My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 25



Seusai makan siang, Davina langsung menyalakan laptopnya untuk mendengarkan lagu. Sedangkan Gavin membereskan tempat makan yang tadi digunakannya.


"Vina, kamu mau minum apa? Air putih atau susu?" Tanya Gavin.


"Aku ingin meminum air putih saja." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Gavin menyodorkan botol berisi air putih kepada Davina. Ia meminum dengan perlahan supaya tidak tersedak. Tidak lupa Davina juga memakan obatnya.


"Bisakah jika kamu lagi minum itu melihat ke arah botolnya. Jangan terlalu fokus terhadap laptop mu itu. Apa bagusnya di laptop. Lebih bagus yang berada di sampingmu ini." Dengus Gavin.


"Diamlah aku sedang menonton mv EXO CS yang terbaru. Disini Sehun Oppa sangat tampan. Aku ingin sekali memiliki suami sepertinya." Kata Davina.


"Hey, calon suami mu ini jauh lebih tampan dari pada oppa-oppa Korea itu. Aku ini juga bisa dance dan menari." Omel Gavin.


Davina mencubit pipi Gavin dengan gemas. Menurutnya muka Gavin yang sedang merajuk sangatlah lucu. Gavin yang diperlakukan seperti itu hanya diam saja.


"Vin, lihatlah foto ini



Dia begitu sangat tampan dan menawan." Tunjuk Davina.


"Baiklah terserah kamu saja. Tapi aku rasa ketampanan ku tidak jauh berbeda dari Oh Sehun mu itu. Walaupun dia tampan tapi yang kau mendapatkan ku." Sombong Gavin.


Davina memutar bola matanya malas. Ia memang mengakui kepiripan wajah antara Gavin dengan Sehun, namun ia tetap mengidolakan Oh Sehun tersebut. Davina adalah penggemar EXO dan NCT paling keras. Semua barang mulai dari album, lightstick, album, hingga barang-barang lainnya ia mempunyai nya. Davina tidak mempermasalahkan harga. Toh, dia mempunyai uang yang tidak akan habis jika hanya untuk membeli keperluan tersebut.


Di saat perdebatan kecil mereka, seseorang memanggil nama mereka berdua. Dia adalah dokter yang menangani Davina selama dirawat.


"good afternoon Mr Gavin and Mrs Davina. I came to check on Mrs Davina's current state. (selamat siang Tuan Gavin dan Nyonya Davina. Saya datang untuk memeriksa keadaan Nyonya Davina saat ini.)" kata sang Dokter.


Gavin mempersilahkan sang dokter untuk memeriksa keadaan Davina. Ia menunggu sambil duduk di sofa ruangan tersebut. Davina berharap supaya ia diperbolehkan untuk secepatnya pulang. Rasanya lebih enak berada di rumah nya yang nyaman.


"Can I go home, Doctor? (Apakah saya sudah boleh pulang, Dokter?)" Tanya Davina.


"Your condition is stable, but your gunshot wounds are not completely dry. Now I will change your bandage and clean the wound. (Keadaan anda memang sudah stabil, namun luka tembakan anda belum mengering sempurna. Sekarang saya akan mengganti perban anda dan membersihkan lukanya.)" Jelas sang Dokter.


"Mr. Gavin may I change Mrs. Davina's bandages? (Tuan Gavin bolehkah saya mengganti perban Nyonya Davina?)" Izin dokter.


"OK, change the bandage carefully. I will wait for him outside the room. (Baiklah, ganti perbannya hati-hati. Saya akan menunggunya di luar ruangan.)" kata Gavin sambil bangkit dari duduknya.


Setelah kepergian Gavin, sang dokter menyibakkan baju Davina sampai bawah dadanya. Ia membuka baju itu dengan perlahan, karena takut mengenai luka tembakan Davina. Saat ingin membuka perbannya tangan sang dokter di tahan oleh Davina.


"Please call Gavin into this room! (Tolong panggilkan Gavin ke dalam ruangan ini!)" Perintah Davina.


Dokter cantik itu keluar dan memberi tahu Gavin. Untuk masuk ke dalam ruang VVIP tersebut.


Gavin masuk ke dalam dengan wajah yang susah di tebak. Tidak biasanya Davina ingin ditemani saat mengganti perbannya. Namun disisi lain ia juga senang karena bisa berada di samping Davina.


"Can we change the bandage now? (Bisakah kita mengganti perbannya sekarang?)" Tanya sang Dokter.


Davina menganggukkan kepalanya, tangannya memegang lengan Gavin. Ia merasa takut, walaupun sebelumnya ia selalu sendiri saat di ganti perbannya, namun ia juga sering merasakan sakit. Ia meremas lengan Gavin saat alkohol mengenai lukanya. Gavin yang mengerti akan hal itupun mengusap lembut tangan Davina yang tegang.


"Tenanglah, aku ada disini. Jangan tegang seperti itu." Kata Gavin.


Mendengar kata-kata Gavin, itu membuat Davina sedikit rileks. Namun tangannya tidak lepas dari lengan Gavin. Dokter yang melihatnya hanya tersenyum bahagia. Ia berharap calon suaminya kelak akan seperti Gavin. Di luar tampak dingin dan tegas, namun jika sudah dengan orang yang di sayangnya akan berubah menjadi perhatian dan baik.


"I've finished changing the bandage. If you have nothing to ask, please resign. (Saya sudah selesai mengganti perbannya. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan, saya mohon undur diri.)" pamit Dokter itu.


"Doctor, how long will it take for this wound to heal and when can Davina be home? (Dokter, berapa lama luka ini akan sembuh dan kapan Davina bisa pulang?)" Tanya Gavin.


"it is likely that in two or three days Mrs Davina will be allowed to return home. However, Mrs. Davina must be diligent in checking her health to check her gunshot wounds. (kemungkinan dua atau tiga hari lagi Nyonya Davina sudah diperbolehkan pulang. Namun Nyonya Davina harus rajin cek kesehatan untuk memeriksa luka tembakannya.)" ucap Dokter


Gavin mengerti apa yang dimaksud oleh perkataan Dokter tadi, setelah itu ia mempersilahkan Dokter untuk undur diri.


Ia masih di posisi yang sama ketika Davina diganti perbannya. Tangan Davina juga masih menggenggam lengannya dengan erat.


"Mau sampai kapan kamu nggenggam tangan aku seperti ini? Aku pasti akan selalu di samping kamu selamanya. Jangan khawatir aku pergi." Goda Gavin.


Davina reflek melepas tangannya, pipinya berubah warna menjadi warna merah karena malu. Ia langsung mengalihkan wajahnya dari pandangan Gavin.


Gavin yang melihat perubahan pada wajah Davina langsung mencubit pipinya.


"Mukanya kok merah kayak tomat matang. Kamu malu atau kenapa?" Tanya Gavin sambil tersenyum.


"Vin, udahlah jangan godain aku terus. Aku malu, Vin." Ucap Davina sembari menutup wajahnya menggunakan selimut.


Gavin gemas melihat tingkah laku Davina yang sedikit seperti anak kecil. Walaupun hal sepele namu sudah membuat hati mereka senang.


Gavin jail menggelitik perut Davina yang tidak ada luka tembakannya. Davina yang di jaili oleh Gavin tidak bisa membendung rasa gelinya. Ia menggeliat tidak nyaman dan mengeluarkan tawanya. Tawa yang sangat disukai oleh Gavin.


"Vin, aku mau pulang. Aku tidak tahan berada disini. Kamu coba bujuk dokternya, ya. Supaya aku bisa pulang secepatnya." Rengek Davina.


"Vina, kamu dengar sendiri tadi. Kamu boleh pulang dua atau tiga hari lagi. Jadi kamu harus sedikit bersabar. Apa jangan-jangan kamu tidak sabar ingin menikah denganku?" Tanya Gavin.


Davina benar-benar dibuat kesal oleh kelakuan Gavin yang usil. Ia mencubit perut Gavin secara bertubi-tubi. Bibir Davina berumah menjadi cemberut.



(bayangin aja itu di rumah sakit ya😁😁)