My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 21



Setelah mereka pulang, Gavin menghampiri Davina yang kembali terlelap di atas tempat tidur. Ia memperhatikan wajah damai Davina yang pulas tertidur. Perasaannya campur aduk. Di sisi lain ia senang Davina sadar, tapi sisi lain hatinya sakit karena Davina lupa tentang dirinya.


"Vin, apa kamu bertemu pangeran tampan di dalam mimpi kamu? Kenapa kamu melupakan aku, Vin. Aku selalu berdoa semoga kamu tidak melupakan aku. Tapi Tuhan tidak mendengarnya, buktinya kamu melupakan aku dan keluargaku. Aku ingin kamu segera mengingatku. Orang yang dahulu kamu benci dan kamu ejek, sekarang menyayangi kamu." Kata Gavin.


"Cepatlah ingat kepadaku, Vin. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, aku berjanji akan menjaga kamu. Walaupun kamu belum mencintaiku, tapi cobalah untuk belajar mencintaiku. Aku memang tidak sempurna, aku tidak sehebat pahlawan avengers, namun aku akan berusaha menjadi orang terbaik selain Papa Kenan dan Daniel. Seharusnya aku yang ada di posisi kamu, aku yang harusnya tertembak. Bukan kamu, lelaki itu akan aku hajar sampai habis. Beraninya dia menyentuhmu, Maafkan aku karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Seharusnya waktu itu adalah waktu yang membahagiakan bagi kedua keluarga kita. Namun seseorang telah menggagalkannya. Cepatlah ingat kepada aku, Vina. Selamat malam, semoga mimpi kamu indah." Lanjut Gavin.


Ia mencium kening Davina, setelah itu dia membaringkan kepalanya di samping Davina. Rasanya sakit melihat Davina saat ini, walaupun sudah sadar, namun wajahnya masih pucat. Di peganglah tangan Davina yang tidak ada selang infusnya. Setelah itu ia terlelap tidur karena lelah dan sesak hari ini.


Davina yang memang hanya berpura-pura tidurpun, mendengar curahan hati Gavin untuknya. Sebenarnya ia tidak tega melihat Gavin mengeluarkan air matanya, Tapi demi mengikuti rencana konyol keluarganya dan keluarga Gavin. Ia harus menahan rasa ibanya untuk sang calon suami. Saat Gavin terlelap tidur, Davina mengusap kepala Gavin. Badan yang dahulu kekar dan wajah yang putih. Namun sekarang badannya tidak terawat, wajah tidak terurus, menjadikannya untuk bertekad mengurus Gavin jika sudah sehat.


Davina ingin membalas budi terhadap Gavin yang sudah menjaganya selama dia koma. Ia akan membalasnya dengan selalu setia bersama Gavin dan tidak akan membuat Gavin sedih karenanya. Setelah puas mengusap rambut Gavin, Davina memutuskan untuk tertidur dan akan memberi kejutan terhadap Gavin.


Keesokan harinya di ruang rawat Davina



Sepasang orang tengah tertidur pulas dan damai. Sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela telah menyilaukan mata salah satunya. Davina ia mengerjakan matanya dan mencoba menyesuaikan sinar matahari yang masuk. Ia merasa tangannya kebas karena genggaman tangan lainnya. Ia melirik ke arah tangannya, dan benar saja Gavin menggenggam tangannya terlalu kencang.


Davina mencoba melepaskan tangannya dengan cara menggerakkannya supaya Gavin sadar dan melepaskan genggamannya.


"Tolong lepaskan genggaman kamu, tangan ku terasa kebas." Ucap Davina sambil menepuk pundak Gavin.


"Hey, tolong lepaskan tanganmu dari tanganku. Aku merasa kebas dan tidak enak." Titah Davina lagi.


"Oh, baiklah. Maaf aku telah menggenggam tanganmu semalam." Kata Gavin sembari melepaskan genggaman tangannya.


"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu tidak sengaja. Terima kasih sudah menemani aku istirahat. Pasti kamu lelah telah menjagaku semalaman, apakah waktu tidurmu cukup?" Tanya Davina.


"Ya, waktu tidurku cukup. Aku tidak merasa lelah jika itu untuk menjaga kamu. Seharusnya kamu tidak perlu sungkan kepadaku. Sebentar lagi aku akan menjadi orang yang selalu menjaga kamu dan menemani kamu di saat kamu senang meupun susah. Jadi mulai sekarang kamu tidak perlu sungkan." Jelas Gavin.


"Aku pikir kamu akan lelah jika menjaga ku terus. Apakah kamu sedih aku tidak mengingatmu. Aku merasa aku tidak pantas bersamamu, kamu yang telah menjagaku tapi aku tidak tahu kamu ini siapa." Kata Davina sambil menunduk lesu.


"Aku memang sedih saat kamu melupakan aku. Tapi aku juga senang kamu sudah sadar dan bisa bercengkrama kepada semua keluarga lagi, walaupun kamu tidak mengingatku tapi aku akan selalu berada di samping kamu. Aku tidak akan mencari wanita lain, mau wanita itu cantik, kaya, dan pintar. Tapi aku sudah berjanji kepada diriku untuk selalu setia kepada kamu. Karena kamu telah mengorbankan nyawa kamu untuk meyelamatkan aku. Jadi sampai kapanpun aku akan bersama kamu. Jangan berpikir bahwa aku akan mencari wanita lain. Kamu harus berjanji untuk selau bersamaku." Kata Gavin sambil menggenggam tangan Davina.


Davina yang mendengar hal itu langsung menitihkan air matanya. Ia tidak sanggup mendengar cerita Gavin. Hatinya begitu tersentuh mendengar ungkapan Gavin yang tulus dari hati. Tamengnya untuk menahan rasa sedihnya telah ambruk. Davina segera memeluk Gavin dan menangis sesenggukan di pundak nya.


Gavin yang mendapatkan pelukan mendadak dari Davina seketika mengembangkan senyumnya dan berpikir heran. Ia membalas pelukan Davina dan mengusap punggung Davina dan menenangkannya. Ia berharap Davina telah mengingatnya.


"Sudahlah jangan menangis, nanti wajah cantikmu akan hilang. Kenapa kamu menangis aku tidak rela melihat air mata kamu keluar begitu deras. Cobalah cerita kepadaku. Mungkin aku bisa membantumu. Apakah kepalamu sakit? Atau perut kamu sakit?" Tanya Gavin dengan sedikit khawatir.


Davina menggelengkan kepalanya. Ia belum ingin melepaskan pelukannya. Di saat mereka sedang berpelukan seseorang mengetuk pintu itu.