
"Kalian dimana?" Tanya Indra, begitu panggilan grub itu dijawab oleh ketiga sahabatnya yang ada di seberang sana.
"Aku baru keluar kelas, ada apa? Tumben banget telpon grub, biasanya juga satu-satu." Sahut Nat, gadis itu terlihat sedang berjalan di koridor, Indra bahkan bisa melihat para mahasiswa yang ia lewati.
"Justru itu, aku telpon kalian! Malas telpon satu-satu." Ujar Indra, membuat Tommy dan Chika ikut penasaran.
"Ada apa sih?" Tanya Tommy.
"Tau nih! Langsung aja, nggak usah buat orang penasaran gitu." Chika pun turut bersuara.
"Oke gini ya! Kalian ada mata kuliah lagi nggak." Ketiganya kompak mengeleng kepala." Ya udah langsung kesini aja! Nanti aku cerita."
"Emangnya kamu dimana?" Tanya Nat.
"Di apartemen sepupu aku, untuk lebih jelasnya nanti aku sharelok ya."
Bukannya menjawab, Nat malah bertanya lagi. " Sebenarnya ada apa sih ndra! Kenapa juga pakai sharelok segala, kamu udah telpon kita ya udah langsung ngomong aja." Indra mendengkus, tanpa menjawab ia langsung mengalihkan kamera ponselnya hingga ketiganya bisa melihat seseorang yang sedang tertidur disofa itu.
Karena posisi Queen yang tidur menyamping dengan wajah menghadap sandaran kursi, membuat ketiganya tidak dapat mengenali wajah gadis itu.
"Dia siapa? Sepupu kamu?" Suara cempreng Chika membuat Indra semakin kesal.
"Masa kalian nggak kenal teman sendiri, dia ini Anara."
"Haah, serius."
Indra mengangguk! " Ya udah kesini aja! Nggak usah banyak tanya dan jangan lupa bawah makan buat dia." Setelah mengatakan itu, Indra langsung mengakhiri panggilan itu secara sepihak, bersamaan dengan pintu kamar Delvika terbuka dan keluarlah siempunya apartemen.
"Dihh, udah mandi nih! Mau kemana neng." Tanya Indra sengaja menggoda sepupunya itu.
Sementara Delvika memutar bola matanya malas," Emangnya ada tulisan di jidat aku kalau mandi itu udah pasti mau keluar gitu, dasar aneh." Ucapnya.
"Nggak sih tapi biasanya-kan gitu." Habis sudah kesabaran Vika yang setipis tipu itu menanggapi gurauan sepupunya.
"Sia-lan ya kamu Ndra, mending kamu keluar dari apartemen aku, sebelum aku panggil security buat ngusir kamu." Vika terlihat serius namun Indra tidak begitu menanggapinya." Sana keluar, kenapa masih diam aja." Sentak Vika, karena pemuda itu tak kunjung beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu serius usir aku! Aku laporin Tante nih ya." Ia meraih ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di atas meja setelah menghubungi sahabat-sahabatnya.
"Iya-iya." Indra pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian meninggalkan Queen dengan Vika.
\=\=\=\=\=\=
Ditempat lain, Evan yang baru kembali usai meeting begitu terkejut saat mendapati kamarnya berantakan dan Queen tidak berada dikamarnya.
"Paman Ben." Suara teriakan terdengar begitu mengelegar diruangan itu, bahkan suaranya terdengar sampai ke lantai bawah.
Paman Ben yang merasa namanya dipanggil langsung bergegas menghampiri tuanya sebelum pria itu mengulang dua kali. " Iya tuan." Jawabannya sembari menunduk, dalam benaknya lelaki paruh baya itu bertanya-tanya, apa yang dilakukan majikan perempuannya itu hingga tuannya bisa se-marah ini.
"Dimana Queen?" Mendapat pertanyaan itu, Paman Ben langsung menaikkan pandangannya untuk melihat kedalam kamar.
"Apa yang terjadi tuan, kenapa_"
"Harusnya saya yang bertanya seperti itu bukan sebaliknya." Bentak Evan, paman langsung terdiam.
"Maaf tuan, saya benar-benar tidak tahu dimana non Queen! Dia tidak keluar kamar sejak tadi."
Mendengar penjelasan paman Ben, Evan langsung mengecek kedalam kamar mandi dan balkon. " Sial, lagi Queen." Geramnya dengan tangan terkepal ketika melihat tirai yang Queen gunakan untuk turun masih terikat di tempatnya.
"Kumpulan semua penjaga yang ditugaskan untuk berjaga di bawah."Evan benar-benar dikuasai emosinya saat ini dan untuk kali ini dia akan benar-benar menghukum gadis itu, agar Queen benar-benar jera dan tidak mengulanginya lagi.
Paman Ben mengumpulkan semua penjaga sesuai keinginan tuanya. Tak butuh waktu lama, lima orang pria berbadan kekar yang ditugaskan untuk menjaga agar Queen tak kabur sudah berbaris rapi menunggu sang tuan.
Tak lama Evan pun datang, setelah menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan Queen."Apa yang kalian lakukan?" Tanya pria itu dengan tatapan dingin, sembari mengulung lengan kemejanya.
BRUK, BRUK, BRUK.
Belum sempat Meraka menjawab, tubuh mereka sudah lebih dulu dijadikan Samsak. Evan memukul, menendang mereka dengan sesuka hati tanpa belas kasih sedikit pun bahkan ia tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaan.
Evan baru berhenti setelah kelima pria itu tergeletak tak berdaya dilantai dengan wajah yang babak belur, sungguh pria tak berhati. " Kalian di pecat." Ucapnya kemudian meninggal mereka begitu saja, siap suruh mereka gagal dalam bertugas. Hanya menjaga seorang wanita saja mereka tidak becus, sungguh memalukan.