
Suara kicauan burung di pagi hari telah membangunkan seorang lelaki tampan dan gagah. Dia adalah Gavin yang sedang menyesuaikan mata dengan cahaya. Terlihat raut muka sedih yang terukir di muka Gavin. Karena pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah tubuh seorang perempuan yang dicintainya terbaring lemah dan tertidur pulas.
"Selamat pagi, Davina. Apakah kamu memimpikan aku tadi malam?" Sapanya.
Tidak ada tanda-tanda Davina akan bangun. Gavin tetap setia menemani Davina.
Saat tengah memandang wajah Davina, pintu ruangan tersebut terbuka. Menampakkan Daniel yang membawa paper bag di tangannya.
"Kak, mandilah dahulu. Aku sudah membawakan kakak baju dan sarapan." Perintah Daniel. Gavin tidak merespon. Dia terus memandangi wajah Davina. Daniel yang melihat hal tersebut menjadi iba. Ia tidak tega melihat calon kakak iparnya sedih dan mata yang membengkak karena terus menangis.
"Sudah, Kak. Kita tidak perlu bersedih, teruslah berdoa dan memohon kepada Allah untuk kesadaran Kak Davina. Sekarang Kakak mandi dahulu setelah itu kita sarapan bersama. Biar Daniel yang jaga Kak Davina selama Kak Gavin membersihkan diri." Ucap Daniel sembari menyerahkan paper bag yang tadi dia bawa. Gavin hanya menganggukkan kepala dengan lemas. Rasanya dia tidak bisa pergi dari samping Davina. Ia berjalan dengan gontai menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut.
Saat Gavin sudah masuk kamar mandi, Daniel duduk di samping brankar Davina. Dia menggenggam tangan Davina dan mengusapnya.
"Apakah kakak tidak akan bangun. Kita semua menunggu kakak untuk bangun dan kita akan mengadakan perayaan pernikahan kakak. Daniel rindu kejahilan Kakak, galaknya, terus nasihat yang selalu Kakak berikan kepada Daniel saat aku punya masalah. Cepatlah bangun kasihan Kak Gavin yang tidak makan dari kemarin. Dia selau setia berada disamping Kakak. Dia terus mengeluarkan air mata sehingga matanya bengkak. Aku janji, nanti kalau Kakak bangun aku nggak akan nakala lagi, aku akan belajar dengan tekun." Ucap Daniel sembari mengeluarkan air mata.
Ketika Daniel berbicara dengan sang Kakak. Gavin mendengarkannya dari dalam kamar mandi. Ia sedih melihat calon adik iparnya menangis. Dia keluar dan menghampiri Daniel. Ditepuknya pundak Daniel dengan lembut. Dia berusaha menenangkan walaupun hatinya juga sangat sedih.
"Sudahlah kita tidak usah menangis. Jika kita menangis Davina juga akan ikut bersedih. Sekarang kita sarapan dahulu. Kamu belum sarapan kan?" Tanya Gavin.
Daniel menggelengkan kepalanya. Mereka lalu memakan sarapan yang sudah dibawakan oleh Daniel dari rumahnya. Memang sebelum dia datang dia menyuruh pembantu yang ada di mansion nya untuk memasak sarapan yang akan dibawa ke rumah sakit. Setelah itu dia pergi ke mansion Keluarga Rafisqy untuk mengambil baju ganti untuk Gavin.
Mereka memakan sarapan mereka dengan hening. Tidak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Sejenak Daniel memulai percakapan diantara mereka.
"Kakak, jika Kak Gavin lelah. Kakak bisa pulang terlebih dahulu. Papa berpesan kepada aku untuk bergiliran untuk menjaga Kak Davina." Suruh Daniel.
Gavin menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan pulang jika Davina tidak kunjung sadar. Gavin akan menunggu Davina hingga siuman.
"Kakak tidak akan pulang. Kakak akan menunggu Davina hingga siuman. Rasanya tidak tega meninggalkan Davina. Dan berat buat Kakak untuk meninggalkannya." Kata Gavin.
"Oh iya, kata Om Samuel. Kakak sudah diizinkan untuk menunggu Kak Davina sampai siuman dan Om Samuel juga sudah berbicara kepada kepala sekolah kakak. Tapi kalau Daniel tidak bisa, karena harus kembali ke Indonesia untuk sekolah. Karena Daniel sudah kelas 9" Jelas Daniel.
Di tengah pembicaraan mereka ada seorang yang mengetuk pintu kamar. Daniel bangkit dari tempat duduknya untuk membuka pintu. Ternya yang datang adalah suster yang akan membersihkan badan Davina.
"excuse me Mr. Gavin and Mr. Daniel. I want to clean Mrs Davina's body. Can Mr Gavin and Mr Daniel wait outside. ( permisi tuan Gavin dan Tuan Daniel. Saya mau membersihkan badan nyonya Davina. Bisakah Tuan Gavin dan Tuan Daniel menunggu di luar. )" Ucap sang perawat.
"Ok we will come out. Daniel come on.( Baiklah akan keluar. Daniel ayo.)" kata Gavin. Mereka berdua keluar ruangan dan duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan.
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, perawat itu keluar dari ruangan Davina.
"Mr. Gavin I have finished cleaning up Mrs. Davina. I'll excuse me first.( Tuan Gavin saya telah selesai membersihkan Nyonya Davina. Saya permisi dahulu.)" Pamit sang perawat.
Mereka berdua hanya mengangguk dan masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut. Daniel dan Gavin memilih duduk di sofa. Mereka tidak ingin menangis di depan Davina. Tidak lama kemudian ada seorang yang mengetuk pintu ruangan itu lagi. Kali ini Gavin yang membukakan pintu. Ternya yang datang adalah...
*
*
*
*
Terima kasih untuk pembaca setiaku.