
Pagi itu matahari menyinari begitu cerah, secara suasana hati Queen hari ini. Bukan karena dia senang menjalani statusnya sebagai istri sungguh dari Evander Sagara.
Tapi pagi ini akan Queen awali dengan semua rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya! ya wanita itu akan membalas semua sikap Evan kepadanya dengan caranya. Ingat memaafkan bukan berarti harus melupakan.
Hitung-hitung untuk membuktikan seberapa serius Evan menginginkannya."Selamat pagi." Sapa Evan sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Queen. Wanita itu kini tengah berdiri di balkon kamar menikmati suasana pagi itu dari tempatnya berdiri.
"Pagi." balas Queen seadanya, kalau boleh jujur ia sedikit risih dengan perlakuan Evan, mungkin karena dia sebelum tidak pernah se-dekat ini dengan seorang pria.
"Kenapa berdiri di sini?" tanya Evan sekedar basa-basi, dia juga tidak tahu berbicara apa dengan Queen.
" Nggak papa, cuma ingin menikmati suasana di rumah baru aja." jawab Queen." Oh iya! aku ada kuliah pagi ini, boleh aku pergi?" Lanjutnya bertanya.
"Tentu saja! aku akan mengantar kamu." Keduanya nampak begitu canggung namun mereka berusaha keras menutupinya dari satu sama lain.
"Apa aku akan dibatasi lagi?" tanya Queen, namun Evan tidak kunjung menjawab." Aku sudah mengatakan kemarin, bahkan aku tak ingin di perlakukan sepatu burung di dalam sangkar lagi, jika ingin bersama bebaskan aku melakukan apapun sebagaimana mestinya.
"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu! apa kamu lupa siapa kamu sekarang." Tanpa menghiraukan ucapan Evan, Queen langsung menghempaskan tangan pria itu dari pinggang." Kenapa marah? apa kamu berniat kabur lagi?" Evan menahan lengan Queen saat wanita itu akan berlalu dari hadapan.
"Terserah kamu, aku tidak akan mau tinggal disini." Queen kembali berulah, membuat Evan memijit pelipisnya.
Belum genap sehari mereka memutuskan untuk menjalani pernikahan ini dengan sebagai mana mestinya tapi perdebatan sudah kembali terjadi.
"Baiklah, lakukan apapun yang kamu inginkan tapi kamu harus tetap mengabari aku. Aku harus tahu apa saja yang kamu lakukan diluar sana." Queen tersenyum lalu mengangguk kepalanya.
Inilah yang dia inginkan! kebebasannya. Bukan kebebasan dalam arti negatif tapi bebas menjalani rutinitasnya.
"Baiklah, aku harus bersiap-siap." Evan mengangguk, pria itu sedikit kecewa karena Evan tidak menunjukkan rasa terima kasihnya. Padahal dirinya sudah berharap Queen akan memeluknya seperti wanita pada umumnya, dimana mereka akan memeluk orang yang mereka sayangi begitu keinginan mereka dituruti.
~o0o~
Begitu selesai bersiap-siap kedua nya pun sarapan bersama sebelum memulai rutinitas mereka pagi ini. " Aku antar ya." Tawar Evan, Namun Queen justru menggeleng kepalanya.
"Aku mau ketemu sama anak-anak Phoenix, jadi nggak usah diantara. Aku bawa mobil aja! bolehkan?" sahut Queen sekedar bertanya, karena akan dia pasti Evan menyetujui keinginannya.
"Anak-anak Phoenix?"
"Hmm, Genk motor gitulah?"
"Ngapain ikut begituan_"
"Jadi aku nggak boleh melakukan apa yang aku suka! sebenarnya kamu setuju nggak sih dengan kebebasan yang aku inginkan?"Evan mende-sah panjang, pria itu kini merasa dimanfaatkan oleh Queen.
"Queen aku bebaskan kamu melakukan aktivitas keseharian kamu seperti yang kamu inginkan tapi tidak harus bergabung dalam Genk-genk seperti itu, tidak ada manfaatnya untuk kamu." Ujar Evan.
"Jadi aku boleh pergi atau tidak." Tanya Queen tak menghiraukan ucapan suaminya.
"Tidak Queen kamu boleh kuliah, belanja, jalan-jalan terserah tapi tidak untuk perkumpulan seperti itu." Tegas Evan.
"Kamu bilang aja kamu nggak serius ngasih kebebasan aku! nggak usah banyak alasan deh. Malas dengarnya." Queen langsung beranjak dari duduknya.
"Queen mau kemana? habisin dulu sarapan kamu." Titah Evan, sebelum wanita itu meninggalkan ruang makan.
"Aku sudah tidak berselera untuk makan. Sudahlah kamu jangan banyak tanya aku mau ke kampus! telat aku kalau cuma ladenin semua peraturan sepihak kamu." Queen melanjutkan langkahnya, meninggalkan Evan yang kesal karena merasa tak di hargai oleh wanita itu.