My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 14



"Mrs Davina's current state ... ( Keadaan nyonya Davina saat ini...... )" Dokter itu menjeda kalimatnya.


"Quickly say! ( capat katakan! )" bentak Papa Kenan.


"Very weak. Mrs. Davina needed a lot of blood, because the gunshot wound was bleeding profusely. We must immediately seek blood donors for him. However, the supply of blood type that we needed ran out . ( Keadaannya sangat lemah. Nyonya Davina membutuhkan banyak darah, karena luka tembakannya mengeluarkan banyak darah. Kami harus segera mencari pendonor darah untuknya. Tetapi, persediaan darah golongan yang kami butuhkan habis.)" Jelas sang dokter.


Mereka yang mendengar penjelasan dokter sangat kaget. Gavin tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia jatuh pingsan dan untungnya Daddy Samuel sigap menangkap tubuh sang anak sulung.


"Take my blood. My blood type is the same as my child, hurry up. ( Ambillah darah saya. Golongan darah saya sama dengan anak saya, cepatlah.)" Ucap Papa Kenan.


Dengan sigap sang dokter menyuruh suster untuk membawa Papa Kenan ke ruang donor darah. Semua orang yang menunggu turut mendoakan keselamatan Davina. Gavin telah dibawa ke ruang khusus yang diminta oleh Daddy Samuel.


"Ya Allah, selamatkan calon menantu hamba dan ikhlas kan hati kami. Semoga dia baik-baik saja Ya Allah. Bantulah kami untuk menunggu Davina sadar, kembalikan suasana hati anak hamba seperti semula." doa Daddy Samuel.


Ia sangat sedih melihat kondisi sang anak saat ini. Badan yang banyak luka, bermuka pucat, badan kurus, dan pakaian yang sudah terkena darah segar Davina. 10 menit kemudian, Gavin sadar dari pingsannya. Ia langsung berteriak nama Davina. Sang ayah yang melihat itu langsung memeluknya.


"Daddy, dimana Davina? dia tidak pergi kan? Davina akan menjadi istri Gavin kan, Dad?" deretan pertanyaan keluar dari mulut Gavin.


"Memang kenapa? Davina akan menjadi istri kamu, dia tidak pergi Gavin. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" jawab sang ayah dengan menggelengkan kepala.


"Aku tadi bermimpi, aku ada di tempat yang sangat luas dan bagus. Di sana terdapat banyak burung, kupu-kupu, dan tumbuhan yang sangat indah. Suasana disana sangatlah sejuk dan nyaman. Aku melihat gadis cantik yang memiliki rambut panjang dan dia memakai baju putih. Saat ku dekati, aku menyentuh pundaknya. Saat gadis itu berbalik badan aku kaget, ternyata itu adalah Davina. Dia menyapaku dan memelukku erat. Katanya dia akan pergi dan dia berpesan kepadaku untuk menjaga Papa Kenan, Mama Vita, dan Daniel. Setelah itu, ia mencium pipiku dan seketika dia berjalan mundur dan menjauh. Tidak jauh dari Davina ada seseorang yang melambai pada Davina dan menyuruhnya untuk cepat. Pada saat itu juga Davina berlari dan terbang entah kemana. Saat aku panggil namanya, ia tidak datang. Ini firasat apa, Dad? Aku tidak mau kehilangan Davina. Dia adalah separuh jiwaku." Cerita Gavin panjang lebar sembari meneteskan air mata. Daddy Samuel kaget saat mendengar cerita Gavin.


Setelah Gavin menceritakan mimpinya, mereka berdua pergi ke ruang operasi. Saat disana mereka melihat Mama Vita yang sedang menangis dan di samping kirinya ada Mommy Aurel, sedangkan Papa Kenan terduduk lesu di samping kanan Mama Vita.


"Kenan, apakah belum ada kabar dari dokter?" tanya Daddy Samuel. Papa Kenan menggelengkan kepalanya dengan lesu. Mereka semua sabar menunggu kabar dari dokter. Daniel dan Grisel juga sudah sampai di rumah sakit.


3 jam mereka menunggu pintu ruang operasi dibuka. Dan akhirnya pintu itupun terbuka. Mereka yang melihat itu langsung berdiri.


"The operation went smoothly. However, Mrs Davina's current state was still weak. Mrs. Davina fell into a coma. ( Operasinya berjalan dengan lancar. Namun, keadaan nyonya Davina saat ini masih lemah. Nyonya Davina mengalami koma.)" jelas dokter dengan wajah menunduk.


Mereka merasa lega karena operasinya berhasil, namun mereka juga merasa sedih saat mendengar kalimat terakhir sang dokter yang mengatakan bahwa Davina mengalami koma.


"How long will Davina be in Koma, doctor? ( Berapa lama Davina akan Koma, dokter?)" kali ini Gavin yang bertanya.


"Let's wait, I can't say for sure when the patient will wake up from his coma. If you want the patient to wake up immediately, then you have to talk to him often. Even though the patient is in a coma, he can hear our voices. we will transfer Mrs Davina to the inpatient ward. So that you can accompany him. ( Kita tunggu saja, saya tidak bisa memastikan kapan pasien akan sadar dari komanya. Jika kalian ingin pasien segera sadar, maka kalian harus sering mengajaknya berbicara. Walaupun pasien koma, namun dia bisa mendengarkan suara kita. Kami akan memindahkan Nyonya Davina ke ruang rawat inap. Sehingga kalian bisa menemaninya.)" kata sang dokter.


Setelah mereka berbicara dengan dokter, ruang operasi kembali terbuka dan menampakkan gadis cantik yang tertidur pulas. Seketika tangis mereka pecah saat melihat banyak alat yang menempel di tubuh Davina. Suster mendorong brankar Davina menuju ruang VVIP yang sudah disiapkan pihak rumah sakit. Keluarga Rafisqy dan Ailen mengikuti brankar Davina dari belakang. Sesampainya diruang VVIP suster berpamitan untuk keluar.


"If something happens to the patient, Mr and Mrs Ailen or Rafisqy, you can press the red button on the patient's bed. Excuse me. ( Jika terjadi sesuatu terhadap pasien, Tuan dan Nyonya Ailen atau Rafisqy, bisa menekan tombol berwarna merah di atas tempat tidur pasien. Saya permisi.)" pamit sang suster.


*


*


*


*


*


*


Ok readers aku QnA buat kalain. Menurut kalain Davina sadar atau pergi untuk selamanya, ni? 😁 jangan lupa komen ya.👐