My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 18



Mereka langsung menuju ke mushola yang ada di rumah sakit tersebut. Walaupun itu ada di luar negeri, tetapi tidak semua orang yang ada di sana beragama Nasrani. Jadi perusahaan Ailen menyediakan mushola untuk muslim.


Yang memimpin shalat berjamaah adalah Papa Kenan. Sebelum mereka melakukan shalat berjamaah, mereka telah mengambil air wudhu. Shalat terlaksanakan dengan khidmat. Mereka sangat khusyuk, karena mereka sedang berhadapan dengan sang pencipta. Sesudah shalat, Papa Kenan memimpin doa.


"Ya Allah Ya Tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Sadarkanlah Davina dari komanya, pulihkan lah keadaannya seperti sediakala. Kami semua sangat menantikan kesembuhan Davina. Angkatlah penyakitnya Ya Allah. Tanpa Davina keluarga kami begitu sepi. Kami serahkan ini kepada engkau Ya Allah. Jikalau memang ini sudah takdir keluarga kami, maka kami tidak bisa berbuat apa-apa. Mohon sembuhkan lah Ya Allah. Tolong kabulkanlah doa kami, Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar, Aamiin Ya Robbal Alamin." Doa Papa Kenan. Semua langsung membaca surat Al-fatihah untuk mengakhiri doa mereka.


Setelah melaksanakan Shalat Zuhur berjamaah, mereka memutuskan kembali ke ruangan Davina. Tidak ada percakapan di sepanjang lorong rumah sakit. Mereka hanya terdiam. Apalagi Gavin, ia tidak mengucapkan sepatah katapun saat bersama mereka. Sikapnya berubah menjadi sangat dingin. Memang dia terkenal dingin, namun jika dengan keluarganya ataupun keluarga Ailen dia akan sedikit ramah. Akan tetapi setelah kejadian yang menimpa Davina, ia menjadi pendiam.


Sepanjang lorong rumah sakit, suster dan dokter yang berpapasan dengan mereka menundukkan kepala dan tersenyum ramah, serta menyapa mereka. Hal itu hanya ditanggapi dengan anggukan dari mereka semua. Sesampainya di ruang Davina Mama Vita mengajak mereka makan siang restoran terdekat. Mereka mengiyakan ajakan Mama Vita kecuali Gavin.


"Aku akan tetap disini menemani Davina. Jika kalian ingin makan siang maka aku yang akan menjaga Davina." Ucap Gavin dengan nada dingin.


"Tapi, kamu belum makan siang. Kamu hanya sarapan pagi dan itu juga hanya sedikit. Walaupun Davina lemah dan masih koma, kamu juga harus tetap menjaga kesehatan kamu. Jangan sampai kamu jatuh sakit, dan nanti saat Davina sadar badan kamu kurus dan tidak terawat. Kita semua akan merasa bersalah kepadanya karena tidak menjaga calon suaminya dengan baik. Jadi nanti kita bergiliran makannya. Sebentar lagi Grisel akan datang dan menemani Davina saat kita makan siang." Jelas Mommy Aurel.


Mereka menyetujui kalimat Mommy Aurel. Gavin mengangguk pasrah. Sebenarnya dia tidak ingin makan karena rasanya sangat tidak enak. Saat sang calon istri sakit, di malah makan sedangkan dia tidak makan. Gavin terus sja menatap Davina lekat.


"Ya sudah, kita pergi ke restoran yang ada di depan rumah sakit ini saja. Gavin nanti jika Grisel sudah datang kamu harus segera menyusul kami. Kami tidak ingin kamu sakit. Kamu dengarkan?" Tanya Mama Vita yang membuyarkan tatapan Gavin terhdap Davina.


"Iya, Ma. Gavin dengar, sekarang jika kalian sudah merasa laparaka pergilah dahulu. Aku kan menunggu Grisel datang." Kata Gavin.


Para orang tua dan Daniel pergi ke restoran yang mereka bicarakan. Gavin duduk disamping brankar dan menggenggap tang Davina. Dia seolah tidak ingin pergi dari sisinya. Tidak berselang lama ada ketukan dari luar. Gavin menyuruhnya untuk masuk. Ternya yang datang adalah Grisel.


"hai, Kak. Bagaimana keadaan Kak Davina?" Tanya Grisel.


"Belum ada perkembagan, doakanlah dia supaya dia cepat sembuh. Kamu darimana saja jam segini Bru kelihatan?" Tanya Gavin.


"Aku baru saja pergi ke restoran Mommy, untuk mengecek masalah yang ada disana. Sebaiknya Kakak pergi menyusul Mommy dan yang lainnya. Biar Kak Davina aku yang menjaganya. Tidak usah khawatir dia akan aman bersamaku. Aku tidak mau dihukum oleh kakak ipar gara-gara tidak memberi makan calon suaminya. Bisa-bisa aku dihajar oleh kakak ipar." Kata Grisel.


Gavin hanya menggelengkan kepala menanggapi tingkah konyol Grisel. Ia bangkit dan keluar ruangan untuk menyusul yang lainnya. Saat sang kakak sudah pergi Grisel menumpahkan air matanya yang ia pendam sejak tadi.


"Kakak cepatlah bangun, aku sangat merindukan nasihat kakak. Aku ingin menceritakan masalahku saat ini, Kak. Saat kakak terbaring lemas, tiada orang yang mau mendengarkan keluh kesalku, Kak. Mommy sibuk dengan pekerjaannya begitupun dengan Daddy. Kak Gavin sangatlah menyebalkan saat aku cerita kepadanya. Pastilah aku di tertawakan. Kak Davina adalah kakaka yang aku sayangi. Aku sangat memimpikan kakak perempuan, saat Kak Gavin berpacaran bersama Kak Ratu, batinku tidak sedekat dengan kakak. Saat aku berada disamping Kakak rasanya sangat damai. Namun, disamping Kak Ratu rasanya sangat kesal dan bad mood. Aku berjanji akan melenyapkan orang yang sudah berani menembak Kakak hingga jadi seperti ini." Keluah Grisel.


Tanpa sadar air mata Davina mengalir dari matanya yang terpejam. Seakan dia mendengar keluh kesal sang calon adik ipar.


"Kak, apakah kakak mendengar ucapanku? Jika iya maka sadarlah kita semua selalu menantikan hal itu. Apalagi Kak Gavin yang sangat menginginkan hal tersebut. Badannya sekarang tidaklah terawat seperti dahulu, makan telat, jarang pulang ke rumah, dan jarang olahraga. Dia sangat setia disamping Kakak. Aku mohon kak bangun." Kata Grisel.


Pada saat Grisel sedang berbicara kepada Davina, semua orang telah kembali dari restoran. Saat Mama Vita akan masuk ruangan iya melihat Grisel menangis di samping brankar Davina. Ia membiarkan Grisel mencurahkan isi hatinya kepada Davina. Mereka mendengar ucapan Grisel, dan tanpa sadar air mata mereka mengalir. Karena terharu mendengar ucapan Grisel. Mommy Aurel tidak menyangka anak gadisnya yang terkenal ceria dan humoris bisa terisak disamping brankar sang calon kakak ipar. Selama Grisel menginjak usia 7 tahun, ia tidak pernah menangis. Dia akan menangis pada saat upacara pemakaman ataupun hal yang menyedihkan. Grisel adalah anak yang tidak cengeng, walaupun dia sedikit manja kepada keluarganya, tapi tidak akan meminta sesuatu yang besar dan mahal.


Setelah dirasa sudah tenang. Mereka masuk kedalam ruangan. Grisel yang melihat hal tersebut langsung menghapus air matanya yang tadi mengalir. Ia tidak ingin terlihat sedih didepan keluarganya.


"Apakah kalian sudah selesai makan siang?" Basa-basi Grisel.


"Iya, sayang. Kita sudah selesai. Apakah kamu sudah makan siang?" Tanya Mommy Aurel.


Grisel mengangguk seraya berjalan menuju sofa dan duduk di samping Daniel. Kedekatan keduanya sangatlah akrab, karena mereka adalah teman dari kelas 1 SMP. Kemanapun mereka pergi pastilah berdua, banyak yang mengira mereka pacaran tetapi mereka menyangkal itu. Grisel sudah memiliki tambatan hati yaitu adik dari sahabat kakaknya yaitu Arkan adik dari Arka. Sedangkan Daniel dia tengah mengincar teman satu kelasnya yang terkenal pendiam dan misterius. Yaitu Salsabila Carina Darwin.


Grisel menyenderkan kepalanya dibahu Daniel. Para orang tua yang melihat hal tersebut geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak bungsu mereka. Memang mereka terlihat seperti sepasang kekasih namun, sebentar lagi mereka akan menjadi saudara. Daniel mengusap bahu Grisel dengan lembut. Mencoba menenangkan sang sahabat sekaligus calon saudaranya.


*


*


*


*


Terima kasih telah membaca. Jika yang tidak suka bisa di lewati saja novel ini. Neohuideul-eul salanghae❤️