My Queen

My Queen
Aku nggak bohong.



"Aku dimana?" Tanya Queen begitu ia membuka kedua matanya dan disambut senyum manis Vika. 


"Kamu di apartemen aku." Jawab Vika, sembari menyerahkan segelas air  putih yang telah ia siapkan untuk Queen,  "Indra yang  bawah kamu kesini." Ujarnya ketika menyadari raut kebingungan di wajah Queen. 


Queen mengangguk seraya mengambil gelas dari tangan Vika dan meneguk isinya hingga tandas." Terima kasih."


Vika kembali tersenyum, " Sama-sama! Maaf tadi aku ganti baju kamu, biar kamu nyaman tidurnya." 


Queen menatap tubuhnya, bajunya memang sudah diganti. " Terima kasih, maaf merepotkan." 


"Nggak papa, santai aja! Kamu butuh sesuatu lagi." Queen mengeleng kepalanya sebagai jawaban, lantas membuang pandangannya keseluruhan ruangan mencari keberadaan Indra." Dia sedang ke minimarket, sebentar lagi juga datang." Ucapnya lagi seakan tahu apa yang dia cari Queen. 


Benar saja, tak berselang lama pintu Apartemen Vika terbuka. Indra masuk sembari menenteng belanjaannya, tapi pria itu tidak sendirian, ada Nat, Chika dan Tommy juga.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Indra hanya  Queen menganggukkan kepalanya saja. 


"Ara, Kangen." Chika yang berada tepat dibelakang Indra melewati pria itu, kemudian memeluk tubuh sahabatnya." Aku kangen banget sama kamu." Ujarnya, mengeratkan pelukannya pada Anara. 


"Aku juga kangen kalian." 


Mereka pun saling berpelukan, secara bergantian. Kemudian duduk disamping Queen dan Vika sambil menikmati aneka makan dan cemilan yang dibeli Tommy dan Nat. 


Ketika mereka tengah asyik  makan sambil bercerita,  Indra teringat untuk menanyakan sesuatu kepada Queen. 


"Anara. " Panggilnya.


"Kamu tadi kenapa? Kok bisa sampai nangis kaya gitu, mana pakai baju compang-camping lagi, udah  kaya orang gila tahu nggak." Queen menunduk lantas menceritakan apa yang terjadi kepadanya, bahkan statusnya yang sudah menikah, ia lelah hidup seperti ini dan alasan dia menangis karena merindukan kakek dan kedua orangtuanya. 


Bukannya percaya, Tommy justru beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Queen lalu meletakkan punggung tangannya pada kening wanita itu. "Pantas ngomongnya ngawur, panas gini." Ucapnya, membuat Queen cemberut, padahal dia sudah menyiapkan dirinya untuk menceritakan semuanya namun mereka justru menangapinya seperti ini.


"Dengan tuan Sagara?" Tanya  Nat, dia ingat kemarin yang datang mengambil tas Queen saat Queen pergi entah kemana adalah Tuan Sagara. 


Queen mengangguk." Ara, sayang aku tahu banyak wanita diluar sana yang memimpikan untuk menjadi pendamping pria itu, tapi jangan seperti ini juga." Sahut Chika, gadis itu sama seperti Tommy yang tidak mempercayai ucapan Queen. Tidak hanya mereka berdua, Vika dan Indra juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan 


"Aku berkata sebenarnya, aku nggak bohong." Ucapnya. 


"Oke! Gini aja, seandainya kita percaya dengan apa yang kamu katakan. Terus apa alasan kamu menceritakan semua ini kepada kita, Setelah sekian lama kamu menutupinya." Ujar Tommy, disetujui oleh Chika dan Indra, sementara Nat masih terdiam, entah apa yang dipikirkan wanita itu.


"Sudah aku katakan aku lelah dan aku butuh bantuan kalian, itupun kalau kalian benar-benar sahabat aku." Tegas Queen.


"Kamu ingin kita melakukan apa?" Tanya Nat, wanita itu terlihat serius.


" Bantu aku tinggalkan kota ini, terserah kemana aja, asal dia tidak temukan aku." Mendengar jawaban Queen. Mereka menyimpulkan jika, semua yang dikatakan Queen itu hanya karangannya saja untuk terlepas dari tuan Sagara, mengingat wanita itu mempunyai masalah dengan tuan Sagara.


Ting... Tong..


Bel Apartemen Vika berbunyi, Vika beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu dan begitu pintu itu terbuka, Vika langsung terdiam ditempatnya menatap pria yang berdiri dihadapannya ini. 


"Saya mencari Queen Anara!"