My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 26



"Jangan memasang wajah seperti itu." Ucap Gavin.


"Memangnya kenapa? Ini wajahku kamu nggak ada hak buat ngatur wajah ini." Jawab Davina dengan nada kesal.


Mereka saling menatap tajam satu sama lain. Gavin mendekatkan wajahnya ke wajah Davina. Ia yang melihat wajah Gavin mendekat langsung memundurkan wajahnya. Ia tidak mau menatap manik mata milik Gavin yang membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


Saat hidung mereka hampir menempel, Davina menahan dada Gavin dan mendorongnya pelan.


"Mau apa kamu? Tidak boleh menciumiku ataupun menyentuh wajah cantikku ini. Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk perawatan wajahku yang putih dan mulus. Jadi jangan merusaknya, jika kamu merusaknya kamu harus membayar semua biaya aku perawatan!" Ancam Davina.


"Hey Nona Muda, kau pikir aku tidak mampu membayar perawatan mu. Uangku tidak akan berkurang cuma buat perawatan kamu. Aku bisa saja membelikan tempat perawatan kecantikannya sekaligus." Sombong Gavin.


"Baiklah, coba buktikan jika kamu mampu membelikan ku tempat perawatan kecantikan." Tantang Davina.


"Siap, aku akan menelpon asisten ku untuk mencarikan tempat kecantikan yang terbaik dan menemui pemiliknya untuk dibeli!" Ucap Gavin sambil memegang telponnya.


"Aku hanya bercanda, Vin. Jangan anggap candaan ini serius. Aku tidak mungkin meminta tempat kecantikan." Kata Davina.


"Jadi, kau hanya bercanda. Dasar kau ini, sepertinya aku harus memberinya hukuman." Ucap Gavin dengan senyum devilnya.


"Apa maksud dari senyummu itu Tuan Muda Rafisqy?" Tanya Davina.


"Kenapa perasaan ku tidak enak." Gumam Davina dalam hati.


Gavin kembali mendekatkan wajahnya ke depan wajah Davina. Ia menempelkan hidungnya ke hidung milih Davina. Tangan nya menumpu pada tempat tidur yang sedang ditempati oleh Davina. Perlahan ia mendekatkan bibirnya kepada bibir milik Davina yang berwarna merah muda dan mungil. Davina yang melihat hal tersebut hanya menutup matanya. Ia tidak berani menatap mata milik Gavin yang berwarna hitam. Bibir mereka telah menyatu, Davina masih menutup mulutnya dengan rapat. Gavin yang menyadari hal itu memberikan gigitan kecil, sampai akhirnya bibir mungil tersebut terbuka. Sehingga memberi peluang untuk lidahnya masuk.


Tangan kekar milik Gavin tidak tinggal diam, ia menekan tengkuk milik Davina. Dan entar sejak kapan tangan Davina sudah melingkar di leher milik Gavin. Mereka menikmati setiap ciuman yang mereka berikan. Perlahan Gavin mendorong tubuh Davina untuk terbaring. Mereka serasa sedang dirasuki oleh setan pemabuk asmara.


Pintu ruangan terbuka dengan tiba-tiba. Menampakkan dua orang perempuan yang cantik walaupun usia mereka tidak lagi muda. Mereka membulatkan mata mereka dengan lebar, karena melihat adegan kedua putra putri mereka.


"Gavin, apa yang kamu lakukan? Kalian belum menikah." Kata Mommy Aurel.


Mereka berdua yang mendengar teriakan Mommy Aurel langsung melepaskan ciuman mereka. Serempak menoleh ke arah suara. Gavin tampak biasa saja, sedangkan Davina sudah memerah pipinya.


"Kapan Mommy dan Mama datang. Kenapa kita tidak mendengar suara ketukan pintu?" Tanya Gavin.


"Kita sudah mengetuk pintu ini berulang kali. Namun tidak ada jawaban. Lalu kita memutuskan untuk masuk, ternya penghuni ruangan ini sedang bermesraan." Goda Mama Vita.


"Ma, jangan godain Vina. Aku malu." Ucap Davina sambil menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


Mereka yang melihat hal tersebut tersenyum. Mama Vita dan Mommy Aurel bersyukur karena anak-anak mereka sudah kembali tersenyum. Karena sejak mereka gagal menjalin hubungan asmara dengan kekasih mereka yang dulu. Kehidupannya menjadi tertutup dan jarang sekali bercanda dan tertawa lepas.


"Sudah-sudah, apa Dokter Grace sudah datang memeriksa Davina?" Tanya Mama Vita.


"Sudah, Ma. Dokter Grace sudah datang. Kata dokter Davina boleh pulang dua sampai tiga hari lagi." Jawab Gavin.


"Kamu jangan ngeyel, kalau dokter bilang dua atau tiga hari lagi ya turuti. Soal sekolah kamu bisa mengikutinya lagi besok." Kata Mama Vita.


Davina hanya mengangguk pasrah, mendengar apa yang Mamanya katakan.


"Vina, Mama sama yang lainnya mau pamit pulang dulu ke Indo. Kamu nanti nyusul sama Gavin ya. Oh iya, pernikahan kalian akan diadakan saat kalian nanti sudah lulus. Jadi kamu Gavin jangan macam-macam sama Davina!" Peringat Mama Vita.


"Kenapa tidak di laksanakan setelah Davina pulang?" Tanya Gavin.


"Karena perusahaan di Indo lagi bermasalah." Kata Papa Kenan tiba-tiba.


"Iya, kamu jangan ngebet mau mau nikah. Ingat fokus mau ujian dulu!" Pesan Daddy Samuel.


"Kalau begitu kita berangkat dulu. Gavin jagain Davina yang bener. Jangan sampai dia kenapa-napa, kalau sampai Davina terluka awas aja kamu." Pesan Mommy Aurel.


Setelah berpamitan kepada kedua anaknya mereka pergi ke bandara. Di sana sudah ada pesawat jet pribadi yang menunggu. Tidak lupa Daniel dan Grisel yang sudah menunggu mereka. Saat mereka masuk, semua tatapan penumpang tertuju pada mereka.


style Daddy Samuel



style Mommy Aurel



style Grisel



style Papa Kenan



style Mama Vita



style Daniel



"Lihatlah semua orang sangat kagum dengan ketampananku