
"Vin, maaf aku memang bukan wanita sempurna. Aku memiliki kesalahan dan belum bisa memberikan hal spesial kepada kamu. Berawal dari pertemuan di sekolah yang tidak wajar. Aku melihat cinta pandangan pertama untuk mu. Walaupun aku memiliki mantan kekasih, tapi rasanya berbeda saat bersama kamu. Tolong tuntunlah aku ke jalan Tuhan yang benar. Pimpinlah keluarga yang akan kita bina dengan baik. Jika sewaktu-waktu kamu merasa bosan kepadaku kamu harus mengatakannya. Jadi aku menerima lamaran mu yang sederhana ini namun didasari oleh cinta. Aku mau menjadi tulang rusuk mu dan menjadi ibu dari anak-anak mu." Sambung Davina.
Gavin langsung mengambil cincin. Yang ada di dalam kotaknya, ia memasangkan cincin tersebut di jari manis Davina. Gavin memandang jari yang tersematkan cincin itu dan menciumnya. Davina merasa terharu, walaupun lamarannya tidak mewah dan tidak spesial.
Ternyata sedari tadi seluruh keluarga Ailen dan Rafisqy menyaksikan kegiatan mereka berdua. Mama dan Mommy mereka meneteskan air mata. Mereka bersyukur anak-anak mereka akan menikah atas dasar cinta bukan atas dasar perjodohan.
"Kita akan segera menjadi besan, Ta." Ujar Mommy Aurel.
"Iya, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga besar." Balas Mama Vita.
Papa Kenan dan Daddy Samuel berpelukan untuk menyalurkan rasa bahagia mereka. Sedangkan Daniel dan Grisel sudah lompat kegirangan mendengar kakak mereka akan menikah atas dasar cinta mereka.
Momen tersebut juga tidak hilang dari pemandangan para suster dan dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. Mereka senang melihat Gavin dan Davina bersama. Doa yang mereka panjatkan untuk Davina supaya bisa mendapatkan pendamping yang setia, baik, dan juga mapan. Para suster dan dokter sifat tersebut pada diri Gavin.
"Lihatlah setelah mereka menyatakan cinta mereka. Dunia ini serasa milik berdua. Kalian lihatlah tempat jika ingin bermesraan." Ejek Daddy Samuel.
"Dad, emang Daddy sama Mommy lihat tempat jika ingin bermesraan. Kalian sering mengumbar kemesraan di depan Gavin dan Grisel." Balas Gavin.
Mereka yang melihat pertengkaran kecil antara ayah dan anak itu menggelengkan kepala. Pasalnya ayah dan anak tersebut saling mengolok tentang hal sepele.
"Sudahlah kalian jangan saling ejek. Kalian berdua memiliki sifat yang sama. Vina, kau hati-hati jika sudah berdekatan dengan Gavin. Dia akan sangat manja dengan orang yang dia sayang. Memang di luarnya dingin tapi aslinya manja banget." Ucap Mommy Aurel.
"Iya, Mom. Terima kasih sudah memberi tahu Davina. Jika tidak mungkin akan terkejut." Tutur Davina sambil terkekeh geli.
"Sayang selamat, ya. Sebentar lagi kamu akan menikah. Mama pesen sama kamu jadilah istri yang berbakti kepada suaminya. Penuhilah kebutuhan dia dengan telaten. Walaupun kalian menikah muda, namun kita berharap pemikiran kalian dewasa. Jika ada masalah di bicarakan dengan baik. Jangan saling meninggalkan dan menuduh tanpa tahu yang sebenarnya." Pesan Mama Vita.
Davina mengangguk dan tersenyum kepada semua orang. Daniel dan Grisel memeluk Davina secara bersamaan. Mereka tidak tahu mengungkapkan perasaan mereka dengan bagaimana. Davina membalas pelukan sang adik dan calon adik iparnya. Mengelus lembut kedua punggung anak muda tersebut.
"Sudahlah, kita lanjutkan saja nanti. Ini sudah waktunya makan siang dan shalat Zuhur kita kembali ke ruang inap sekarang." Perintah Papa Kenan.
Mereka semua berjalan bersamaan dengan Gavin yang mendorong kursi roda Davina. Setelah masuk ke dalam ruang inap. Gavin membantu Davina untuk naik ke atas brankar nya. Lalu semua orang mengambil air wudhu secara bergantian. Mereka memutuskan untuk shalat berjamaah di dalam ruangan Davina. Sedangkan Davina melakukan tayamum karena luka yang ada di tubuhnya belum kering sempurna.
Mereka semua melaksanakan kewajiban mereka dengan khusyuk dan tenang. Dengan dipimpin oleh Papa Kenan mereka shalat dengan lancar. Seusai shalat mereka berdoa dengan khitmad. Shalat telah selesai dilaksanakan, mereka membereskan peralatan shalat mereka dan menyimpannya di tempat semula.
"Baiklah sekarang kita makan siang. Apa yang ingin kalian makan?" Tanya Mama Vita.
"Iya, aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh kudaniel. Kita pergi makan ketempat itu saja." Ucap Grisel.
"He, Griselor, omangan nya dijaga ya. Aku bukan kudaniel. Masak cowok tampan, cool, dan lucu ini dikasih nama panggilan yang jelek." Kata Gavin.
"Sudah-sudah jangan berantam lagi, lebih baik kita langsung pergi ke restoran tersebut. Kita akan makan bersama. Bagaimana, Gavin kamu mau?" Tanya Mommy Aurel.
"Gavin akan makan siang bersama Davina saja, Mom. Kalian pergilah, aku sudah menyuruh asistenku untuk membawakan aku makanan. Mungkin sebentar lagi akan sampai." Tolak Gavin.
"Baiklah, sepertinya kamu memang tidak bisa jauh dari calon istrimu yang cantik ini. Kalau begitu kita pergi dulu. Jika ada sesuatu segera hubungi kami, assalamualaikum." Pamit Mama Vita.
"Hati-hati dijalan. Waalaikumsalam." Jawab Gavin dan Davina secara bersamaan.
Sepeninggalan mereka, Gavin dan Davina hanya saling pandang dan tidak ada sepatah katapun yang keluar. Mereka menyelami perasaan masing-masing. Tiba-tiba mereka dibuyarkan oleh suara ketukan pintu. Gavin bangkit dan membuka pintunya. Ternyata adalah asistennya yang membawakan pesanannya.
"Selamat siang, King. Kami membawakan pesanan anda." Ucap sang asisten.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Jaga markas jangan sampai ada penyusup." Titah Gavin.
Seperginya para asisten Gavin. Ia masuk kembali dan menaruh paper bag dia atas meja di samping brankar Davina. Ia membukanya dan makanan yang akan ia makan. Suara ketukan pintu kembali terdengar, Gavin membukanya dan ternyata adalah suster yang membawakan makanan Davina. Ia mengambilnya dan membawa masuk, tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih kepada sang perawat.
"Vina, kamu makan siang dulu. Ini aku sudah mengambilnya dari suster. Aku akan membantu kamu untuk duduk." Ucap Gavin.
"Vin, bisakah aku mengganti menu makanannya. Rasanya sangat hambar dan tidak enak. Aku ingin makanan yang lain." Tawar Davina.
"Hey, kau lupa perjanjian tadi pagi. Kamu harus memakannya kalau tidak-" kata kata Gavin dipotong oleh Davina.
"Baiklah, cerewet." Jawab Davina dengan nada ketus.
Gavin yang melihat Davina memanyunkan bibirnya merasa gemas dan ingin sekali mencubit pipi Davina. Tapi dia urungkan, karena tidak mau membuat sang calon istrinya semakin marah. Ia menyendok kan bubur itu sedikit demi sedikit hingga habis. Setelah selesai makan Davina meminum obatnya.
"Baiklah, sekarang kamu yang makan. Jangan sampai kamu memperhatikan diriku tapi tidak dengan dirimu. Sekarang makanlah. Aku akan menonton televisi." Kata Davina.
Gavin menganggukkan kepalanya dan mengambil bekal makan siang tadi sudah dikirim oleh asistennya. Ia memakan dengan cepat. Setelah memakan makanan itu Gavin mengambil buah apel lalu mengupasnya. Ia memberikan potongan pertama untuk Davina lagu ia memotong untuk dirinya sendiri. Mereka makan apel secara bersamaan hingga habis.