
"Kalau Leon suka sama Luna," ucap Gio tertawa keras.
"Wah Leon, ternyata kamu diam-diam menghayutkan." Goda Rafka tertawa.
Sementara itu mobil Luna baru saja sampai ditempat pemakaman Ayahnya, Adrian dan teman\-teman sudah berada di sana lebih dulu, Luna pun berjalan menuju pemakaman Ayahnya dengan menggunakan seragam sekolah.
"Ayah, sesuai keinginan ayah, Sekarang aku sudah lulus sekolah. Tapi sesuai janji ku, setelah lulus sekolah aku akan mengambil alih bisnis ayah. Sekarang aku sudah lulus sekolah, maka apapun yang terjadi kedepannya. Aku tidak akan menyesal, karna ini sudah jadi keputusan ku. Jadi ayah tidak perlu menghawatirkan ku lagi, beristirahat lah dengan tenang di sana ayah."
Juna yang mendengar perkataan Luna, sesekali menghapus air matanya karna terharu. Meskipun masih muda, Luna sudah bersikap seperti orang dewasa.
"Kamu memang mirip dengan ayah," ucap Juna sembari memeluk Luna, sesekali Juna mencium puncak kepala Luna.
"Kakak bangga memiliki mu."
"Kak, hari ini aku ingin pergi ke salon."
"Apa kamu ingin kakak mengatarmu?"
"Tidak perlu. Teman\-teman ku sudah menunggu di sana," ucap Luna sembari menujuk ke arah Adrian dan teman\-teman geng Luna lainnya, yang sudah menunggu di tepi jalan.
"Baiklah," ucap Juna tersenyum.
"Mau seperti apa?" tanya tukang salon.
"Aku mau seperti ini," jawab Luna sembari menujukkan sebuah foto.
"Baiklah," jawabnya sembari memulai memotong rambut Luna.
20 menit kemudian rambut Luna selesai di potong, Luna terkesima dengan gaya baru rambutnya, Luna memotong rambutnya ala cowok Korea.
"Saya ingin mengganti pakaian dulu," ucap Luna berjalan masuk ke dalam toilet. Tak beberapa lama kemudian Luna keluar dengan baju kemeja hitam dan celana levis yang tidak terlalu ketat.
"Saya benar\\-benar tidak bisa mengenali mu," ucap tukang salon yang tak percaya, jika Luna juga bisa menjadi seorang cowok.
"Ini benar\\-benar Bos?" tanya teman\\-teman Luna serentak.
"Boss jadi mirip kakak Bos," ucap Bintang tersenyum.
"Kamu benar\\-benar melakukannya," ucap Adrian tertawa tipis.
"Sesuai perkataan aku dulu," jawab Luna tersenyum.
Beberapa bulan lalu...
"Adrian aku juga punya permintaan lagi."
"Apa Luna?" tanya Adrian penasaran.
"Setelah kamu menjadi ketua, aku ingin kamu menyelidiki siapa dalang di balik kecelakan. Aku benar\\-benar tak percaya dengan polisi, bagaimana mungkin polisi belum menemukan siapa pengemudi truk itu."
"Kalau soal itu kamu tidak perlu khawatir. Aku juga berencana akan menyelidiki kasus ini, sampai aku menemukan siapa dalang di balik semua ini!" ucap Adrian sambil mengempalkan kedua tangannya.
"Selain itu aku juga akan menyamar menjadi laki\\-laki setelah lulus sekolah, karna aku tidak ingin seseorang mengetahui. Kalau aku seorang bos mafia," ucap Luna sebelum pergi.
Soal tentang Luna yang akan kuliah di universitas Amerika itu, hanya lah kebohongan belaka saja. Luna tidak ingin Raisa, Leon, Gio dan Rafka mengetahui indetitas Luna ssebenarnya.
Semua para anak buah Luna sudah menunggu kedatangan Luna, mereka bebaris rapi dan memberikan hormat saat Luna berjalan masuk
"Selamat datang kembali Bos muda," ucap Bayu sembari menudukkan kepalanya.
"Pak Bayu, sudah lama kita tidak bertemu. Terima kasih sudah menjaga tempat ini dengan sangat baik," ucap Luna yang balik menudukkan kepalanya.
Saya hanya melakukan sesuai perintah Bos muda saja," jawab Bayu tersipu malu.
"Mari silahkan masuk Bos muda," ucap Bayu mempersilahkan masuk ke dalam Vila yang begitu besar.
~~~~~~~•••
Mobil Juna berhenti di sebuah restoran yang begitu mewah, Luna berjalan masuk ke dalam restoran.
"Juna!" panggil seorang wanita yang begitu cantik sembari melambaikan tangannya.
Juna tersenyum sembari menghampiri wanita cantik itu.
"Kapan ibu kembali ke Indonesia?" tanya Juna penasaran.
"Satu minggu yang lalu," jawab ibu Juna tersenyum, Dia bernama Sarah Tamalia seorang model di sebuah agensi yang cukup terkenal di Amerika. Sarah juga memiliki seorang suami bule dan di karunia seorang putra tampan yang baru berumur tujuh tahun.
"Luna saat ini sedang di Bogor ibu."
"Apakah ayah mu masih menjadi Bos mafia?" tanya Sarah penasaran.
"Ayah sudah meninggal beberapa bulan lalu, sekarang Luna yang menggatikan posisi ayah."
"Bagaimana mungkin?" tanya Sarah yang tak percaya.
"Ibu, Luna bukan lagi anak kecil yang kita kenal dulu. Luna yang sekarang, dia begitu mencintai dunia balapan dan pertarungan. Luna sudah jauh berubah,"
"Kalau begitu ibu segera hentikan dia, karna ibu tidak ingin dia seperti ayahmu!"
"Sudah terlambat ibu."
"Tidak ada kata terlambat, pokok nya ibu bakal hentikan dia. Karna ibu adalah ibunya!"
"Ibu? Ibu yang tidak pernah merawatnya dari kecil, ibu yang memilih pergi demi sebuah uang dan karier. Hanya itu yang ada dalam otak Luna," ucap Juna yang begitu menyakitkan.
"Kenapa kau tak kembali ke Amerika? Luna toh pasti bakal ikut, karna ayahnya sudah meninggal. Cuma kamu yang dia punya!"
"Aku tidak bisa kembali ke Amerika, aku tidak ingin seperti ibu, yang rela pergi meninggalkan orang yang di cintai hanya demi sebuah ketenaran. Aku tidak peduli walau karier ku bakal hancur, aku akan tetap berada di sisi Luna dan melindunginya."
"Kalian benar\\-benar mirip ayah kalian."
~~~~~~~•••
"Adrian kamu masih kuat seperti dulu," ucap Luna yang baru saja selesai berlatih.
"Kamu pun sama Luna. Meskipun sudah lama tak bertarung kamu masih kuat seperti dulu," puji Adrian sembari memberikan botol air mineral.
"Adrian, malam ini kita mulai menyerang markas Farlan, mereka pikir kita tidak tau. Kalau mereka yang menyebabkan ayah kita meninggal!" ucap Luna yang sudah tak sabar.
"Baik Luna," jawab Adrian tersenyum sinis sembari meneguk air minum.
Malam yang ditunggu pun tiba, para wanita yang berpakaian sexsi berjalan lalu lalang dengan suara musik yang menambahkan suasana di sebuah klup malam.
"Teo, kamu sudah bekerja keras. Mari kita bersulang!"
"Baik Bos," jawab Teo bersulang.
"Sekarang si Wilian sudah meninggal begitu pun dengan tangan kanannya, hanya tinggal si gadis kecil itu yang akan kita bunuh. Lalu kita bisa menguasai harta Wilian," ucap Farlan tersenyum sembari meminum minuman keras.
"Saya akan bekerja lebih keras lagi Bos."
"Lakukan tugas mu besok!"
"Baik Bos."
"Mari kita pergi!" ucap Farlan kepada dua wanita cantik, wanita itu hanya tersenyum sembari mengikuti ajakkan Farlan ke sebuah kamar.
"Bersenang\\-senang lah," ucap Farlan sebelum pergi meninggalkan Teo bersama wanita jal\\*ng
"Kamu benar\\-benar tampan," puji wanita itu sembari mengelus wajah Teo dengan lembut.
"Benarkah?" tanya Teo sembari mendekap kedua wanita di dekatnya.
"Kalian siapa?" tanya penjaga saat menahan Luna dan anak buahnya untuk masuk.
"Jangan halangi kami!" ucap anak buah Luna sembari memukul penjaga hingga pingsan.
"Hacurkan tempat ini!" titah Luna berjalan masuk ke dalam klub.
"Baik Bos!" ucap anak buah Luna serentak sembari melaksanakan tugasnya, semua tamu berteriak ketakutan saat anak buah Luna membuat kekacauan, Luna dan Adrian hanya duduk santai sembari melihat anak buahnya membuat kekacauan.
"Aaaaaa..." teriak para tamu histeris sembari berlari pergi meninggalkan klub, anak buah Farlan pun dipukul saat mencoba menghetikan aksi anak buah Luna.