My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 28



Di Inggris


Davina dan Gavin menikmati waktunya berdua. Walaupun mereka masih ada rasa canggung antara satu sama lain. Namun mereka sudah lebih akrab. Gavin berjalan mendekat ke arah Davina.


"Gue mau mandi dulu, kalau elo mau sesuatu teriak aja. Nanti gue bakal mandi cepet. Jangan turun sendiri!" Pesan Gavin.


"Iya, bawel banget, Lo. Sekarang sana mandi bau tau nggak." Ucap Davina.


Gavin langsung menuju ke arah kamar mandi. Ia berusaha secepat mungkin untuk mandi, supaya Davina tidak kelamaan menunggu. Sedangkan Davina ia memilih menonton TV untuk mengurangi rasa bosannya.


Selang 20 menit, Gavin telah selesai mandi. Tidak lupa ia juga mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat Ashar. Dia melihat ke arah brankar Davina, ternyata gadis cantik itu tertidur karena bosan. Gavin mengulas senyumnya, ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Davina karena kasihan melihat gadis itu tidur sangat nyenyak.


Setelah puas melihat Davina yang tertidur, ia mengambil peralatan shalat nya yang tersimpan rapi di almari yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Gavin melakukan shalat dengan khusyuk dan khitmad. Seusai shalat Gavin berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah serangkaian shalat dilaksanakan, Gavin menyimpan peralatannya kembali.


Ia mengambil duduk di samping Davina. Ia mengusap tangan Davina perlahan, dan membangunkan Davina supaya mau bangun dan melakukan shalat Ashar terlebih dahulu.


"Vina, bangun dulu. Kamu harus shalat Ashar, sebentar lagi waktunya udah mau habis. Nanti di lanjutin lagi tidurnya." Kata Gavin dengan lembut.


Davina mengerjakan matanya, pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah Gavin yang sedang tersenyum kepadanya. Davina langsung mendudukkan dirinya dengan dibantu oleh Gavin. Davina mengusap matanya yang gatal secara perlahan supaya tidak lecet.


"Ini udah masuk Ashar, ya?" Tanya Davina.


"Bukan udah masuk, tapi udah mau habis waktunya. Elo tidurnya terlalu nyenyak." Jawab Gavin.


"Kenapa nggak mbangunin? Harusnya elo mbangunin gue tadi. Gimana sih, Lo." Omel Davina.


"Ya udah sekarang tayamum gue ambilin mukena punya, elo dulu." Titah Gavin.


Davina melakukan tayamum. Karena dia belum bisa berdiri dengan seimbang. Dia bersyukur karena ada Gavin yang selalu mengingatkannya untuk shalat dan menuntunnya ke jalan Tuhan yang benar.


"Elo udah shalat apa belum?" Tanya Davina.


Gavin hanya mengangguk sambil memberikan mukena milik Davina. Setelah itu ia duduk di sofa dan membuka laptopnya. Sembari menunggu Davina selesai shalat, ia berinisiatif untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Seusai shalat Davina membuka mukenanya dan memanggil Gavin untuk meletakkan di tempat semula. Gavin langsung meletakkan mukena itu di tempat yang sama dengan peralatan shalatnya.


"Boleh aja, mau tanya apa emang?" Jawab Gavin.


"Selama gue koma, sekolah gue gimana? Apa udah banyak materi?" Tanyanya.


"Selama elo koma, pihak sekolah hanya kepala sekolah dan guru-guru yang tahu. Dan mereka nggak masalah, lagi pula elo kan pinter. Kan aslinya elo itu IQ nya sama kayak anak lulus kuliah." Ucap Gavin.


"Emang IQ elo nggak tinggi apa? Kata Papa IQ elo itu melebihi gue. Seharusnya elo itu udah kuliah malahan udah jadi direktur." Kata Davina.


"Berarti nanti kalau kita punya anak, IQ anak kita bakalan tinggi. Kan nurun dari Mommy sama Daddy-nya." Canda Gavin.


"Heh, ngapain ngomongin anak. Siap yang mau punya anak? Gue belum mau punya anak, gue pengen punya anak kalau nanti gue udah lulus kuliah dan udah sarjana." Balas Davina.


"Ye, sebentar lagi kita kan nikah. Ya kali kita nggak punya anak, nanti disangka kita nikah karna terpaksa lagi. Lagi pula keluarga kita mesti mau punya keturunan dari kita. Apalagi ini yang pertama buat keluarga Rafisqy sama Ailen." Jelas Gavin.


"Iya gue tahu, tapi gue belum siap. Gue takut nggak bisa jadi istri sama Mommy yang baik buat anak-anak dan keluarga kita nanti." Ucap Davina dengan nada lesu.


"Kita itu bakalan jadi keluarga, jadi kita lewati dan belajar sama-sama. Kan kita belum berpengalaman berkeluarga." Kata Gavin.


Davina menarik tubuh Gavin supaya mendekat kepadanya. Davina meletakkan tangannya di pinggang Gavin. Ia memeluk tubuh Gavin dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di perut Gavin. Gavin hanya tersenyum mendapat perlakuan Davina, ia membelai rambut Davina sayang. Tapi, ia merasakan bahwa baju yang di pakainya basah. Gavin menarik tubuh Davina, supaya dia melihat wajah Davina.


"Kamu kenapa nangis, ada yang sakit? Atau aku tadi ada salah ngomong sama kamu?" Tanya Gavin heran.


Davina kembali memeluknya dengan erat ia tidak mau melepaskan Gavin. Ia malu karena telah cengeng di depan Gavin, padahal ia tahu bukan hanya sekali Gavin melihatnya menangis. Gavin membiarkan Davina mencurahkan hatinya dan menceritakan semuanya.


"Vin, makasih udah mau jadi calon suami aku. Kamu udah jadi yang terbaik, aku nggak nyangka kamu bakalan Nerima perjodohan ini. Aku ini cewek kulkas, nggak suka keramaian. Mementingkan pekerjaan daripada kesehatan sendiri. Tapi, sejak sama kamu aku tahu betapa pentingnya kita harus menjaga kesehatan. Makasih banyak Gavin Faresta Rafisqy." Ucap Davina dengan terisak.


"Ini udah janji aku sama Papa kamu, aku janji sama beliau bahwa aku ingin menjaga dan melindungi kamu dari marabahaya. Tapi kemarin aku gagal ngelindungi kamu. Buktinya kamu tertembak karena aku, seharusnya aku yang terbaring lemah di sini. Sebentar lagi kamu akan menyandang gelar Rafisqy dan akan menjadi nyonya muda Gavin." Kata Gavin.


Mereka berpelukan sampai azan Maghrib berkumandang, walaupun mayoritas orang Nasrani, namun tidak semuanya pegawai menganut agama Nasrani. Mereka juga ada yang beragama Islam karena bersal dari negara Timur Tengah. Gavin melepaskan pelukan tersebut dan mengecup dahi Davina lama. Setelah itu, ia pergi mengambil air wudhu sedangkan Davina melakukan tayamum. Mereka memutuskan untuk shalat berjamaah dengan Gavin menjadi imamnya.


Mereka berdua melaksanakan shalat berjamaah dengan tenang. Seusai shalat, Davina tidak mencium tangan Gavin karena mereka belum muhrim. Nanti jika sudah sah maka boleh.