My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 19



Di tengah keheningan, terdengar dering telepon yang sangat nyaring. Suara tersebut berasal dari HP Gavin. Itu menandakan bahwa ada seseorang yang menelponnya.


"Semuanya, Gavin permisi dulu mau menganggap telpon." Izin Gavin. Semua orang mengangguk.


Gavin keluar ruangan untuk mengangkat telpon entah dari siapa. Saat sampai di luar, ia melihat tertera nama El. Dia adalah tangan kanan Gavin di BLACK FIRE. Gavin mengusap tombol warna hijau ke atas.


📱\= Kenapa kau menelpon? Apakah ada


masalah di markas?


📲\= Markas sedang di kepung oleh para


pengikut keluarga Adavsi. Mereka


berencana membawa kabur Tuan


Varel dari markas kita, King.


📱\= Tunggu aku disana. Sekarang kau


suruh semua pengawal untuk


menghadang mereka, jangan sampai


mereka bisa masuk dan membawa


kabur Varel. Terus perketat penjagaan


di ruang penyekapan, tambah


pengawal yang berjaga di ruang


penyekapan.


📲\= Baik, King kita akan menanganinya


sebelum King sampai.


📱\= Dan siapkan jalur khusus masuk ke


markas. Aku akan menghindarinya.


Saat pengawal kita sudah tidak


mampu, aku akan turun tangan.


📲\= Siap, King. Laksanakan.


Gavin memutuskan telpon. Dia berjalan masuk ke ruang rawat Davina dengan wajah lesu. Di satu sisi dia tidak ingin meninggalkan Davina, sedangkan di sisi lain, ia harus menghadapi masalah Varel. Dia tidak mau jika Varel lolos. Sebelum dia membalaskan perbuatannya terhadap Davina.


"Ma, Pa, Mom, Dad. Gavin mau pamit dahulu. Ada keperluan yang mendadak." Pamit Gavin.


"Memangnya ada masalah apa? Sehingga kamu terburu-buru." Tanya Mommy Aurel.


"Cuma masalah kecil, Mom. Daniel bisa temani kakak?" Tanya Gavin kepada sang calon adik ipar.


"Bisa, Kak." Jawab Daniel.


"Baiklah, kita berangkat sekarang." Kata Gavin.


Sebelum pergi Gavin berjalan menuju brankar Davina. Ia membungkuk dan mengecup kening Davina.


Para orang tua yang melihat itupun terbawa perasaan oleh tingkah Gavin kepada Davina. Mereka tidak menyangka bahwa waktu pendekatan mereka hanya sebentar. Bisa dikatakan Davina adalah cinta pandangan pertamanya Gavin begitupun sebaliknya. Walupun Davina belum mengungkapkan perasaannya kepada Gavin.


Mereka terus berdoa agar Davina lekas pulih seperti semula. Yang para orang tua inginkan saat ini adalah kesadaran dan keselamatan Davina. Mereka iba melihat Gavin yang saat ini semakin dingin dan cuek. Bukan seperti Gavi yang dahulu, mau bercengkrama bersama keluarga walaupu itu sekedar bercanda bisa dan tidak memperlihatkan senyum yang terlalu lebar.


Gavin menyalami kedua orang tuanya dan kedua orang tua Davina. Setelah itu ia dan Daniel mengucapkan salam dan menuju ke parkiran mobil yang disediakan khusus untuk keluarga Aieln maupun kerabat mereka.


Di dalam mobil hanya ada deru suara mobil yang terdengar Gavin Daniel tidak berbicara sepatah katapun. Mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Gavin memikirkan bagaimana cara membalaskan perbuatan Varel terhadap Davina. Sedangkan Daniel berpikir akan dibawa kemana dirinya oleh sang Kakak ipar. Daniel berusaha bertanya kepada Gavin.


"Kak, kita mau kemana? Dan apa ada masalah?" Tanya Daniel.


"Kita akan ke markas Kakak. Pasukan keluarga Adavsi sedang mengepung markas Kakak dan berencana membawa kabur Varel. Coba bantu Kakak untuk memikirkan bagaimana caranya untuk membalaskan dendam kepada Varel." Jelas Gavin.


Mobil yang ditumpangi Gavin dan Daniel melaju dengan cepat. Hingga akhirnya mereka tiba disebuah gedung terpencil yang ada di tengah hutan. Tempat itu bisa dibilang tidak seperti markas melainkan mansion yang megah dan terletak jauh dari pemukiman warga. Gavin memang memiliki beberapa markas yang tersebar di seluruh dunia. Genk mafia BLACK FIRE adalah salah satu Genk mafia yang sangat ditakuti. Namun mereka tidak tahu bahwa ketua dari genk tersebut adalah bocah SMA kelas 12.


Gavin dan Daniel masuk markas melalui jalur rahasia. Sehingga para pengawal keluarga Adavsi tidak melihat mereka datang. Sesampainya di dalam mereka langsung menuju ruangan khusus untuk ketua. Gavin duduk di singgasananya yang sangat nyaman. Daniel duduk di sofa yang ada dalam ruangan.


Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu dari luar. Dia adalah El asisten pribadi Gavin.


"Selamat sore, King dan tuan muda Ailen." Sapanya.


Mereka berdua hanya mengangguk menjawab sapaan El. Dia sudah tidak kaget tentang sifat dingin keduanya yang memang sudah terkenal. Padahal kedua orang tua mereka sangat humoris dan murah senyum. Namun, berbeda dari anak-anaknya yang memiliki sifat sedingin es batu.


"Bagaimana keadaannya sekarang. Apakah sudah lebih tenang?" Tanya Gavin.


"Saat ini tinggal tersisa sedikit pasukan mereka. Pasukan kita telah berhasil melumpuhkan sebagian dari mereka. Dan juga Tuan Varel masih aman di ruang penyekapan." Jelas El.


"Baiklah, kalian tangani pengawal Keluarga Adavsi. Aku dan Daniel akan mengurus Varel. Terus awasi gerak-gerik mereka. Lenyapkan semua pengawal Adavsi." Titah Gavin.


"Laksanakan, King. Kalau begitu saya pamit pergi dahulu." Pamit El.


Lagi-lagi mereka hanya menjawab dengan anggukan. Sejak tadi Daniel hanya menyimak apa yang Gavin dan El bicarakan. Dia juga memikirkan bagaimana caranya membalaskan perbuatan Varel yang telah melukai kakak cantiknya.


"Dan, ayo ikut Kakak ke ruang penyekapan. Kau boleh melakukan apapun terhadap Varel. Jangan pendam emosimu lakukanlah sesuka kamu." Ucap Gavin.


"Baik, Kak. Memang sejak tadi rasanya emosiku memuncak setelah mendengar nama orang tersebut." Jawab Daniel dengan nada menahan emosi.


Mereka berjalan menuju ruang penyekapan. Di sepanjang jalan banyak pengawal Gavin yang menunduk memberikan hormat. Sesampainya di ruangan tersebut. Pengawal yang berjaga di depan pintu membukakan pintu untuk Gavin dan Daniel.


Varel yang melihat kedatangan Gavin dan Daniel hanya tersenyum licik. Dia berpikir bahwa sebentar lagi dia akan bebas, karena pengawalnya datang. Dia memang mengetahui jika pengawalnya datang dari pembicaraan pengawal yang menjaganya.


"Rupanya kalian sedang menemuiku untuk mengucapkan salam perpisahan." Ejeknya.


"Memangnya kau akan pergi ke mana? Kau akan tetap ada di sini. Di ruang yang sangat nyaman ini. Kau boleh pergi saat kami telah membalaskan perbuatan mu yang telah kau lakukan terhadap Davina." Ucap Gavin dengan nada meninggi.


"Kita lihat saja nanti. Pengawal siapa yang aakan menang Tuan Gavin." kata Varel denagn senyum mengejeknya.


"Pastilah nanti yang akan menang adalah pengawal Kakak iparku. Bukan pengawalmu. " Kali ini Daniel yang menyahuti Varel.


" Hai adik iparku. Mengapa kamu membela dia bukannya aku. Kakak iparmu adalah aku bukan dia." katanya sambil menunjuk ke arah Gavin.


Daniel yang sudah geram dengan perkataan Varel akhirnya tidak bisa membendung emosinya. Dia mengambil pistol yang ada di saku Gavin. Gavin yang melihat itupun langsung mencegahnya. Ia tidak mau tangan adik iparnya yang masih bersih harus terkena darah seseorang yang mencelakai kakaknya.


INI DIA VISUAL ELVANO, asisten pribadi Gavin



Maaf kalau banyak typo (◍•ᴗ•◍)❤