My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 17



Ternyata yang datang adalah Mama dan Papa Davina. Mereka membawa buah yang sudah dibeli mereka saat mampir ke pusat perbelanjaan.


"Bagaimana keadaan Davina?" Tanya Papa Kenan. Gavin dan Daniel kompak menggelengkan kepala. Kedua orang tua Davina mengerti akan jawaban itu. Mama Davina langsung berjalan mendekat ke arah brankar Davina dan duduk di sebelahnya. Ia menggenggam tangannya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang Mama datang, Mama membawakan buah kesukaan kamu. Kapan kamu akan bangun? Mama mengira saat Mama dan Papa datang kamu sudah membuka mata kamu. Rasanya sepintidak ada kamu, kita rindu sikap kamu yang selalu dingin namun konyol. Rindu suara kamu dan nasihat kamu kepada Daniel. Cepatlah bangun sayang kasihan Gavin yang menunggu kamu sejak semalam. Dia setia menemani kamu, padahal dia sendiri juga terluka. Mama berharap saat kamu bangun nanti, kamu tidak lupa dengan kita semua." Ucap Mama Vita.


Gavin sejak dari tadi hanya diam, dia masih merasa bersalah atas kejadian ini. Papa Kenan yang melihat hal tersebut menjadi kasihan. Ia tidak tega melihat Gavin seperti sekarang ini. Di ruang VVIP tersebut sangatlah sepi suasananya. Semua orang yang ada di dalam ruang itu bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Tanpa mereka sadari ada orang masuk.


Yang masuk adalah Daddy Samuel dan Mommy Aurel. Mereka datang untuk menjenguk Davina dan memberi support kepada calon besannya.


"ehm...." Daddy Samuel berdehem untuk memecah suasana sunyi yang ada di ruangan Davina. Seketika semuanya menoleh ke arah asal suara. Mommy Aurel mendekati Mama Vita dan memberinya kekuatan agar sabar menunggu Davina sadar. Gavin langsung mencium tangan sang Daddy.


"Apakah ada kemajuan dari kondisi Davina?" tanya Mommy Aurel.


"Dokter belum datang, mungkin sebentar lagi mereka datang. Kita berdoa saja." jelas Papa Kenan. Disaat mereka tengah membahas tentang rencana sesudah Davina siuman. Mama Vita merasakan gerakan dari tangan Davina.


"Pa, Davina beregrak. Cepatlah panggil dokter untuk memeriksanya." Perintah Mama Vita. Papa Kenan langsung menekan tombol yang ada di atas brankar.


Para suster dan dokter yang mendengar bunyi sirine tersebut, langsung panik dan cemas akan kondisi Davina. Mereka sangatlah menyayanginya, semua perawat dan dokter selalu berdoa atas kesadarannya. Davina sangat terkenal dermawan, rendah hati, dan juga peduli sesama orang. Ia tidak memandang fisik ataupun latar belakangnya. Saat ada acara amal yang diselenggarakan di rumah sakit tersebut ataupun di tempat lainnnya, Davina pasti akan menyumbangkan uang ataupun barang yang bermanfaat dan berguna. Selain itu, Davina juga menyayangi anak-anaknya yatim piatu. Setiap kali ia mendapat rezeki yang banyak, sebagian ia sumbangkan ke panti asuhan.


Dokter dan perawat langsung berlari menuju ruangan Davina.


"Did something happen to Mrs. Davina? ( apakah terjadi sesuatu kepada nyonya Davina?)" tanya sang Dokter. Papa Kenan langsung memerintahkan dokter untuk memeriksa keadaa Davina. Mereka berharap Davina lekas sadar dan pulih.


"Is there nothing we need to worry about Davina's condition. How long will it take Davina to wake up, doctor? ( Apakah tidak ada yang perlu kita khawatirkan tentang kondisi Davina. Berapa lama lagi Davina akan siuman, dokter?)" tanya Mama Vita.


"So far we have nothing to worry about. I am not sure when Mrs. Davina will wake up, but judging from the response given it may not take long. we keep praying to God and invite to talk and give words of encouragement. If you have nothing to ask again, please say goodbye. There are still patients I have to check .( Sejauh ini tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Saya belum bisa memastikan kapan Nyonya Davina akan siuman, tapi melihat dari respon yang diberikan mungkin tiadak lama lagi. Kita teruslah berdoa kepada Tuhan dan ajaklah berbicara dan berikan kata-kata semangat. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan kembali, saya mohon pamit. Masih ada pasien yang saya harus periksa.)" Ucap sang dokter.


Semua hanya menganggukkan kepala mereka. Mama Vita terus saja mengajak Davina berbicara. Gavin melirik jam tangannya ternyata sudah masuk waktu shalat Zuhur.


"Ini sudah masuk jam shalat Zuhur, Gavin mau ke mushola untuk menunaikan kewajiban Gavin." pamit Gavin.


"Baiklah, ayo kita shalat berjamaah. Kita doakan kesembuhan Davina dan semoga Davina bisa lekas sadar." ajak Daddy Samuel. Mereka berpamitan kepada Mama Vita dan Mommy Aurel.


*


*


*


*


Maaf aku lama, aku masih banyak tugas. Readers mohon doanya semoga nilai ulangan author bagus. Makasih udah setia menunggu cerita ini😙