
Sejak percobaan kaburnya yang gagal malam itu, Queen tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal konyol lagi karena, Evan menghabiskan waktu untuk mengawasinya.
Pria yang dulunya selalu sibuk dan tidak pernah memiliki waktu untuk menemuinya kini, berubah menjadi pengangguran. Selama satu kali dua puluh empat jam dia berada di rumah untuk mengawasi Queen dan semua pekerjaannya ia lakukan di rumah.
Asistennya bahkan bisa sehari tiga, empat kali datang ke rumah hanya untuk membawa berkas-berkas penting yang membutuhkan tanda tangan Evan.
Dan semua itu berjalan selama masa libur semester Queen. Membuat wanita itu hampir mati kebosanan dalam rumah itu.
Karena Saat masih di awasi pak Mardi dan paman Ben, Queen bisa berkeliling rumah itu, tapi saat Evan yang mengawasinya dia hanya boleh keluar kamar saat waktu sarapan, makan siang dan makan malam saja. Sisanya dia harus tetap berada di dalam kamar. Ponsel, laptop disita oleh Evan, selimut dan apa yang bisa Queen gunakan untuk kabur di singkirkan dari kamarnya.
Evan benar-benar menyiksanya dengan rasa bosan, namun semua itu sudah berlalu sebab libur semesternya telah berlalu dan hari ini dia akan kembali berkuliah lagi.
"Habiskan sarapan kamu, aku yang akan mengantar kamu ke kampus hari ini." Ucap Evan.
Queen memutar bola mata dan bibirnya, mengejek ucapan suaminya. Evan tahu apa yang dilakukan Queen tapi dia memilih mengabaikannya.
"Kuliah yang benar, jangan mencoba kabur! Karena aku tidak akan segan-segan untuk menghukum kamu." Ancam Evan dan Queen menaikkan kedua bahunya tidak peduli. Sebab sudah rencana kecil di otaknya hari ini.
Usai sarapan, Evan mengembalikan ponsel, laptop dan black card Queen yang ia sita kemarin.
Setelah itu keduannya berangkat ke kampus Queen, nanti setelah mengantar istrinya, Evan akan ke kantor untuk meeting dan akan menjemput Queen begitu mata kuliah wanita itu selesai.
"Ingat jangan macam-macam Queen, aku mengawasi kamu." Pesan Evan begitu mobilnya berhenti didepan fakultas istrinya itu.
"Terserah."
Queen menjawab kemudian keluar dari mobil Evan sembari membanting pintu itu dengan begitu keras, hingga membuat supir dan Evan sedikit tersentak.
Setelah punggung Queen tidak lagi terlihat Evan meminta sang supir untuk melanjutkan perjalanannya, menuju kantor.
Sementara itu didepan kelas, Queen bertemu dengan Nat, sahabatnya. " Queen." Panggilnya.
Sejak kejadian malam pesta, Queen tidak pernah bertemu dengan Queen lagi, dia juga sudah datang ke rumah Queen namun security tidak mengizinkannya masuk.
"Queen, tolong maafkan aku." Nat menggenggam pergelangan tangan Queen, berharap Queen mau mendengarkannya. "Kamu tahu kan malam itu kita sedang ada dimana? Mereka keluarga_"
Queen menghentikan Ucapa Nat."Sudahlah lupakan, jangan dibahas lagi, aku nggak mau mengingat kejadiannya. Mungkin saja Hari itu memang nasib aku yang lagi apes jadi." Ujarnya sembari tersenyum.
"Tapi kamu maafin kita kan, Queen." Queen menaikkan bahunya sengaja untuk mengerjai sahabatnya.
Se-kecewa apapun kepada keempat sahabatnya, Queen tetap memaafkan mereka.
"Queen jawab dong! Jkamu bersikap seperti ini, membuat aku berpikir kamu masih marah. "
Queen menghentikan langkahnya, lalu menatap kepada ." Sungguh aku sudah memaafkan kalian dan aku tidak mau meninggat semua kejadian itu lagi." Ucap Queen. Membuat Nat merasa lega. "Sudah kita masuk kelas, tuh dosennya sudah ada." Lanjutnya.
Setelah itu mereka masuk kedalam kelas dan Duduk ditempat duduk mereka.