My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 23



Setelah menjenguk Davina, Mommy Aurel dan Mama Vita pamit untuk menyiapkan makan siang di mansion mereka masing-masing. Walaupun mereka nyonya besar dari keluarga terkaya di dunia, namun mereka adalah sosok istri idaman. Tekad mereka sejak awal adalah ingin menjadi istri yang selalu berbakti kepada suami dan ingin mengurus anak layaknya orang biasa.


Keadaan di dalam ruangan Davina menjadi sepi. Gavin sibuk dengan telpon genggamnya. Sedangkan Davina sedang mengecek berkas yang ia minta dari Mamanya. Padahal dia sudah dilarang melakukan pekerjaan kantor oleh Mama Vita, Mommy Aurel, dan juga Gavin. Tapi Davina tidak mau menurutinya.


"Vina, udah dong. Nggak usah kerja dulu biar urusan kantor nanti diurusi sama sekretaris kamu aja. Kamu cukup istirahat sampai kamu pulih." Nasihat Gavin.


"Tapi aku nggak bisa jauh dari pekerjaanku ini, Vin. Rasanya bosan hanya makan, tidur, nonton tv. Itu membosankan bagi aku yang selalu melakukan aktivitas." Ucap Davina.


"Baiklah, kali ini aku izinin kamu. Tapi setelah nikah kamu harus tinggalkan berkas seperti itu selama 1 Minggu." Kata Gavin.


"Iya" pasrah Davina.


Suasana kembali hening dan hanya suara telivisi yang memenuhi ruangan tersebut.


Davina yang menyadari keheningan tersebut lalu segera menutup berkasnya. Ia melihat Gavin yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ia merasa bosan, hanya duduk dan menonton televisi. Muncul lah ide dari kepalanya.


"Vin, pergi ke taman rumah sakit, ya." Pinta Davina.


Gavin yang mendengar ajakan Davi a langsung mematikan handphone yang tadi ia genggam. Gavin berjalan mengambil kursi roda yang ada di pojok ruangan. Ia membantu Davin duduk di kursi roda. Tak lupa Gavin menempatkan infus di gantungan yang ada. Ia mendorong dengan perlahan.


"Makasih, Vin. Udah mau jagain aku, seharusnya yang jagain aku itu keluarga aku, bukan malah kamu. Gara-gara aku kamu jadi susah ngerjain kerjaan kantor di rumah sakit. Badan kamu juga nggak ke urus." Ucap Davina.


"Mau berapa kali kamu ngucapin makasih sama aku? Aku sama sekali nggak ngerasa direpotin buat njaga kamu. Udah seharusnya calon suami jaga calon istri. Kaya kata-kata uang masih viral itu lho kamu itu HARTA TAHTA Gavin. Jadi hanya milikku aja." Kata Gavin sambil mendorong Davina.


"Heh, aku belum jadi milik kamu ya. Aku ini masih anaknya Mama sama Papa aku. Kita kan belum nikah jadi aku masih punya keluarga aku. Aneh-aneh aja kamu Maymunah." Canda Davina.


Selama perjalanan mereka tidak lepas dari penglihatan para perawat dan dokter yang berpapasan. Semua orang senang karena nona muda mereka sudah pulih. Kehadiran Davina di rumah sakit menjadi kesenangan dari mereka. Seorang yang sangat baik dan berwibawa telah kembali. Mereka menyapa Gavin dan Davina dengan senyum yang merekah.


"good afternoon Mr. Gavin, good afternoon Mrs. Davina. ( selamat siang Tuan Gavin, selamat siang Nyonya Davina.)" Sapaan yang mereka berikan.


Sesampainya di taman rumah sakit



Gavin duduk di kursi taman dengan Davina yang ada di depannya. Ia menggenggam tangan Davina dengan lembut dan ia mengusapnya.


"Vina, aku serius cinta sama kamu, aku nggak mau kalau kita sampai pisah. Aku berharap kamu bisa membalas cinta aku." Ungkap Gavin.


Davina mengangguk kan kepalanya. Ia menatap manik mata Gavin dalam. Davina mencoba mencari kebohongan dari mata Gavin. Namun, nihil tiada kebohongan dari mata lelaki tersebut. Yang ada hanyalah ketulusan dan kejujuran yang terpancar.


"Vina, aku melihatmu dan melihat sisa hidupku di depan mataku. Mungkin ketidak sempurnaan kita yang membuat kita begitu sempurna satu sama lain. Asmara bukan hanya sekedar saling memandang satu sama lain. Tapi juga sama sama melihat ke satu arah yang sama. Tak mungkin Tuhan Yang Maha Mencintai dan Maha Lembut menyembunyikan jodohku jika engkau pantas untuk menjadi mempelai ku. Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tetapi karena siapa aku ketika aku bersamamu." Sambung Gavin.


Davina tersenyum mendengar ungkapan cinta dari Gavin. Ia tidak pernah menemukan lelaki yang mau menemaninya ketika senang maupun duka. Ia memeluk Gavin secara tiba-tiba.


"Terima kasih karena mau menemaniku dikala aku senang maupun sedih. Tiada lelaki yang sepertimu. Aku butuh kamu seperti jantung butuh detak. Banyak yang bilang saat kamu bertemu cinta dalam hidupmu, waktu berhenti, dan itu benar. Aku merasakan waktu telah berhenti saat bersama diri kamu. Jantungku serasa memacu dua kali lebih cepat saat berada di dekat kamu. Jadi aku harap kamu bisa menjaga perasaanku dan menjadikan aku wanita spesial ke berapapun setelah keluarga kamu." Ungkap Davina.


Gavin memeluk Davina dengan erat dan penuh kasih sayang. Rasanya hatinya terbang dan menari-nari di angkasa mendengar ungkapan hati Davina. Gavin jongkok di depan Davina dan mencari benda yang ada di dalam saku celananya.


"Vina, aku memang bukan orang yang romantis dan menurutku ini bukan lamaran yang mewah. Aku ingin kita menikah karena dasar cinta bukan karena perjodohan orang tua kita.


Kebanyakan orang berkata bahwa obat jatuh cinta adalah menikah. Dan sekarang aku sedang jatuh cinta. Kamu akan selalu memberiku kekuatan, sebelum atau setelah menikah. Karena itulah aku memilihmu untuk hidup hingga tua bersama. Berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata. Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat ku bahagia. Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku. Kamu adalah alasanku tersenyum. Kamu adalah semangatku mencapai kesuksesan. Segala yang kulakukan adalah tentang kamu. Izinkan aku dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini untuk membuat pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka yang sangat besar. Bukan, aku tidak ingin memilikimu. Aku hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu. Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Davina Farensia Ailen, maukah kau menjadi pendamping hidupku sampai usai waktu? Menjadi ibu dari anak-anakku?" Kata Gavin sembari membuka kota merah yang berisikan cincin berlian.


"Gavin sebenarnya aku......." Davina menggantungkan kalimatnya.


Gavin yang tidak sabar menunggu jawaban dari Davina hanya terus menunduk dan mengeluarkan keringat panas dingin. Ia takut akan ditolak oleh Davina. Gavin tahu Davina belum menyatakan cintanya, jadi hati Gavin sangat berdebar.


"Vin, maaf aku......"