
Di sebuah taman yang sangat luas dan cantik. Terdapat bunga yang mekar dengan indahnya. Seseorang tengah berjalan diantara bunga yang bermekaran. Ia memakai baju berwarna putih, kulit bersih, rambut terurai panjang, dan badan yang bagus.
"Aku dimana? Kenapa hanya ada aku di taman yang luas ini?" Bingung sang gadis. Ia terus mencari keberadaan seseorang selain dirinya.
Di saat ia berjalan, kupu-kupu terbang mendekat ke arahnya. Sang gadis berusaha untuk menangkapnya namun tidak dapat. Kupu-kupu itupun terbang menjauh. Tidak ingin kehilangan kupu-kupu tersebut. Ia mengejarnya, dan akhirnya dia menemukan seseorang selain dirinya.
"Hai kemarilah!" Panggil sang gadis kepada kupu-kupu.
Orang yang mendengar suara gadis langsung berbalik badan. Ia berjalan ke arah sang gadis. Seseorang itu memiliki badan yang tinggi, putih, namun kulitnya sudah keriput.
"Davina, kenapa kamu ada disini? Seharusnya kamu ada di dunia lain?" Tanya seseorang tersebut.
Ya, gadis cantik itu adalah Davina dan seseorang yang keriput itu nenek Davina. Ia heran mengapa sang nenek ada bersamanya. Bukankan dia sudah meninggal dan apa jangan-jangan dia sudah meninggal.
"Aku tidak tahu, Nek. Saat aku buka mata, yang aku lihat adalah taman indah ini. Tidak ada seorangpun yang ada disini kecuali aku dan Nenek. Tapi, kenapa nenek ada disini? Bukankah nenek sudah meninggal?" Heran Davina.
Sang nenek hanya tersenyum mendengar perkataan cucu cantiknya. Davina masih bergelut dengan pikirannya. Tiba-tiba sang nenek menggenggam tangannya.
"Cucuku, kembalilah ke duniamu. Semua orang telah menantimu untuk kembali. Jangan kamu hianati sosok lelaki yang setia menemanimu. Berikan cinta yang tulus kepadanya. Berjalanlah ke cahaya tersebut!" Titah sang nenek.
"Aku tidak ingin masuk ke dalam cahaya tersebut. Nenek harus ikut bersamaku. Kita ketemu Mama, Papa, dan Daniel." Tolah Davina.
"Cepatlah pergi, nenek sudah bahagia disini. Nenek berpesan jangan kamu hianati orang yang sudah menjagamu selama kamu tidur panjang, dan juga jaga kakek kamu. Bahagiakan semua keluarga kita dan calon suami kamu itu! Nenek pergi dahulu, pergilah ke cahaya tersebut!" Kata Nenek.
Davina berjalan ke arah cahaya tersebut. Ia melihat ruangan yang sangat putih dan cahaya sangat terang. Matanya sangat susah di buka, badannya juga pegal-pegal.
Mama Vita yang melihat pergerakan tangan Davina langsung memencet tombol merah. Tak lama kemudian dokter datang bersama suster. Ia langsung memeriksa Davina.
"Mrs. Davina has regained consciousness. (Nyonya Davina sudah sadar.)" Kata sang dokter.
"Okay thank you. (Baiklah, terima kasih.)" Ucap Mama Vita.
Setelah memeriksa Davina sang dokter keluar dari ruangan. Mama Vita langsung menghubungi semua keluarganya dan Keluarga Rafisqy. Kecuali Gavin, ia sudah menyiapkan surprise.
"Davina, syukurlah kamu sudah sadar, Sayang. Kita semua sangat merindukan kamu." Ucap Mama Vita dengan nada terisak.
"Ma, aku mau minum. Vina haus." Pinta Davina.
Mama Vita yang mendengar permintaan sang anak langsung mengambil air putih yang ada di atas nakas. Ia membantu Davina minum. Rasanya sangat senang saat melihat sang anak sudah membuka matanya. Tidak henti-hentinya ia mengucap syukur kepada Tuhan.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Davina. Mama Vita bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Keluarganya dan keluarga Rafisqy. Papa Kenan langsung memeluk sang putri tercinta.
"Sayang, Papa kangen sama kamu. Kenapa kamu tidur sangat lama? Apa kamu baik-baik saja. Tidak ada yang sakit? Kamu mau makan atau minum? Ayo bicara sama Papa." Tanya Papa Kenan dengan beruntun.
"Pa, Davina baik-baik saja. Vina tidak ingin makan apapun saat ini. Jika Vina ingin sesuatu nanti akan bilang. Apakah hanya kalian yang ada disini. Aku rasa ada yang kurang?" Kata Vina. Ia mengerutkan keningnya sambil berpikir. Siapa yang tidak ada di sini? Semua keluarganya ada dan Keluarga Rafisqy?
"Sepertinya anak kalian sudah merindukan calon suaminya." Kata Daddy Samuel dengan nada mengejek.
Pipi Davina berubah memerah. Semua orang yang melihat itupun tersenyum. Mommy Aurel membuka suara.
"Begini, Nak. Kita mempunyai rencana untuk Gavin. Kita akan memberikan kejutan tentang kesadaran kamu. Dia sedang pulang ke rumah untuk mengambil bajunya. Nanti kamu harus berpura-pura lupa ingatan. Kita bersandiwara, maukah kamu melakukan itu? Dia sangat berharap kamu sadar. Setiap hari dia berada di sampingmu, dia hanya meninggalkanmu saat waktu shalat saja." Jelas Mommy Aurel.
"Vina, mau Tante. Aku akan bersandiwara dengan baik." Ucap Davina.
"Sekarang aku akan menelpon Kak Gavin. Kita mulai rencana kita." Kata Daniel dengan semangat.
Daniel mengambil handphone nya yang ada di dalam sakunya. Ia mengotak- atik mencari nama kontaknya Gavin. Setelah ia menemukan nomornya ia menekan gambar telepon. Telpon pun tersambung.
📱: Assalamualaikum Kak Gavin. Kakak sedang dimana?
📲 : waalaikumsalam. Kakak sedang di rumah, ini sudah mau ke rumah sakit. Apa ada masalah?
📲 : Oke, Kakak tutup dahulu. Assalamualaikum
📱 : Waalaikumsalam.
Daniel menutup telponnya dan meletakkannya di dalam saku ya lagi. Ia tersenyum puas kare a sandiwara akan segera dimulai.
"Bagaimana, apakah Gavin percaya?" Tanya Mommy Aurel.
Daniel mengacungkan jempolnya. Semua orang yang mendengar hal itupun senang. Mereka sedang menyiapkan sandiwaranya. Davina berpikir ini adalah hal konyol. Memang keluarganya konyol, namun ia baru tahu jika calon mertuanya juga sama konyolnya dengan kedua orang tuanya.
Gavin yang mendapat telpon dari sang adik langsung menyambar kunci mobilnya. Ia berlari menuju ke garasi mobil mewahnya berada. Gavin sudah tidak sabar ingin bertemu seseorang yang telah ia nantikan lama.
"Vina, aku akan segera datang. Tunggulah aku, sayang." Kata Gavin dalam hati.
Ia melakukan mobilnya dengan rasa senang yang memuncak. Rasanya seperti mendapat hadiah yang sangat berharga. Tapi dia tidak tahu jika nanti dia akan di beri kejutan oleh semua orang yang ada di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Gavin memarkirkan mobilnya di tempat khusus dan hanya orang penting saja yang boleh parkir di tempat parkir tersebut. Ia keluar dari mobil sambil membawa bunga kesukaan Davina yang telah dibelinya pada saat perjalanan menuju rumah sakit.
Gavin berlari menelusuri lorong rumah sakit dengan perasaan senang yang tak terkira. Semua orang yang ada disana senang karena melihat Gavin yang ceria dan tidak murung lagi. Walaupun tidak memperlihatkan senyum tampannya.
Setibanya di depan ruang Davina. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya. Diketuknya pintu tersebut. Tak berselang lama Mama Vita membuka pintu.
"Davina kamu sudah sadar? Aku sangat merindukan kamu. Ini bunga kesukaan kamu, aku mampir ke toko bunga untuk membelinya. Apakah kamu senang?" Tanya Gavin sambil memeluk Davina.
"Maaf lepaskan aku. Kamu siapa? Kenapa kamu memelukku? Ini memang bunga kesukaanku tapi, kenapa kamu bisa tahu. Apakah kita saling mengenal?" Kata Davina sambil menahan senyumnya.
Gavin tercengang tidak percaya. Bahwa Davina melupakannya. Ia menatap semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi? Mengapa Davina melupakan aku. Capat katakan!" Tanya Gavin.
"Kata dokter Davina mengalami amnesia ringan akibat komanya. Bukan hanya kamu saja yang dilupakan oleh Davina tetapi Keluarga Rafisqy. Kamu harus sabar, Gavin. Lambat laun pasti Davina akan mengingatmu lagi." Jelas Papa Kenan.
Semua orang yang ada di ruangan VVIP merasa iba melihat wajah Gavin yang murung. Namun demi melancarkan aksi mereka harus tahan melihat wajah murungnya.
"Kakak kemarilah. Duduk di samping Daniel!" Pinta Daniel.
Gavin berjalan menuju sofa yang diduduki oleh Daniel. Disandarkan kepalanya di sofa. Rasanya ia tidak percaya bahwa Davina melupakannya.
"Ma, Pa, Vina mau istirahat dulu. Rasanya mengantuk sekali." Kata Davina.
"Baiklah tidurlah yang nyey, sayang. Semoga mimpi indah." Ucap Mama Vita.
Mereka tahu Davina tidak benar-benar tertidur. Ia hanya ingin melihat seberapa cintanya Gavin kepadanya.
"Gavin, kita semua ingin pulang terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Bisakah kamu menjaga Davina?" Tanya Mama Vita.
Gavin menganggukkan kepalanya. Setelah mendapat jawaban dari Gavin mereka semua pulang ke rumah mereka masing-masing, membiarkan kedua insan yang sedang jatuh cinta mencurahkan isi hati mereka.
*
*
*
*
*
Terima kasih telah membaca novel ini. see you next time.