My Girlfriend Is A Boss Mafia

My Girlfriend Is A Boss Mafia
My Girlfriend Is A Boss Mafia



Setelah mengatakan hal yang paling menyakitkan, Luna pun berjalan masuk kedalam ruang rawat Juna dan meninggalkan Leon yang masih berdiri.


"Huft..." Rasanya begitu sakit saat mengatakan, walau sebenarnya Luna juga tidak ingin kehilangan Leon. Tapi Luna juga tidak ingin membahayakan orang yang dicintainya, Luna menutup mulutnya agar Leon tak mendengarkan suara tangisannya.


"Baiklah jika itu yang kamu mau. Aku benar-benar akan melupakan mu mulai saat ini," ucap Leon sebelum pergi.


"Ahkk..." Rasanya begitu sakit saat Leon mengatakan itu, Luna ingin sekali menahannya pergi. Tapi tubuh Luna benar-benar terasa kaku seakan ada paku yang menahan kakinya untuk melangkah, hanya yang mengisyaratkan bahwa Luna benar-benar tak mampu menghadapi semua ini. Luna berjalan menghampiri kakaknya dan duduk di samping Juna.


"Kak apa yang harus aku lakukan? Hisk...hiks!"


Dilain waktu Adrian sedang sibuk memasukan semua mayat-mayat kedalam lubang yang begitu besar dan dalam, Adrian pun menuangkan beberapa drigen bensin sembelum menjatuhkan korek api keatasnya. Setelah selesai membuang semua bukti, Adrian pun pergi meninggalkan bangunan itu bersama dengan anak buahnya yang masih tersisa.


_____________


"Leon kamu dari mana saja?" tanya Ibu Leon yang tampak khawatir.


"Dari luar ibu," jawab Leon tersenyum.


"Kenapa ibu belum tidur?" tanya Leon sembari memperbaiki selimut ibunya.


"Ibu khawatir dengan mu," jawab Ibu Leon sembari membelai wajah Leon dengan lembut.


"Leon baik-baik saja kok," ucap Leon yang berusaha tetap tersenyum di depan ibunya.


"Bagaimana ibu tidak khawatir dengan mu, jika ibu tiada, uhuk...uhuk! Siapa yang bakal menjaga anak ibu ini." ucap Ibu Leon seraya menjatuhkan.


"Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu pasti sembuh, hiks..." Ucap Leon menangis saat mendengarkan perkataan ibunya.


Ibu Leon mengidap kanker otak stadium akhir, Leon baru saja mengetahui saat ibunya pingsan dan dibawa ke rumah sakit, Leon mengetahui itu dari dokter yang slalu memeriksa keadaan ibu Leon.


****


Sudah satu minggu Juna koma di rumah sakit, tiba-tiba berita tentang Juna lansung tersebar ke dunia maya. Saat seorang penggemar berat mengupdate video tetang Juna masuk ke dalam rumah sakit, Luna tak menyadari saat itu ada orang yang diam-diam mengambil videonya. Karna pada saat itu pikiran Luna sedang kacau, namun Luna berhasil menghetikan rumor itu. Luna memerintakan anak buahnya untuk mencari orang yang mengambil video itu, namun dua minggu kemudian rumor itu kembali tersebar. Saat Sarah ibu Luna dan Juna berkujung ke rumah sakit, para wartawan menggila ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Inilah alasan ku melarang ibu berkunjung kesini!" ucap Luna seraya melihat ke bawah, dan melihat para wartawan tengah menunggu di depan pintu gerbang rumah sakit. Karna pada saat itu, ruang rawat Juna berada di lantai 12.


"Tapi Ibu benar-benar mengkhawatirkan kalian."


"Jika ibu benar-benar khawatir, sebaiknya ibu tidak berkunjung.Jangan sampai media tau kalau kak Juna sedang koma!"


"Tapi Luna?"


"Aku bilang pergi!" bentak Luna seraya menujuk ke arah pintu.


"Apakah kamu benar-benar sebenci itu sama ibu?" tanya Sarah dengan air mata jatuh ke wajahnya yang masih terlihat muda.


"Aku tidak membenci ibu. Hanya saja aku tidak ingin media tau tentang kakak ku yang koma, tapi karna ibu media tau kalau kakak sedang koma. Polisi bisa mencurigai kami dan jika ini terungkap. Apa ibu ingin aku berada di balik jeruji besi?"


Pertanyaan itu seakan menusuk jantung Sarah, bagaimana mungkin seorang ibu ingin melihat anaknya berada dalam penjara.


"Sekarang ibu paham kenapa kakak kamu melarang ibu ingin bertemu denganmu, karna ibu seorang artis. Kakak mu tidak ingin media tau siapa jati dirimu sebenarnya, sekarang ibu benar-benar paham. Ibu tidak akan datang lagi menemui kalian, maaf kan ibu!" ucap Sarah seraya menghapus air matanya dan berlalu pergi meninggalkan ruang rawat Juna. Tiba-tiba tubuh Luna merasa lemas bagaikan tersengat listrik, air mata Luna jatuh di pipi mulusnya.


"Ma-afkan aku ibu!" ucap Luna dengan air mata jatuh seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Huft!" ucap Luna menghapus air matanya seraya menatap keluar jendela dan melihat wartawan sedang mengerumuni ibunya.


"Apa benar kalau putra anda Arjuna Agatha sedang koma?


"Apa penyebabnya nyonya?"


"Maaf-maaf saya harus buru-buru ke bandara," ucap Sarah sembari berjalan masuk ke dalam mobilnya.


"Nyonya Sarah?" panggil wartawan histeris saat bodygaurd sarah menutup pintunya.


 


Dilain waktu Adrian sedang sibuk mengurus masalah kantor, karna posisi CEO sedang kosong. Maka Adrian harus mengurus semua masalah kantor sendiri, meskipun di bantu Bayu serektaris Juna.


"Tuan siang ini kita akan bertemu dengan klien di restoran China," ucap Bayu menjelaskan.


"Lagi?" tanya Adrian yang baru saja keluar dari sebuah restoran.


"I\-ya Tuan," jawab Bayu terbata\-bata.


"Juna semoga kau cepat sadar. Aku mulai lelah mengurus kantor sendiri!" keluh Adrian sembari berjalan masuk ke dalam mobil.


Setelah satu bulan Juna berada dirumah sakit, Luna setiasa berada di samping kakaknya. sementara itu Adrian harus mengurus kantor dengan di bantu Bayu, sedangkan Leon menghambiskan waktunya bersama ibunya di saat\-saat terakhir.


Jari Juna mulai bergerak perlahan dan mata Juna mulai terbuka perlahan\-lahan sampai akhirnya Juna melihat jelas langit\-langit.


" Dimana aku?" tanya Juna yang tampak kebingungan sembari mencoba bangun, Luna pun membatu Juna duduk.


"Kakak sedang berada di rumah sakit," jawab Luna tersenyum haru sembari meletakan bantal di punggung Juna.


"Ohw," jawab Juna singkat sembari melihat keadaan sekitar. "Kamu siapa?" tanya Juna yang tak mengenali Luna.


"A\-aku Luna adik kakak," jawab Luna dengan suara parau karna berusaha menahan air matanya.


"Luna?" ucap Juna mencoba mengingatnya. "Tapi kenapa kamu seperti lelaki?" tanya Juna yang benar\-benar tak mengingat segalanya.


"Aku ingin seperti kakak," jawab Luna tersenyum.


"Ohw!" jawab Juna yang masih seperti orang kebingungan.


"Kakak tunggu sebentar. Aku akan pergi panggil dokter," ucap Luna berjalan pergi meninggalkan Juna.


"Baiklah," jawab Juna singkat.


Tapi dilain waktu Leon harus meerasakan sakit, saat ibunya meninggal karna kanker otak yang diderita ibu Leon sudah membesar dan menyumbat aliran darah di otak.


"Ibu\-ibu!" teriak Leon histeris sembari mengucang tubuh ibunya.


"Jangan tinggalkan Leon, ibu. Hiks...hiks... Ibu bangun ibu!" teriak Leon histeris saat harus kehilangan orang yang paling dicintai.


"Ihklaskan ibumu pergi Leon," ucap seorang nenek tua menangis seraya memeluk tubuh Leon, dia tak lain adalah Ibu dari ibunya Leon. Dada Leon begitu sesak saat melihat wajah ibunya ditutupi kain putih, Leon tak percaya jika ibunya bakal pergi secepat ini. Leon tidak bisa membayangkan, bagaimana dia hidup tampa ibunya di sisinya, pasti akan terasa hampa dan sunyi.


Keesokan harinya.


Setelah di sholatkan, Ibu Leon pu makamkan di pemakaman umum. Leon tak mampu menahan air matanya, saat melihat jenazah ibunya di masukkan kedalam tanah.


"Ibu, hisk ..." lirih Leon seraya memeluk neneknya begitu erat.


"Jangan menangis lagi," ucap Nenek Leon seraya meghapus air mata Leon.