
"Awassss..."
Trriakan seorang wanita cantik menggelegar di gedung tua tersebut sebelum terjadi.....
Dorrrrr....( ibaratkan itu suara pistol ya readers 😁 )
Wanita yang tadinya berteriak seketika tersungkur di tanah. Gavin yang melihat hal tersebut langsung membulatkan matanya, badannya terasa lemas dan tubuhnya tidak memiliki tenaga saat melihat wanita yang menyelamatkannya tertembak dan badannya berlumur darah. Ya, wanita yang tertembak adalah Davina sang calon istri. Tidak jauh berbeda dari Gavin, Varel pun kaget melihat hal tersebut. Ia tidak menyangka telah menembak Davina, orang yang paling ia inginkan selama ini.
Gavin langsung menunduk dan memeluk Davina
"Vina, kenapa kamu melakukan hal ini semua? Seharusnya aku yang ada di posisi kamu sekarang. Akulah yang harusnya tertembak bukannya kamu. Maafkan aku telah lalai menjagamu. Aku salah, tolong maafkan aku, Vina." Gavin menangis tersedu-sedu. Setelah ia menatap sang pujaan hati. Gavin melihat seorang yang telah menembak Davina dengan raut muka membunuh.
"Kau harus membayar perbuatanmu terhadap Davina. Kau harus mati sekarang juga. Aku tidak sudi melihat orang seperti kau hidup di dunia ini." Emosi Gavin memuncak ia segera memerintahkan pengawalnya yang ada di luar untuk membawa Varel ke markas Black Fire.
Setelah sebagian pengawalnya pergi, Gavin mengangkat tubuh Davina yang sudah terkulai lemas. Ia menyuruh salah satu pengawalnya untuk menyetir mobilnya.
Dalam perjalanan Gavin tidak hentinya menangis. Ia tidak tega melihat calon istrinya terkulai lemas dan tidak bertenaga. Davina yang masih setengah sadar mencoba mengangkat tangannya untuk memegang pipi Gavin.
"Gavin, kau tidak usah menangis ini semua bukan salahmu. Ini semua adalah takdir Tuhan yang telah ia rencanakan. Vin, kamu jangan melupakan kenangan kita, walau kenangan kita tidak banyak. Tetapi, aku mohon kamu jangan melupakannya. Dulu pertemuan kita tidak seakrab saat ini namun saat perpisahan telah tiba kita harus membuatnya segembiraungkin. Karena jika tidak gembira maka yang akan meninggalkan tidak akan bahagia. Suatu pertemuan pasti akan ada perpisahan. Setiap akhir cerita cinta kita, pasti ada lembaran cinta yang baru. Tidak ada kalimat yang pantas di ucapkan untuk perpisahan ini, karena perpisahan ini terlalu manis buatku. Vin, tolong jaga Mama, Papa, dan Daniel untukku mereka adalah orang aku sayangi. Kamu jaga mereka seperti kamu menjaga keluarga kamu. Permata yang paling indah adalah keluarga, mereka yang pertama merawatku, mengajariku berbagai hal baru. Saat aku pergi, kamu cari pengganti wanita yang tulus mencintai kamu apa adanya dan tidak memandang harta kamu. Aku adalah wanita yang tidak sempurna, aku memiliki banyak kekurangan. Maafkan aku jika selama ini aku tidak pernah memperhatikan kamu. Aku memang tidak pantas untuk kamu. Tapi pada lubuk hati yang paling dalam aku sangat mencintaimu Gavin. Itu pesan terakhirku, aku harus pergi. Jangan menangis jika tidak aku tidak akan senang saat pergi." Ucap Davina dengan suara paraunya.
Gavin hanya menggelengkan kepalanya. Ia belum siap jika harus kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kamu akan selau di sampingku menjadi istri dan juga ibu dari anak-anakku. Hurry up a little! (Cepatlah sedikit! )" Gavin memerintahkan pengawalnya untuk menyetir mobil sedikit cepat. Tujuan mereka adalah rumah sakit milik keluarga Ailen, karena rumah sakit tersebut yang paling dekat. Tidak lupa Gavin juga memerintahkan pengawalnya untuk menghubungi keluarganya dan keluarga Davina.
"Sorry Mr Gavin. You have to wait outside, we will tell you when the doctor has finished examining Mrs Davina. This is the rule in this hospital. ( Maaf tuan Gavin. Anda harus menunggu diluar, nanti kami akan memberikan kabarnya saat dokter telah selesai memeriksa nyonya Davina. Ini sudah aturan di rumah sakit ini )" kata suster tersebut dengan ramah.
Gavin terduduk lesu di depan ruang IGD. Disaat ia menunggu Davina Tuan dan Nyonya dari keluarga Ailen dan Rafisqy datang. Mereka langsung menghampiri Gavin
"Gavin, bagaimana keadaan Davina?" tanya Papa Kenan. Gavin menggeleng lesu. Daddy Samuel yang melihat sang anak terpuruk langsung memeluknya
"Jika kau ingin menangis, maka menagislah jangan dipendam. Daddy tahu perasaan kamu saat ini." Ucap Daddy Samuel sebari memeluk Gavin.
Di dalam pelukan sang Ayah, Gavin menangis tersedu-sedu hingga semua yang melihat hal tersebut terharu. Kedua orang tua Davina semakin yakin akan ketulusan cinta Gavin kepada Davina. Dirasa sudah sedikit tenang. Gavin menghampiri kedua orang tua Davina.
" Mama, Papa maafkan Gavin karena tidak bisa menjaga Davina dengan benar. Seharusnya yang tertembak adalah Gavin bukan Davina. Gavin tidak pantas menjadi suami Davina, Ma, Pa. Jika kalian mau memukul Gavin silahkan aku rela. Asalkan Mama dan Papa tidak memisahkan Gavin dengan Davina. Aku tidak bisa jauh dengan Davina." Gavin berlutut di depan Papa Kenan dan Mama Vita.
Mama Vita yang melihat itupun langsung menyuruh Gavin untuk berdiri. Disaat sudah berdiri Mama Vita langsung memeluk Gavin erat.
"Ini semua bukan salah kamu. Ini adalah takdir. Kamu tidak perlu khawatir, Davina gadis yang kuat. Dia pasti bisa melewati ini dengan kuat." Kata Mama Vita sambil menenangkan Gavin. Ia sudah menganggap Gavin sebagai anak lelakinya juga.
Ketika mereka tengah menenangkan Gavin yang tengah menangis. Tiba-tiba suara pintu IGD terbuka menampilkan dokter yang sudah sedikit tua.
"How is my daughter's condition doctor? ( Bagaimana keadaan putri saya dokter? )" tanya Papa Kenan.
"Mrs Davina's current state ... ( Keadaan nyonya Davina saat ini...... )"