
Evan menghempaskan tubuh Queen pada job belakang mobilnya, begitu salah satu bodyguard-nya membukakan pintu mobil itu.
"Aukkhh." Queen meringis sembari menahan pelipisnya, ketika rasa pusing menghampirinya sebab apa yang dilakukan Evan barusan.
"Jalan, kita pulang ke mansion." Titah Evan kepada sang supir yang kini sudah masuk kedalam mobil, begitu Evan masuk dan duduk disamping Queen, bahkan kedua kaki wanita itu kini telah berada di atas pahanya.
Bukan, bukan Queen yang sengaja meletakkan kakinya diatas paha Evan, namun pria itu sendiri yang mengangkat kaki Queen dan meletakkannya di atas pahanya.
"Aku nggak mau pulang." Teriak Queen sembari mencoba untuk duduk, akan tetapi Evan mendorong tubuh Queen, hingga gadis itu kembali berbaring.
"Sudah cukup kamu membuatku marah Queen, jangan memancing aku lagi." Ujar Evan, berharap istrinya yang nakal itu mau menurutinya kali ini.
"Memangnya kamu ikan, di pancing." Sahut Queen, Sembari menarik kedua kakinya dari paha Evan namum usahanya sia-sia. Evan lagi-lagi menahan kakinya.
"Lepas, aku pusing berbaring seperti ini." Mendengar penuturan Queen, Evan pun melepaskan gadis itu." Dasar suami kejam." Gerutunya seraya duduk dengan benar di samping Evan.
"Aku tidak kejam, kamu saja yang susah di atur." Queen melirik tak suka pria yang duduk di sampingnya itu.
"Aku, susah diatur?" Tanya Queen sambil menunjuk dirinya sendiri. " Justru kamu yang jadi suami yang tidak bertanggung jawab. Nikahin anak orang, bukannya di urusin malah seenaknya di taruh begitu saja, layaknya pajangan, nggak pernah di tanyain masih hidup apa udah mati. Peliharan aja, masih di urusin tuannya di tengok di ajak main. Lah aku, jangankan di urusin tahu wajah tuannya aja nggak." Ucap Queen panjang kali lebar, dia bahkan tidak peduli jika ucapannya akan membuat Evan tersinggung.
"Sudah, ngeluhnya?" Tanya Evan ketika Queen selesai bicara.
"Siapa juga yang lagi ngeluh sama kamu." Ucapnya seraya menatap sinis Evan.
Sementara Evan sendiri hanya diam seraya memijit pangkal hidungnya, kepalanya yang sudah pusing karena ulah wanita itu yang kabur dari rumah, semakin bertambah pusing mendengar keluh-kesah Queen.
"Oke, aku minta maaf aku salah." Evan mencoba mengikuti saran sahabatnya dengan meminta maaf juga mengakui kesalahannya.
"Memang kamu salah kok."
"Kamu yakin mau aku maafkan?" Tanya Queen, wanita itu terlihat sumringah! Sepertinya dia sudah memilih cara untuk memaafkan Evan.
"Ya, katakan apa yang kamu inginkan akan aku kabulkan kecuali perceraian." Wajah sumringah Queen langsung memundar saat mendengar ucapan Evan, padahal dia sangat ingin lepas dari pria itu.
"Bunuh aku aja! Aku lelah." Tubuh Queen langsung merosot dari tempat duduknya, rasanya dia ingin berteriak ditelinga Evan. "Dasar pria menyebalkan."
Queen terlalu dilema dengan keadaannya saat ini hingga ia tidak menyadari, jika mobil yang dia tumpangi melewati jalan yang berbeda dari biasanya ia lewati.
Sementara Evan sendiri, tersenyum tipis melihat tingkah istri kecilnya itu.' Mulai detik ini, aku akan membuat kamu Beta berada di sampingku dan berhenti berpikir untuk pergi. Itu janjiku.' Ucap Evan tanpa mengalihkan pandangannya dari gadisnya. Gadis yang sudah ia sia-siakan selama lima tahun ini.
...~o0o~...
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mobil itu memasuki mansion Evan. Barulah Queen tersadar jika itu bukanlah rumah yang biasanya ia tempati.
"Rumah siapa ini?" tanya Queen.
"Rumah kita, mulai sekarang kita akan tinggal disini," jawab seraya mengusap kepala Queen.
"Aku nggak mau tinggal disini! aku mau pulang ke rumah kakek aku." Queen tentu saja menolak untuk tinggal bersama Evan. Sebab gadis itu masih berpikir untuk bercerai dari Evan.
"Itu bukan pertanyaan Queen tapi pernyataan! suka atau tidak kamu akan tinggal disini, bersamaku! semua barang-barang kamu dari rumah lama telah di pindahkan ke sini, Ayo." Evan turun dari mobilnya Begitu di bukakan pintu oleh supir.
Pria itu kemudian mengulurkan tangannya kepada Queen, namun Queen tetap dengan keras kepalanya tak menyambut uluran tangan Evan." Sepertinya istri kecilku ini lebih suka di paksa."
"Dasar pria menyebalkan, pemaksa! aku mau cerai." teriak Queen, merasa frustasi dengan keadaannya sekarang.