My Hubby Is My King

My Hubby Is My King
Bab 22



Seorang suster mengetuk pintu ruangan Davina, ia membawa sarapan untuk Davina. Sang perawat telah lama mengetuk pintu, namun tidak ada seseorang yang membukanya. Suster memutuskan untuk masuk ruangan tersebut.


"Excuse me Mr. Gavin, I would like to deliver breakfast for Mrs. Davina. I've been knocking on the door all this time, but there is no response . ( Permisi Tuan Gavin, saya ingin mengantarkan sarapan pagi untuk Nyonya Davina. Sedari tadi saya Sudah mengetuk pintu, namun tidak ada respon.)" Kata sang suster.


"OK, it's okay, put the breakfast on the table! ( Baiklah tidak apa-apa, letakkan sarapannya di atas meja!)" Titah Gavin.


Sang suster berjalan ke arah meja di samping Davina. Ia meletakkan sarapan di atasnya dan pamit undur diri. Davina dan Gavin hanya mengangguk menanggapi suster itu.


Setelah kepergian sang suster, Gavin beranjak berdiri dan mengambilkan sarapan untuk Davina.



"Vin, sarapan dulu biar badan kamu cepet sehat." Ucap Gavin.


"Gavin, aku nggak mau makan bubur rasanya nggak enak. Aku mau steak kalau enggak spaghetti." Tolak Davina.


Gavin yang mendengar Davina menyebutkan namanya kaget. Ia mengulas senyum tampannya ketika mendengar Davina menyebut namanya dengan jelas.


"Kamu sudah mengingatku, apa kamu tidak melupakan aku lagi?" Tanya Gavin.


"Sebenarnya aku tidak amnesia, ini hanya akal-akalan dari Mommy kamu sama Mama aku. Mereka mau buktiin ke aku kalau kamu beneran cinta sama aku. Dan benar aja kamu setia di samping aku walaupun aku melupakan kamu. Gavin, aku udah denger isi hati kami tadi malam. Saat aku pamit ingin tidur, aku hanya pura-pura. Jadi keluarga kita berhasil mengerjai kamu." Jelas Davina dengan senyum mengembang.


"Jadi, kalian hanya mengerjai ku. Wah, keterlaluan kalian, kemarin saat aku tahu kamu melupakan aku rasanya sakit. Dada aku sesak, Vina. Tapi mendengar kenyataannya, ternyata aku dibodohi sama kalian semua." Dengus Gavin.


"Sudahlah jangan marah. Ini hanya main-main saja, apa kamu mau aku melupakan kamu beneran?" Tanya Davina.


Pertanyaan itu langsung dijawab gelengan oleh Gavin. Ia tidak mau Davina melupakannya, dia mau Davina selalu mengingatnya. Gavin langsung memeluk Davina setelah ia meletakkan mangkuk bubur di atas meja. Davina mengusap lembut punggung sang calon suami.


"Baiklah, sekarang kamu makan aku suapi kamu. Pokoknya harus habis." Kata Gavin sambil mengambil mangkuk buburnya lagi.


"Aku tidak mau memakan bubur itu, terasa hambat dan tidak enak. Aku ingin makan steak atau spaghetti yang enak. Sepertinya makanan itu sangat lezat." Ucap Davina sambil membayangkannya.


"Tidak boleh, kamu belum sembuh luka tembakannya belum terlalu kering. Dan juga kata dokter kamu belum boleh memakan makanan yang seperti itu dulu. Maka kamu harus makan bubur ini." Jelas Gavin.


"Wah, calon istriku ini sudah pintar mengancam rupanya. Baiklah bilang saja kepada Papa Kenan. Pasti dia tidak akan membatalkannya. Jadi Davina Farensia Ailen makan bubur ini atau kamu mau aku suapi dengan cara lain." Kata Gavin dengan senyum devilnya.


Davina yang melihat hal tersebut langsung mengangguk. Gavin yang melihatnya jadi gemas dan ingin mencubit pipinya. Davina makan dengan sangat malas, ia tidak suka memakan bubur tersebut.


Ternyata sedari suster keluar dari ruangan Nyonya Ailen dan Nyonya Rafisqy berada di luar ruangan. Mereka masih mendengarkan apa yang Gavin dan Davina bicarakan. Mereka senang karena kedua anak mereka bisa bersatu kembali.


Di dalam ruangan Davina hampir menyelesaikan sarapannya. Hanya tinggal meminum air putih. Gavin sangat telaten merawat Davina. Ia yang melihat Gavin merawatnya dengan baik mengulas senyum yang indah di bibirnya. Gavin yang melihat pemandangan itu heran.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Apakah ada yang lucu? Apa jangan-jangan akibat koma, kamu jadi gila sekarang?" Tanya Gavin dengan sedikit menggoda Davina.


"Aku tidak gila, ya. Aku senyum karena kamu merawat ku dengan benar dan telaten. Selama ini tidak ada pria yang mau mengurusi pacarnya yang sedang sakit separah ini. Pacar ku yang dulu hanya mementingkan dirinya dan hanya sedikit meluangkan waktunya untuk bersamaku. Ia lebih memilih berjalan dengan para sahabatnya." Kata Davina.


"Hey, jangan bedakan aku dengan mantan mu yang pengecut itu. Aku ini berbeda darinya, aku lebih ganteng, baik, pengertian, dan yang pasti aku ini setia." Sombong Gavin.


"Baiklah, aku percaya perkataan mu. Tapi aku ingin memberikan ancaman untukmu yang berlaku seumur hidup. Jika suatu saat nanti kamu selingkuh aku pastikan aku akan pulang ke rumah keluarga Ailen. Dan kebalikannya jika aku selingkuh maka kamu boleh melakukan apapun sesuka hati kamu." Ucap Davina.


Gavin mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Davina. Ia sudah berjanji tidak akan pernah selingkuh dari Davina. Ia akan menjadikan Davina sebagai pelabuhan cintanya yang terakhirnya.


Tak sengaja mata Gavin dan Davina bertemu. Itu kejadian yang membuat jantung Davina berpacu dua kali lebih cepat. Disaat mereka bertatapan seseorang masuk ke ruang tersebut. Mereka adalah Mama Vita dan Mommy Aurel.


"Ehmm, apa kalian sudah puas bertatapan mata? Jika kalian belum puas maka kami akan pergi dahulu dan membiarkan kalian memuaskan tatapan kalian." Goda Mama Vita.


Seketika Gavin dan Davina menoleh ke asal suara. Gavin hanya menyengat kuda mendengar apa yang dikatakan oleh calon mertuanya tersebut. Namun lain halnya dengan Davina yang sudah menahan rasa malunya, pipinya sudah berubah warna menjadi warna kemerahan. Mommy Aurel yang melihat pipi Davina berubah warna menjadi gemas.


"Vina, jangan malu. Mulailah terbiasa dengan tatapan Gavin. Kalian sebentar lagi akan menikah jadi jangan malu." Kata Mommy Aurel.


"Mom, Davina ingin bertanya. Kapan Davina dan Gavin akan melangsungkan pernikahan? Dan juga selama Davina koma bagaimana sekolah Gavin, Daniel, Dan Grisel?" Tanya Davina dengan penuh penasaran.


"Selama kamu koma Gavin, Daniel, dan Grisel bersekolah lewat media online. Pihak sekolah menyetujuinya karena mereka tahu keadaan kamu. Dan kalau pernikahan kamu dan Gavin akan dilaksanakan setelah kamu sembuh. Jadi kamu juga akan ikut belajar online dengan Gavin, Daniel, dan Grisel. Kamu tidak perlu khawatir, semua persiapan pernikahan kamu sudah kedua pihak keluarga yang mengaturnya. Kamu dengan Gavin hanya tinggal melaksanakannya." Jelas Mommy Aurel.


Davina mengangguk mengerti atas apa yang dijelaskan oleh calon mertuanya itu. Ia sangatlah bersyukur kepada Allah karena telah menghadirkannya keluarga yang baik hati dan juga tidak sombong. Di dalam lubuk hatinya, ia selalu berjanji ingin membawa nama keluarganya dan nama keluarga Gavin menjadi lebih terkenal di dunia. Walaupun keluarga mereka berdua memang sudah terkenal.