya ingin_"


"Masih neng! Tapi apa neng yakin mau kerja di tempat ibu?" Tanya ibu itu, sembari memperhatikan penampilan Queen, yang terlalu sempurna untuk bekerja di warungnya.


"Yakin Bu, saya membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan saya." Jawab Queen penuh harap.


Wanita paruh baya itu masih sangat ragu untuk memperkerjakan Queen tapi karena kasihan ia pun mengalah siapa tahu anak itu benar kesusahan." Kerja di tempat ibu, dimulai pukul enam pagi sampai jam lima sore, gaji sehari lima puluh ribu, neng mau?" Tanya wanita paruh baya itu.


Queen dengan cepat mengangguk kepalanya, ini aja udah syukur banget setidaknya ia punya penghasilan walaupun kecil, toh dia hanya seorang diri.


"Ya sudah, besok pagi neng datang lagi ke situ, warung ibu." Tunjuknya kearah warung yang lumayan ramai itu.


"Baik Bu, terima kasih." Queen pun pamit, karena dia harus mencari tempat tinggal di sekitar situ agar memudahkan dia saat berangkat dan pulang kerja nanti tidak perlu capek karena perjalanan.


Namun baru saja Queen keluar pasar ia sudah dihadang beberapa preman, mereka langsung menyeret Queen untuk ikut dengan mereka.


"Mencoba peruntungan lagi nona Queen Sagara."