
Tepat pukul delapan malam Queen dan Nat, tiba di salah satu mansion. Mobil Queen meleset masuk melewati gerbang mansion itu, setelah Nat menunjukkan undangan pada ponselnya, kepada dua orang keamanan yang bertugas memastikan bukan orang sembarangan yang masuk kedalam mansion.
Mobil mahal itu mengitari kolam air mancur dengan patung Dewi Yunani ditengah-tengahnya. Dan tak lama berhenti di belakang deretan mobil-mobil mewah yang terparkir di sana.
Membuat halaman mansion itu seketika berubah menjadi tempat pameran mobil-mobil mewah, Ferrari, Lamborghini dan masih banyak deretan merek-merek mobil mahal itu terparkir di sana, mulai dari yang mode lama sampai versi terbaru pun ada.
"Nggak salah acaranya disini?" Tanya Queen sembari menatap bangunan tiga lantai didepannya.
"Kalau salah kita nggak akan diizinkan masuk." Sahut Nat, sembari mengeleng kepalanya. " Udah ah turun, anak-anak yang lain sudah ada didalam nungguin. " Lanjutnya.
"Hmm." Jawab Queen, wanita itu kemudian keluar dari mobil itu menyusul Nat yang sudah lebih dulu keluar.
Seorang pelayan pria menghampiri keduannya untuk menuntun mereka ke tempat pesta.
"Ara." Panggil Nat, saat mereka melangkah menuju tempat itu, melewati pilar-pilar besar bangunan bergaya Amerika klasik itu.
"Ya." Jawab Queen seraya melirik sekilas kepada sahabatnya.
"Apapun yang terjadi malam ini, tolong tahan emosi kamu ya." Ucap Nat dengan nada berbisik, Queen yang mendengar permintaan wanita itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap sahabatnya, meminta jawaban atas ucapannya barusan.
" Kenapa?" Tanya Queen.
"Bukan apa-apa sih! Soalnya ini Pesta ulang tahun keponakan tuan Sagara yang ke 20! Kamu ingatan-kan? Cewek yang kita temui di mall bersama tuan Sagara_ Anara." Panggil Nat, saat wanita itu hanya terdiam tanpa merespon ucapannya barusan. " Ar_"
" Aku mau pulang." Ucap Queen, lalu berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Bukannya apa dia tidak suka berurusan dengan orang-orang kaya yang suka merendahkan orang lain hanya karena mereka dapat membeli apapun.
" Ara, masa pulang sih. Kita sudah di sini loh. nggak enak sama yang lain, paling tidak kita tunjukin ke mereka kalau kita juga datang setelah itu baru kita balik." Bujuk Nat.
Ini alasannya kenapa tadi dia tidak mengatakan kepada Queen, ke pesta siapa mereka, dia takut Queen tidak akan ikut.
Sementara Nat sudah terbiasa kemana pun berdua dengan Queen semenjak wanita itu bebas dari sangkar emasnya itu.
"Please Queen, aku janji kita tidak akan lama disini." Bujuk Nat lagi, untuk meyakinkan Queen.
"Aku ngg_"
" Hei, kalian berdua masih disini? Ayo kita masuk sama-sama." Indra yang baru datang bersama Chika langsung merangkul pundak Queen mengajak wanita itu masuk kedalam untuk bergabung bersama yang lain tanpa memberi kesempatan untuk Queen menolaknya.
Sementara Nat, berjalan bersama Chika yang terlihat sedikit kesal padanya, bagaimana tidak dia sudah menunggu wanita itu hampir dua jam, bukannya datang dia malah mengirim pesan jika dia tidak datang, bersyukur Indra masih belum pergi jadi pria itu dapat menjemputnya.
"Chika, maaf ya." Ucap Nat penuh penyesalan namun wanita itu terlihat enggan untuk memaafkan dirinya.
"Chika_"
"Iya-iya aku maafin! Tapi lain kali aku nggak akan mau menunggu kamu lagi." Ujarnya.
"Sorry Chika."
" Iya! Ya udah yuk Masuk." Keduanya pun mengikuti langkah Queen dan Indra.
\=\=\=\=\=\=\=
Semetara itu depan mansion itu sebuah Range Rover baru saja berhenti, tak lama seorang supir kedua untuk membukakan pintu mobil itu untuk sang tuan.
Beberapa pelayan sedang bertugas menyambut tamu undangan nona muda mereka, langsung berbaris dengan rapi, menyambut kedatangan adik dari pemilik mansion itu.
"Selamat datang tuan Evan."ucap salah satu diantara mereka dan mereka pun kompak membungkuk memberi hormat.
" Lama tidak berjumpa, Alan." Sahut Evan sembari menepuk pundak pria yang baru saja menyapanya.
"Saya pun senang bisa berjumpa lagi dengan tuan Evan. Mari nyonya sudah menunggu anda sejak tadi." Balas Alan.
Namun Evan tidak menghiraukan panggilan dari pelayan itu, mata pria itu kini tengah berpusat pada sebuah mobil yang tidak asing di matanya.
" Kamu juga melihatnya?" Tanya Evan kepada sang asisten yang kebetulan juga ikut bersamanya.
"Ya tuan, itu mobil yang anda beli, untuk nona Queen." Jawab sang asisten.
"Kenapa mobil ini ada disini? Apa kamu salah mengantarnya." Tanya Evan lagi mengingat pita berwarna pink masih menempel pada kap mobil itu.
"Tidak tuan, saya yakin sudah memberikan alamat yang benar." Jawab sang asisten tidak ingin membuat tuannya marah.
"Lalu kenapa, mobil ini ada disini?" Tanya Evan dengan suara yang mulai meninggi, entah mengapa dia marah saat tahu mobil yang dihadiahkan untuk istrinya belum sampai ketempat wanita itu.
"Saya akan mengeceknya tuan, sebaiknya anda masuk, karena saya yakin nyonya Eva sedang menunggu anda saat ini.
Mendengar nama sang kakak, Evan mengangguk dan mempercayakan asistennya untuk mengetahui pemilik mobil itu.
Dan Alan pun berjalan satu langkah di belakang Evan, mengantar pria itu menuju taman samping dekat kolam renang dimana pesta ulang tahun itu diadakan.
Karena banyaknya tamu yang nona muda mereka undang malam ini dan tidak ingin ulang tahunnya diadakan di ballroom hotel seperti biasa, sang nyonya pun memilih pestanya diadakan disana. Karena taman samping itu begitu luas.
Bruk
Praangg..
Saat memasuki area pesta itu, bukannya kemeriahan pesta yang menyambut tapi kekacauan.
Dari tempatnya berdiri, Evan dapat melihat bagaimana keponakannya itu didorong hingga membentuk kue ulang tahunnya yang sudah di siapkan sang kakak untuk putri angkatnya itu.
Tidak hanya itu, bahkan gelas-gelas yang telah disusun tinggi itupun, ikut jatuh karena tangan sang keponakan tidak sengaja menyenggolnya hingga menimbulkan suara yang cukup memeka telinga.
Plak.
"Kak." Panggil Evan kepada kakak perempuannya, setelah wanita itu memberikan satu tamparan keras pada pipi seorang gadis yang telah mendorong keponakannya itu.
Evan meraih tangan kakaknya itu untuk mengecek apa tangannya luka sakit atau apapun itu, berlebihan sekali padahal sang kakak baru saja menampar seseorang. Bukannya khawatir dengan orang yang di tampar kakaknya pria itu justru mengkhawatirkan kakaknya.
"Apa orang tuamu tidak mengajarkan kamu cara bertamu, ap_"
" Kakak, sudah jangan teriak-teriak nanti tenggorokan kakak sakit." Sahut Evan. " Wanita ini biar Evan yang urus." Ucapnya, kemudian melihat seperti apa wajah gadis yang sejak tadi memunggunginya.
Dan saat melihat wajah wanita itu rahang Evan langsung mengeras, seketika.
'Wanita ini lagi.' Gumam Evan dengan tangan yang terkepal.
Tanpa banyak bicara, pria itu langsung mencengkram pergelangan tangan gadis itu, menyeretnya hingga sampai di samping kolam renang itu, lalu mendorong wanita itu dengan begitu keras.
Pyaar.
Tubuh gadis itu langsung terjatuh didalam kolam renang yang dingin itu tanpa ada yang menolongnya. semua orang yang hadir di pesta itu hanya terdiam seolah tak terjadi apa-apa.