
"Aku nggak mau, paman." Teriak Queen dari dalam sana, membuat paman Ben mende-sah panjang.
Harusnya diusianya ini dia mengundurkan diri! Karena jujur saja dia sudah tidak sanggup berada ditengah-tengah kedua manusia keras kepala ini.
"Ben, kenapa Belum turun? Tuan sudah menunggu sebaiknya kamu cepat membawa nona Queen kebawa. Kalau tidak, kita tidak akan bisa beristirahat malam ini." Ucap Bi yati yang menyusul paman Ben sebab tuanya mulai mengamuk dibawah sana.
"Bi, masalahnya non Queen nggak mau keluar, pintunya juga dikunci." Ucap Bi Yati.
"Biar saya coba bujuk non Queen-nya." Wanita paruh baya itu maju selangkah lalu mengetuk pintu itu.
Tok... Tok..
"Non, ini bibi! Buka dulu pintunya bibi mau ngomong sama non sebentar aja." Ujarnya sembari terus mengetuk pintu itu namun tidak ada suara sahutan lagi dari dalam sana.
Bi Yati menatap paman Ben meminta penjelasan karena Queen tidak kunjung menyahutinya dan pria paruh baya itu hanya merespon dengan menaikkan kedua bahunya tidak tahu.
"Sudahlah Jangan dipaksa, kita kebawah aja! Kita bilang sama tuan kalau non Queen nggak mau membuka pintunya." Ucap paman Ben, putus asa walaupun dia tahu setelah ini dia akan melihat amukan tuannya itu.
Dan benar saja begitu mereka sampai di hadapan Evan, pria itu langsung menatap tajam Keduanya, tatapan itu setajam elang yang menandai mangsanya.
"Mana Queen?" Suara terdengar begitu dingin ditambah aura mengintimidasinya, membuat kedua pelayan itu gemetar.
"Maaf tuan, non Queen tidak mau! Ia mengunci dirinya dikamar." Jelas paman Ben tanpa menatap lawan bicaranya.
Prang...
Dia membawa langkahnya menuju kamar Queen, setibanya di depan pintu kamar itu.
Bruk.. bruk..
"Queen, buka pintunya jangan menguji kesabaran ku." Teriak Evan sembari menggedor-gedor pintu kamar itu.
Sedangkan sih empunya kamar, tak kunjung menyahutinya, membuat emosi Evan semakin naik. " Gadis ini." Gumamnya sembari memijit pangkal hidungnya dengan satu tangan bertengger di pinggangnya.
Baru Queen yang membuat dia seemosi ini, bahkan semua anggota keluarga Atmaja mau rekan bisnisnya tidak ada yang seberani Queen.
BRUK.
Evan menendang pintu itu dengan begitu keras namun pemilik kamar di dalam sana tak kunjung terusik.
Didalam Kamar Queen justru sedang tertidur lelap didalam bathtub kamar mandi.
Saat paman Ben memanggilnya tadi, Queen menjawab sembari mengeluarkan selimut tebal dari dalam lemari, membuka selimut itu untuk dijadikan alas dalam bathtub, lalu mengambil bantal, guling dan selimut yang ada diatas ranjang untuk dia bawa kedalam bathroom.
Wanita itu masuk kedalam bath merebahkan kepalanya di atas bantal yang dia bawa lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut sembari memeluk guling-nya tak lupa Queen menutup lubang telinganya dengan earphone, lagu pop jaman dulu terdengar berita merdu hingga tak membutuhkan waktu lama untuk Queen terlelap di tengah kekacauan yang terjadi di luar sana dan kemarahan seorang Evander Sagara tidak membuatnya takut sedikitpun.
Bahkan saat pintu kamarnya ditendang hingga terlepas dari engselnya oleh Evan, Queen tetap tidak terusik wanita itu telah dalam mimpi indahnya. Aneh tapi itulah Queen dengan sejuta keajaibannya.