My Girlfriend Is A Boss Mafia

My Girlfriend Is A Boss Mafia
My Girlfriend is A Boss Mafia



"Ini kan karna mu!" jawab Luna kesal.


"Udah-udah jangan nangis lagi," jawab Adrian sembari memberi isyarat kepada teman-temannya untuk keluar dan membiarkan Luna dan Adrian berdua.


"Aku dengar kamu berhenti sekolah?"


"Lagian aku sekolah kan karna syarat dari ayah, tapi ayahku malah melanggar janjinya dan karna ayahku juga kamu harus masuk kerumah sakit," jawab Luna sembari memanyunkan bibirnya.


"Luna!"


"Hmmm," jawab Luna singkat.


"Aku ingin kamu sekolah lagi. Ayah mu memang benar, kamu harusnya fokos sama sekolah, ayah mu memiliki tujuan yang baik, dia tidak ingin kamu menyesal kemudian hari."


"Kenapa sekarang kamu malah membela ayahku?" tanya Luna yang tampak kesal.


"Bukan membela tapi perkataan ayah mu memang benar."


"Jadi karna itu kamu menggatikan ku?" tanya Luna penasaran, Adrian hanya mengaguk sembari tersenyum manis.


"Baiklah aku akan kembali sekolah lagi," jawab Luna memanyunkan bibirnya.


"Gadis pintar," ucap Adrian sembari membelai kepala Luna dengan lembut, Luna hanya tersenyum saat Adrian membelai kepalanya dengan lembut.


Beda dengan Luna, Juna tampak sedih semenjak kembali dari rumah sakit.


"Kakak kenapa?" tanya Luna heran.


"Gak apa-apa kok," jawab Juna yang berusaha tersenyum manis.


Saat dirumah sakit Juna melihat Luna memeluk Adrian begitu erat, Juna merasa iri dengan Adrian. Semenjak kembali dari Amerika, Luna tidak pernah tersenyum, bahkan Luna tidak pernah sekalipun memeluk Juna.


Doni berlari kecil saat mobil Juna sampai di rumah.


"Ayah disini?" tanya Luna saat melihat mobil ayahnya.


"Benar Bos muda," jawab Doni mengaguk.


"Luna ayah benar-benar minta maaf," ucap Wilian yang begitu menyesal.


"Aku akan kembali sekolah, tapi setelah lulus aku akan mengambil alih bisnis ayah," potong Luna tersenyum manis.


Semua orang kaget mendengar perkataan Luna yang tiba-tiba ingin kembali sekolah.


"Aku ingin tidur lebih awal agar bangun lebih pagi," sambung Luna sembari berjalan pergi meninggalkan Wilian yang masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Apa aku berhalusinasi?" tanya Wilian sembari mencubit tangannya.


"Akh... Ternyata tidak," jawab Wilian tersenyum bahagia.


"Ayah, aku juga ingin tidur lebih awal," ucap Juna berlalu pergi.


"Silahkan-silahkan," jawab Wilian yang sedang merasa bahagia.


Keesokan harinya Wilian tengah memasakkan sarapan kesukaan Luna dan Juna dengan dibantu Bayu.


Sementara itu Luna baru saja bangun dari tidurnya, ketika mencium aroma yang begitu sedap dari dapur.


"Sudah lama aku tidak mencium aroma masakkan ini," ucap Luna bangun dari tempat tidurnya, Luna melirik jam nya yang sudah menunjukkan pukul 05:39 Wib.


"Waktunya bersiap-siap," ucap Luna tersenyum sembari berjalan menuju kamar mandi, tak beberapa lama kemudian Luna keluar dengan badan segar bugar. Setelah selesai memakai seragam sekolahnya, Luna pun merapikan rambut panjangnya.


"Apa kakak sudah bangun belum ya?" ucap Luna sembari menatap ke arah kamar Juna, saat ini Luna sedang dalam mod bahagia, Luna pun berjalan menuju kamar Juna.


"Kakak!" panggil Luna sembari membuka pintu kamar Juna.


"His dia masih tidur!" ketus Luna sembari berjalan menghampiri Juna yang masih tertidur pulas, melihat Juna yang masih tertidur pulas, Luna berniat ingin menjahili Juna.


"Kakak!" panggil Luna dengan suara sembari membiarkan wajah manis nya tertutup oleh rambut panjangnya.


"Hmmm," ucap Juna yang masih ngantuk sembari membuka matanya.


"Aaaaaa..." Teriak Juna keras saat melihat Luna seperti hantu.


"Hahahaha..." Luna tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Juna berubah menjadi pucat.


"Woi pagi-pagi sudah ribut, Buruan turun ayah masakkin sesuatu ni!!" teriak Wilian dari bawah.


"Ayo bangun!" rengek Luna yang tiba-tiba menjadi manja, Juna hanya terdiam bengong saat melihat Luna yang tiba-tiba menjadi manja.


"Hmmm baiklah," ucap Luna merajuk saat Juna tidak bereaksi apapun.


"Kamu sakit?" tanya Juna sembari meletakan punggung tangannya di kening Luna.


"Gak!" jawab Luna memanyunkan bibirnya sembari bersedekap dada di atas kasur Juna.


"Ayo cepat mandi!" titah Luna yang kembali pada sifat dinginnya.


"Baiklah Bos muda," ejek Juna sembari beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan pergi menuju kamar mandi, Luna hanya memanyunkan bibirnya saat mendengar Juna memanggilnya dengan sebutan Bos muda.


 


"Kau sudah bangun," ucap James yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Adrian.


"Ayah!" jawab Adrian sedikit kaget dengan kedatangan James.


"Bagaimana ayah tau kalau aku masuk rumah sakit?"


"Ketua yang memberitahu ayah," jelas james sembari meletakan buah kesukaan Adrian di atas meja.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang?"


"Seperti ayah lihat, aku baik\-baik saja kok," jawab Adrian tersenyum manis.


"Ayah bangga padamu," ucap James tersenyum sembari menepuk bahu Adrian.


 


Sementara itu Luna tengah menikmati sarapan buatan Ayahnya.


"Ayah ini benar\-benar enak," ucap Luna tersenyum manis.


"Benarkah?" tanya Wilian yang tak percaya.


"Ayah kan slalu jago masak," puji Juna sembari mengacungkan jempolnya.


"Aku kenyang," ucap Luna yang sudah selesai makan.


"Ayah, Kakak, aku berangkat sekolah dulu."


"Luna tunggu," ucap Wilian menahan Luna pergi.


"Ada apa ayah?"


"Bagaimana kalau kita foto\-foto dulu?" tanya Wilian sembari menatap kedua anaknya.


"Aku setuju!" jawab Juna senang.


"Baiklah," jawab Luna tersenyum manis.


Setelah selesai mengambil begitu banyak foto, Luna pun berangkat sekolah dengan supir pribadinya, Doni.


"Dah ayah, kakak," ucap Luna sembari melambaikan tangannya dari jendela mobil.


"Jun ayah titip Luna ya, jangan biarkan dia merasa kesepian lagi."


"Emang ayah mau kemana?" tanya Juna heran.


"Ayah akan kembali ke Bogor."


"Secepat itukah?" tanya Juna sedikit kecewa, Wilian hanya membalas dengan senyuman sembari membelai kepala Juna dengan lembut.


"Ayah apa ayah tidak bisa lebih lama lagi disini?"


"Juna ayah memiliki bisnis di Bogor."


"Tapi ayah?"


"Juna sekarang kamu sudah dewasa, ayah percaya kamu bisa melindungi adikmu Luna," ucap Wilian sebelum berjalan masuk kedalam mobil, Juna hanya menatap sedih melihat mobil ayahnya pergi meninggalkan rumahnya.


"Bagaimana keadaan Adrian saat ini?" tanya Wilian kepada James.


"Adrian baik\-baik saja ketua."


" Lalu apa kau sudah bertemu dengan putri mu?"


"Sudah ketua," jawab james singkat.


"Melihat kedua anakku sudah besar aku ingin menjadi ayah yang baik buat mereka, aku ingin melihat perkembangan mereka setiap hari. Jika waktu dapat saya putar, saya ingin menjadi ayah yang sederhana buat Luna dan Arjuna," ucap Wilian sembari menyadarkan kepalanya.


"Saya juga ingin menjadi ayah yang baik buat kedua anak saya," ucap james yang juga ikutan menyadarkan kepalanya.


Plakk...


Tiba\-tiba sebuah truk menabrak mobil Wilian, hingga membuat mobil Wilian terpental cukup jauh.


"Ke\-ketua ba\-baik\-baik saja?" tanya James susah payah berbicarab sembari berusaha melepaskan sabut pengamannya, saat James membatu melepaskan sabut pengaman Wilian. Tiba\-tiba percikan api keluar dari suatu tempat, hingga menyebabkan ledakan yang cukup keras.


Sementara itu Adrian tengah menonton sebuah acara di televisi, seperti biasa akan ada sekilas info setiap jam 10: 45 Wib. Adrian berniat ingin mengganti saluran, tiba\-tiba mata Adrian membesar saat pembawa berita menyampaikan sebuah kecelakaan mobil.


"Ayah, Paman?" ucap Adrian melebarkan kedua bola matanya.


Dilain waktu tubuh Juna lansung lemas saat mendapatkan telpon dari pihak rumah sakit.