My Queen

My Queen
Istri sang Tuan



Pria itu adalah Evan dan ini merupakan pertemuan kedua mereka. " Kamu akan mendapatkannya sayang." Ucap pria itu sembari mengusap kepala keponakannya, lalu menatap penuh permusuhan Gadis di depannya, gadis yang beberapa hari lalu telah berani memukulnya.


Di tatap seperti itu tidak membuat seorang Queen gentar, bahkan ia balik menatap tajam pria di hadapannya itu, berbanding terbalik dengan kedua sahabatnya yang sudah pucat sembari menggenggam tangan satunya sama lain untuk saling menguatkan dan berdoa semoga tidak ada masalah yang menimpah mereka setelah ini.


"Kenapa diam! Cepat bungkus itu untuk keponakan saya." Bentak Evan pada pelayan itu.


"Baik tuan, mohon tunggu sebent_"


"Tidak, saya menginginkan dress ini dan saya sudah lebih dulu memintanya, kamu harus membungkus dress itu untuk saya." Queen meletakkan Kartu tanpa batasnya pada lengan sang pelayan dan mendorongnya untuk segera membungkus dress itu, namun suara Evan membuat pelayan itu ragu.


"Saya tidak akan meminta dua kali, kamu tahu siapa saya dan apa yang bisa saya lakukan di sini." Ucapnya penuh penekanan.


"Maaf mbak, saya tidak bisa menerima kartu mbak, pelayan itu segera mengembalikan kartu Queen." Sebaiknya anda belanja di toko lain." Lanjutnya mengusir gadis itu.


" Kenapa? Apa karena dia. Memangnya apa kelebihan dia? Bukankah kita sama-sama manusia biasa, jadi kenapa anda begitu takut kepadanya." Tanya Queen sembari melipat tangannya di dada dan menatap tak suka pria itu.


"Ara, kita pergi yuk." Ucap Chika, pelan sembari menarik tangan sahabatnya.


" Iya Ara! Ayok kita cari di tempat lain." Nat pun turut menimpali dan tidak berani menatap kepada tuan Sagara.


"Iya sana, bawah teman kalian pergi! Rakyat jelata aja sombong. Pasti dia hanya simpanan-kan?" Di Katai seperti itu tentu saja Queen tidak akan terima.


"Simpanan kamu bilang! Hai buka mata kamu, kamu mengatai siapa? Kamu saja bergelantungan di tangan om-om itu, mau ngatain saya. Bahkan kalau saya mau saya bisa membeli kalian berdua, tidak perlu menjadi simpanan seperti yang kamu lakukan ini, cih memalukan." Rahang Evan mengeras karena ucapan wanita di hadapannya itu dan untuk pertama kalinya ada yang berani kurang ajar seperti ini.


"Kalau kamu mau dress itu silahkan ambil." Ucap Queen kepada keponakan Evan." Ini mbak pakai kartu saya dan berikan gaun itu kepadanya agar penampilannya tidak memalukan saat bersama papa madunya." Lanjutnya menekan kata papa madu.


"Jangan kurang ajar ya kamu! Dia ini paman saya." Wanita itu mencoba membela dirinya sementara sang pelayan itu sudah ke meja kasir untuk membungkus gaun itu sembari membawa kartu Queen.


" Oh ya! Nggak nanya? Mau dia paman kamu kek pelayan kamu, selingkuhan kamu bodoh amat." Queen langsung berlalu dari hadapan wanita itu menyusul sang kasir untuk mengambil kartu itu.


Sementara Evan, memejamkan matanya sembari mengepalkan tangannya yang berada dalam saku celananya.


Sungguh pria itu sangat-sangat marah saat ini dan siap menghancurkan siapa saja. Namun belum reda emosinya! Ia merasa sesuatu yang dingin di dada dan begitu membuka matanya, ia mendapati Queen sedang memegang gelas bobo yang isinya sudah berpindah kepada Evan.


"Itu untuk mendinginkan kesombongan anda. Tidak perlu berterima kasih saya ikhlas melakukannya." Setelah mengatakan itu Queen berbalik untuk pergi dari sana, tapi tangannya tiba-tiba di tarik dan tubuhnya tiba-tiba di hempasan pada tembok dan rahangnya diremas dengan begitu kuatnya.


"Wanita si_alan! Aku akui keberanian kamu itu tapi aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkan kamu jika kamu sampai menunjukkan batang hidung kamu di depanku setelah ini." Tegas Evan. Entah mengapa pria itu masih mentolerir Queen, padahal sebelum-sebelumnya ia langsung menyingkirkan mereka tidak peduli laki-laki atau perempuan, tanpa memberikan mereka kesempatan seperti ini.


"Ke-napa apa aku cuma mena-rik dim-ata anda? Tuan som-bong yang ter-hormat." Ucap Queen dengan terbata-bata, karena Evan semakin kuat mencengkram rahangnya.


"CK, bahkan kamu telanjang sekalipun tidak akan membuat aku bernaf-su padamu." Ucap Evan, sembari menghempaskan tubuh Queen hingga wanita itu terduduk dilantai.


"Tidak, Nat siapa dia berani memperlakukan aku dan menghinaku seperti itu."


"Ara, ayok jangan seperti ini." Chika dan Nat langsung menyeret gadis itu pergi dan sana tidak peduli Queen yang terus meronta-ronta minta di lepaskan.


...\=\=\=\=\=\=\=...


"Sudah lebih baik" tanya Nat, saat ini mereka sedang berada di depan rumah Anara, tadi setelah dari mall, Nat langsung memutuskan untuk pulang dan mengantar Anara, setelah Anara memberi tahu alamat Rumahnya.


"Aku masih kesal Nat! Aku ingin membalas pria menyebalkan itu." Ucap Queen dengan menggebu-gebu." Kenapa kalian mencegah aku.


"Kita melakukan itu karena pria itu bukan orang sembarangan yang bisa kamu usik dan wanita tadi itu benar keponakannya. Tapi kamu berani berkata seperti itu kepada mereka." Sahut Nat.


"Aku tidak peduli, lagian aku tidak akan melakukan itu, kalau keponakannya tidak memulainya lebih dulu." Nat menarik nafas gusar, susah kalau menjelaskan kepada Anara di saat wanita itu meyakini dirinya benar.


"Yah aku tahu, tapi dia itu tuan Sagara, kamu salah kalau mengusik dia."


"Iya Ara, Chika dan Nat lakukan itu untuk melindungi Ara, kita nggak mau kehilangan Ara." Chika pun turut menimpali ucapan Nat.


"Terima kasih, kalian berdua adalah sahabat aku yang terbaik. Aku sayang kalian." Antara yang ingin protes pada akhirnya luluh dengan tatapan Chika dan Nat, kedua wanita itu benar-benar sayang dan takut Anara kenapa-kenapa.


"Kita juga sayang sama Ara." Ucap Chika dan Nat berbarengan, lalu mereka pun berpelukan walaupun Chika sedikit kesulitan karena dia berada di jok belakang.


"Ya udah kamu turun gih! Paman Ben dan yang lainnya pasti udah nungguin kamu." Pinta Nat, langsung diangguki oleh Anara. "Besok mau aku jemput?" Tanya Nat lagi, saat wanita itu telah berada di luar dan kini Chika berpindah tempat duduk ke depan.


"Nggak usah, besok aku sendiri aja." Tolak Ara. Setelah itu Nat pun meneruskan perjalanannya untuk mengantar Chika.


Begitu mobil sahabatnya itu menjauh, Anara langsung melangkah masuk kedalam rumahnya.


Sementara itu di tempat lain, Evan harus kembali ke mansionnya untuk menganti pakaiannya, karena ia memiliki janji makan malam dengan kliennya.


Di mansion besar itu Evan hanya tinggal sendiri, ditemani pelayan dan pengawal pribadinya yang berjaga di mansion itu.


"Tuan_"


"DIAM. Jangan menganggu aku." Potong Evan sebelum pria yang menjabat sebagai asistennya itu menyampaikan maksudnya.


Padahal dia hanya ingin memberitahu tentang notip dari kartu yang di berikan untuk Anara. Bukannya apa, sang asisten itu tahu jika Queen dilarang keluar rumah tapi dia justru berada di mall malam hari.


Sebab Pria itu juga sudah tahu siapa gadis yang memukul tuanya dan yang tadi berdebat dengan tuanya, Dia Queen Anara ratu, sekaligus istri sang tuan. untuk itu dia mencegah para pengawal tuanya yang ingin menyeret Anara tadi.