My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 12



"Beraninya kau menyentuh calon istriku. Lepaskan dia sekarang juga! Kalian seramg kedua lelaki tersebut!" Ucap Gavin dengan penuh amarah. Davina senang karena Gavin sampai tepat waktu.


Saat Gavin sampai dia sedang mencoba memberontak untuk lepas dari dekapan Varel. Tuan Adavsi dan Varel kaget karena Gavin berhasil masuk.


"Pengawal cepat masuk! Serang mereka semua. Cepatlah atau kalian akan mati bersamanya." Panggil Tuan Adavsi kepada para pengawalnya. Namun lama ia menunggu tidak ada sahutan dari luar.


"Pengawalmu telah tewas di tangan kami semua." kata Gavin dengan senyum smirk yang khas. Sontak mereka berdua berpikir siapakah sebenarnya Gavin? Mengapa dia mampu mengalahkan pasukannya yang semuanya telah terlatih.


Mereka memutuskan untuk menyerang Gavin, namun mereka terhalang oleh pengawal Gavin. Pengawalnya menyerang dan melindungi Gavin karena itu sudah menjadi prioritas dan tanggung jawab mereka. Sementara itu, Gavin berlari ke arah Davina pada saat Tuan Adavsi dan Varel lengah.


"Kau tidak apa-apa? Apakah ada yang sakit? Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik." Ucap Gavin sembari memeluk Davina. Ia merasa bersalah karena telah teledor dalam menjaga calon istrinya. Seharusnya saat ini dia sudah mengucapkan janji suci bersama Davina. Gavin mengeluarkan air matanya saat melihat Davina yang sudah terlihat kacau. Wanita itu mengeluarka isak tangis yang sangat kencang. Ia baru perta kalinya melihat seorang Davina yang terkenal dingin dan sangat menangis tersedu-sedu.


Saat mendengar ucapan Gavin, Davina menggelengkan kepalanya. Ia tidak apa-apa, namun rasanya mulutnya tidak bisa membuka suara karena senang Gavin telah menyelamatkannya. Jika Gavin tidak datang tepat waktu mungkin, mahkota yang selama ini ia jaga untuk suaminya akan hilang. Ia terharu dengan perjuangan Gavin. Walaupun sudah ada luka di berbagai bagian tubuhnya, ia masih berusaha mencari Davina. Davina menangis di dalam pelukan Gavin. Ia merasa, seketika dia cinta kepada Gavin.


"Davina, aku mencintaimu. Entah kapan perasaan ini datang. Pada saat kita bertemu pertama kalinya di sekolah aku sudah menanamkan benih cinta kepadamu. Mungkin aku tidak menyatakan perasaan ku secara romantis seperti pasangan lainnya. Tapi, perasaan ku tulus dari dalam. Aku tidak mau kita terpisah, kita harus selalu bersama. Davina maukah kamu menjadi pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku, kita menua bersama. Mengukir kisah cinta yang indah dan mengelilingi dunia bersama keluarga kecil kita kelak. Memang caraku mengungkapkan cinta kepada mu tidak pantas. Seharusnya putri dari keluarga Ailen dilamar dengan nuansa yang mewah dan meriah. Tetapi, lihatlah aku bahkan mengungkapkan cintaku kepada sang putri pada saat sang putri diculik. Saat kita telah kembali dari sini, aku akan menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah dan meriah." Ungkapan hati Gavin, ia berharap Davina menerimanya.


Davina tersentuh saat mendengar kata-kata Gavin. Ia sangat senang pada saat Gavin mengatakan bahwa ia mencintainya. Davina mengangguk bahwa ia menerima Gavin. Namun, ia akan merahasiakan perasaanya dari Gavin. Davina akan memastikan perasaannya terlebih dulu. Memang pada saat awal bertemunya ia dengan Gavin, Davina sudah terpesona denga ketampanan seorang Gavin Faresta Rafisqy yang memiliki badan atletis idaman semua kaum hawa. Buktinya pada saat Gavin lewat semua mata tertuju padanya. Menurut Davina, Gavin adalah anak yang baik dan benar. Walaupun di depan orang lain Gavin menampakkan wajah datar dan dingin seperti didrinya. Tapi, jika sudah bersama keluarganya pasti dia akan besikap ramah.


Saat mereka berpelukan Varel melihat itu. Ia langsung berlari ke arah Gavin dan Davina. Varel menarik kerah Gavin lalu memukulinya. Davina yang melihat hal tersebut kaget. Ia merasa iba kepada calon suaminya tersebut. Sementara itu, Tuan Adavsi telah babak belur di hajar oleh pengawal Gavin. Varel semakin memperkuat pukulannya kepada Gavin.


Wajah Varel berubah menjadi warna merah padam. Ia berpikir ayahnya telah pingsan di hajar oleh pengawal Gavin. Dia harus bisa merebut Davina dari Gavin. Ia tidak ingin melihat orang yang dia cintai bahagia bersama orang lain. Napas keduanya sudah ngos-ngosan. Varel berpikir untuk menembak Gavin. Supaya dia tidak berdaya . Ia mengeluarkan pistol dari belakang jaketnya. Ia mengarahkan pistol tersebut ke arah Gavin dan


" Awasss...."


*


*


*


*


*


Maaf lama up. Aku kasih bonus Davina