My Queen

My Queen
Gadis menyebalkan



Queen menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berat! Baru seujung kuku ia merasa kebebasan kini pria itu sudah menemukannya.


"Aku nggak mau pulang, aku mau disini aku nggak butuh kamu berserta harta-harta kamu itu, aku bisa hidup mandiri." Teriak Queen.


Wanita itu terus memberontak saat ditarik orang-orang suruhan Evan, kehadapan pria yang tengah duduk di atas kap mobilnya sembari menatap penuh ejekan kepada Queen.


"Harusnya, kamu katakan itu kepada kakek kamu, saat kamu ditawarkan untuk menikah dengan aku." Sahut Evan dengan suara dingin jangan lupa tatapan mengintimidasinya, membuat Queen kesulitan hanya untuk sekedar menelan saliva-nya.


Queen terdiam, saat itu dia tidak ingin mengecewakan kakek, untuk itu dia menerima saja saat diminta menikah dengan lelaki dihadapannya ini.


Evan beranjak turun dari kap mobilnya, menghampiri Queen lalu mencengkram kedua pundak Queen, sedikit menunduk." Aku merawat kamu dengan baik, memberikan semua fasilitas terbaik, membuat kamu nyaman berada di rumah itu, bukan untuk melihat kamu menjadi wanita pembangkang seperti ini. Kamu itu hanya gadis miskin, tanpa aku dan kakekku kamu tidak lebih dari gembel dijalan. Sekarang masuk mobil." Titah Evan dengan sedikit menyeret tubuh Queen lalu menghempaskan-nya kedalam mobil setelah ia membuka pintu mobil itu.


Evan ikut masuk kedalam mobil dan memerintah supirnya untuk segera pergi dari sana.


Sementara Queen hanya bisa terdiam sembari menahan nyeri di dada, sakit hati tentu saja walaupun apa yang diucapkan Evan itu benar adanya.


Namun sebagai manusia yang punya hati tentu saja ia dapat merasakan hal menyakinkan itu.


Tidak cukup dengan hanya mengatai Queen, pria dengan mini ekspresi itu juga telah menyiapkan sesuatu untuk menghukum gadis pembangkangan-nya itu.


Selama perjalanan pulang Queen hanya diam, sementara lelaki disamping tengah fokus dengan benda pipi ditangannya mengirim pesan untuk seseorang.


Dan begitu mendapatkan balasan, sudut bibir Evan langsung tertarik keatas membentuk sebuah senyuman, lalu melirik sekilas kepada istrinya.


Tak lama berselang, mobil itu memasuki pekarangan rumah yang selama ini ditempati oleh Queen.


Begitu mobil benar-benar berhenti Queen langsung keluar tanpa menunggu dibukakan pintu oleh supir.


Ia menutup pintu mobil itu dengan begitu kerasnya hingga membuat sang supir mengusap dadanya. "Dasar gadis pembangkang." Gumam Evan.


Ia melangkah keluar setelah dibukakan pintu, melangkah masuk kedalam rumah.


Paman Ben berdiri didepan pintu, menyambut kedatangan tuannya itu." Dimana dia?" Tanya Evan sembari terus melangkah disusul paman Ben dibelakangnya.


"Nona Queen langsung berlari masuk kedalam kamar tuan." Jawab paman Ben.


"Panggil." Titahnya. Lalu mendaratkan bokongnya pada sofa single yang ada di ruangan tamu itu.


Sedangkan paman Ben, berlalu ke kamar Queen, memanggil gadis itu.


Tok ... tok...


"Siapa?" Tanya Queen dari dalam sana. Suara wanita itu terdengar serak layaknya orang yang sedang menangis.


"Paman Ben non! Non ditunggu tuan dibawah." Jawab paman Ben.


"Katakan pada tuan paman itu aku nggak mau." Tolaknya.


Tok... Tok...


"Non, jangan melawan non! Sebaiknya non turun, tuan bakalan marah kalau non terus seperti ini." Paman tidak ingin Queen terkena masalah untuk itu dia terus membujuk Queen sayangnya sifat wanita itu sama kerasnya seperti tuanya, jika sudah mengatakan tidak maka ia akan tetap berkata tidak membuat mereka yang hanya pekerja kesulitan menghadapi tingkah para majikan.