
Setelah perawat keluar dari ruang Davina. Mama Vita langsung duduk di samping brankar Davina, dengan menggenggam tangannya. Ia sangat prihatin melihat keadaan sang anak. Walaupun terkenal cuek dan dingin kepada semua orang, namun jika sudah di rumah maupun dengan keluarga besar Davina akan terlihat ceria. Mama Vita sangat merindukan sosok Davina yang lucu, ceria, dan tingkah konyolnya.
Sekarang sosok itu terbaring lemah, wajah pucat, mata tertutup, dan banyak alat medis yang menempel. Semua keluarga besar Ailen dan Rafisqy hanya bisa berdoa dan bersabar menanti kesadaran Davina. Gavin hanya menatap brankar Davina dengan tatapan kosong. Separus hati dan jiwanya hilang saat Davina tidak membuka matanya dan harus tertidur entah berapa lama. Suasana ruangan itupun hening.
"Jika kalian ingin istirahat tidak apa-apa. Biar Gavin yang menjaga Davina disini. Gavin tahu kalian pasti lelah. Jadi kalian semua pulanglah, besok kita bergiliran." Ucap Gavin.
"Tapi, kamu lebih lelah, Nak. Kamu telah menyelamatkan Davina, melawan penjahat, dan juga kamu terluka. Jadi kamulah yang pulang, besok datanglah kemari. Papa takut kamu akan sakit." saran Papa Kenan. Ia tidak tega melihat sang calon menantu terluka dan harus menjaga Davina.
"Pa, aku mohon aku akan menjaga Davina malam ini. Aku akan istirahat disini, sembari menjaga Davina." mohon Gavin. Papa Kenan yang melihat hal tersebut tidak tega. Dia menyadari betapa besarnya cinta Gavin kepada anaknya.
"Baiklah kamu bisa menjaganya malam ini. Tapi, kamu harus berjanji besok selama 2 hari kamu harus istirahat total." kata Papa Kenan.
Gavin mengangguk semangat. Ia sangat senang karena akan menemani calon istrinya itu. Walaupun dirinya sangat sedih melihat kondisi Davina saat ini, namun dia juga harus tetap semangat demi membantu Davina sadar. Gavin berjanji kepada dirinya sendiri akan menjadi lelaki yang kuat, penyayang, dan tidak akan menyakiti hati Davina yang sudah berkorban demi menyelamatkan nyawanya.
Saat ini perasaannya sangat menyesal tidak bisa menjaga Davina. Ia selalu berpikir seharusnya dia yang ada di posisi Davina saat ini. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain Davina lah yang tertembak dan harus tergeletak di atas brankar.
"Ya sudah, kami semua pamit pulang dahulu. Jangan lupa kamu juga harus istirahat. Jika ada masalah kamu segera telpon Daddy ataupun Papa Kenan. Besok kita akan kembali lagi. Dan juga jangan lupa sholat, mohon doa kepada Allah." pesan Daddy kepada Gavin.
Setelah semua keluarga pulang, Gavin menutup pintu kamar VVIP tersebut. Ia berjalan menuju kursi di samping tempat tidur Davina. Ia memegang tangan Davina dan menciumnya. Dilihatnya wajah cantik yang sedang terlelap tidur, wajah yang selalu membuat Gavin senang dan melupakan masalah. Ia mencium tangan Davina berkali-kali. Tak terasa buliran air keluar dari matanya.
"Hai, Vina. Kenapa kamu tertidur sangat pulas? Apakah kamu tidak ingin bangun? Semua orang menunggu kamu untuk bangun. Ayolah Davina bangun. Aku sangat merindukanmu, rasanya sangat dominan dihatiku saat ini. Merindukanmu itu seperti hujan yang datang tiba-tiba dan cukup lama. Walaupun kamu tertidur, aku harap aku selalu datang ke dalam mimpi indahmu. Jika satu-satunya tempat untuk melihatmu tersenyum adalah di dalam mimpiku, maka aku rela tidur untuk selamanya. Saat ini aku berusaha menyibukkan diriku, Vina dengan cara memikirkan masalah sekolah, perusahaan dan lainnya. Tetapi saat aku berhenti memikirkan semua itu pikiranku jatuh kepada dirimu lagi....." Gavin menjeda kalimatnya dan menyeka air mata yang jatuh.
"Vina aku akan mengungkapkan isi hatiku melalui sebuah puisi..
...*Tahukah kau kasih,...
...Aku terlalu larut dalam keheningan...
...Dalam rindu yang tak bisa kulukiskan...
...Hanya bayang mu yang ada di ingatan...
...ku tahu ini bukan awal kasih...
...bukan pula akhir...
...namun hadirmu datang temani malah semakin...
...ku merasa sendiri...
...Akan sampai kapan kau bertahan?...
...Akan sampai kapan kau tertahan?...
...Coba fikirkan, wajah wajah perindu merindumu...
...Sungguh .....
...Yang ku inginkan hanyalah senyummu...
...Yang ku nantikan hanyalah tawamu...
...Mengisi waktu yang tak menentu...
...Harap kau mengerti...
...Karena rasa dan cintamu begitu berarti...
...Ku mohon tetaplah temani...
...Raga dan hati yang telah kau miliki...
...Sepi terasa saat kau tak di sini...
...Hanya suara kalbu dan irama lagu yg mengiringi...
...Setiap alunan lagu itu mengingatkanku tentangmu...
...Hari-hariku kini dipenuhi banyak hal...
...Semuanya mengarah padamu...
...Tak kuat rasanya memendam rasa ini terlalu lama...
...Inginku meluapkan semua isi kalbuku...
...Kini ku harus sabar menunggu...
...Sampai Tuhan benar-benar memberikanku...
...Bertemu lagi denganmu pada saat nanti...
...Walau waktu tak biza kuputar lebih cepat...
...Walaupun Rasa ini terlambat tuk disampaikan...
...Tuhan akan selalu...
...bersamaku Walau kau tak bersamaku...
...Tuhan akan selalu menjagaku...
...Walau kau tak bisa menjagaku...
...Aku yakin ini yang terbaik dari Tuhan*...
Itu adalah ungkapan rasa hatiku untuk mu Davina. Jika kau mendengarnya maka aku berharap kamu bisa cepat sadar. Disni kami semua selalu menunggu kamu. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu dengan baik. Aku harap kamu cepat sadar, sayang." Ungkap Gavin.
Lalu, ia berdiri dan mencium kening Davina dengan lembut dan mesra. Setelah itu ia membisikkan sesuatu di telinga Davina.
"I Love you Davina Farensia Ailen. Semoga kamu memimpikan aku. Selamat malam, sayang." bisik Gavin. Setelah nya ia merebahkan kepalanya di samping tangan Davina.