My Girlfriend Is A Boss Mafia

My Girlfriend Is A Boss Mafia
My Girlfriend Is A Boss Mafia



"Kalau begitu sampai jumpa disekolah besok," sambung Gio senang, Luna hanya mengaguk tersenyum.


Setelah Gio, Rafka dan Leon pergi meninggalkannya, Luna pun berniat menelpon seseorang.


"Ayo masuk!" tarik seorang pria dengan kasar.


"Hei!" berontak Luna yang berusaha lepas, namun pria itu lebih sigap dan memasukkan Luna kedalam mobil.


"Diam!" bentak pria itu sembari memasangkan sabut pengaman untuk Luna, pria itu pun berlari kecil masuk kedalam mobil dan mejalankan mobil nya meninggalkan halte.


"Kamu gak senang bertemu dengan ku! Kamu gak rindu aku! Kamu..."


"Gak! Aku gak senang ketemu sama kakak lagi dan Juga aku gak rindu! Ngapain juga harus rindu sama orang yang ninggalin aku!" ketus Luna sembari bersedekap dada.


"Tapi kakak rindu sama kamu Luna dan juga kakak gak pernah ninggalin kamu," jelas pria itu yang ternyata Arjuna Agatha kakak Luna yang sudah lima tahun berpisah, Luna hanya terdiam tak menjawab dan memilih menatap kearah luar jendela mobil.


"Kakak minta maaf sudah pergi begitu saja," ucap Juna yang menyesal sembari mengusap kepala Luna dengan lembut.


Sementara itu Leon dan dua teman nya sedang merasa bahagia.


"Aku gak nyangka Gio bakal se brani itu," ucap Leon tertawa senang.


"Apa salah nya ngajak dia berteman,"


"Gak ada yang salah kok. Tapi tumben aja kamu berani," potong Rafka, Gio hanya tersenyum malu.


 


Sementara itu Juna sedang berusaha menyamai langkah Luna yang begitu cepat.


"Luna! Plis kamu jangan marah sama kakak," mohon Juna sembari menyamai langkah Luna yang begitu cepat masuk rumah.


"Pak Bayu?!" teriak Luna keras hingga membuat semua para bodygaurd Luna kaget.


"Iya Bos muda!" jawab Bayu sedikit berteriak keluar dari toilet.


"Seperti nya Bos muda lagi marah?" ucap Bayu tergesa\-gesa keluar dari kamarnya sembari memperbaiki celananya.


"Ada apa Bos muda?" tanya Bayu penasaran dengan nafas tersengal\-sengal karna berlari.


"Kenapa harus dia yang menjemput ku?" tanya Luna sembari menunjuk Juna.


"Aa ..."perkataan Bayu terhenti saat ponsel Luna berbunyi.


"Kring...kring...kring!"


"Ya hallo!" jawab Luna.


"Beberapa teman kita sedang diserang oleh orang yang tak dikenal Luna," jelas Adrian yang saat ini sedang berada dirumah sakit.


"Lalu kamu sekarang ada dimana?" tanya Luna sembari menaikkan kedua alisnya.


"...."


"Baiklah aku akan segera kesana," ucap Luna sebelum menutup telponnya.


"Ada apa Bos muda?" tanya Bayu penasaran.


Luna tak menjawab pertanyaan dari Bayu, Luna lansung bergegas naik kelantai atas.


"Bos muda?" ucap Juna heran ssembari menatap Bayu.


Tak beberapa lama kemudian Luna keluar dengan pakaian serba hitam.


"Doni!" panggil Luna yang turun dari tangga dengan tergesa\-gesa sembari memakai jaket levis nya.


"Iya Bos muda," jawab Doni yang lansung mucul didepan pintu.


"Antarkan aku kerumah sakit \*,"


"Baik Bos," jawab Doni yang lansung membukakkan pintu mobil untuk Luna.


"Bos! Kenapa Luna dipanggil Bos muda?" tanya Juna penasaran.


"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Tuan. Sebaiknya tuan bertanya kepada Ketua," jawab Bayu sedikit takut\-takut.


"Sekarang ayah di mana?"


"Ketua saat ini sedang berada Vila,"


"Berarti di bogor?"


Bayu hanya mengaguk.


"Aku akan pergi,"


"Pergi lagi?"


Setelah mobil Juna berlalu pergi tiba\-tiba Bayu merasa mules.


"Aakhh...Perut ku sakit lagi," keluh Bayu sembari berlari masuk ke kamar mandi.




Saat melihat mobil Luna sampai Adrian lansung berlari kecil kearah mobil Luna dan membukakkan pintu mobil untuk Luna.



"Bagaimana keaadaanya? Lalu bagaimana mereka bisa terluka?" tanya Luna penasaran sembari berjalan cepat masuk kedalam rumah sakit.



"Aku juga tidak tau karena mereka belum sadar, tapi aku sudah tau siapa penyerang nya, " jelas Adrian.



"Siapa?"



"Anak buah Farlan!"



"Farlan!" Luna terdiam sejenak. "Apa polisi tau?" tanya Luna berjalan masuk kedalam ruang perawatan saat Adrian membuka pintu.



"Polisi tidak tau,"



"Bagus lah,"



Luna tak sadar kalau dirinya sudah sampai ditempat teman nya dirawat, Luna melihat kedua teman nya terbaring dengan selang infus di atas brankar.



"Adrian!" panggil Luna.




"Mari kita bermain\\-main. Sudah lama aku tidak bermain!"



"Kamu yakin Luna?" tanya Adrian sembari mengakat sebelah alisnya, Luna hanya tersenyum sinis.



~~~~~~~•••



"Tok...tok...tok!"



"Anda siapa?" tanya penjaga saat kaca mobil Juna sudah diturunkan.



"Katakan pada ketua kalian. Arjuna Agatha ingin bertemu," jelas Juna tersenyum.



Setelah mendengarkan penjelasan dari Juna, penjaga itu pun lansung berbicara dengan seseorang melalui alat komonikasi bernama HT, tak beberapa lama kemudian para penjaga itu pun membuka kan gerbang untuk Juna. Mobil Juna pun berjalan masuk kedalam gerbang, wajar saja mereka tidak tau kalau Arjuna Agatha adalah putra dari Wilian Agatha Zurrah. Karna sebagian dari anak buah Wilian adalah anak\\-anak didikan baru, mereka hanya tau anak dari Wilian Agatha Zurrah adalah Luna Azzurah, Bos muda.



"Ketua sudah menunggu tuan di dalam," ucap seorang pria paruh baya setelah membukakkan pintu mobil untuk Juna.



"Terima kasih," jawab Juna tersenyum, Juna pun berjalan masuk dengan diikuti anak buah Wilian.



"Kalian boleh pergi," titah Wilian pada anak buah nya.



"Kenapa kau tak bilang kalau kau kembali ke Indonesia?" tanya Wilian yang lansung memeluk Juna.



"Aku ingin memberikan suprise untuk Ayah dan Luna," jawab Juna sembari membalas pelukan dari Wilian.



"Ayo duduk," ajak Wilian. "Bagaiman kabar ibumu di sana?" sambung Wilian sembari mengambil rokok yang tadi nya diletakan.



"Alhamdulillah Ibu baik\\-baik saja. Kalau Ayah bagaimana?" tanya Juna berbalik bertanya.



"Seperti kau lihat," jawab Wilian tersenyum sembari melebarkan kedua tangan nya.



~~~~••••



Sementara itu Luna sedang bersiap melawan anak buah Farlan.



"Kenapa hanya ada sepuluh?" tanya seorang pria dengan tersenyum picik yang bernama Teo Aliando tangan kanan Farlan.



"Gak usah banyak bacot!" bentak Luna sembari meletakan pemukul bisbol dibahu nya.



"Jadi kamu yang bernama Luna Azzurah? Hehehe...Jangan sampai menangis nanti!" ucap Teo meredahkan Luna.



"Ternyata kau belum tau siapa Luna Azzurah!" jawab Luna tersenyum sinis. "Baiklah mari kita bermain\\-main sebentar," sambung Luna yang akan bersiap\\-siap menyerang anak buah Farlan yang banyak.



SERANG!



Titah Luna kepada anak buahya, meskipun Luna kalah dalam jumlah, tetapi delapan orang itu adalah orang yang terbaik dalam geng Zurrah.



~~~~••••



"Kenapa Ayah membiarkan Luna menjadi Bos? Luna itu seorang perempuan Ayah!. Apa ayah tidak menyayangi Luna? Kalau terjadi apa\\-apa pada Luna bagaimana?" tanya Juna tampa henti.



"Ayah sudah berjanji padanya, jika dia berhasi mengalahkan Farlan musuh ayah. Maka semua tempat ini akan ayah berikan padanya,"



"Ayah gila! Bagaimana bisa ayah melakukan itu padanya? Apakah Ayah ingin Luna seperti Ayah?! Ayah lupa! Ibu meninggalkan ayah karna ayah seorang Bos mafia!" potong Juna yang begitu marah ketika mendengar penjelasan dari Wilian.



"Ayah juga tidak tau kalau Luna mampu melawan Farlan," jawab Wilian yang begitu menyesal dengan keputusan nya terburu\\-buru saat itu.



"Bagaimanapun ini sudah terjadi, kita tidak bisa berbuat apa\\-apa lagi," sambung Wilian.



"Mungkin Ayah benar," jawab Juna yang mencoba untuk memahami situasi.



~~~~••••



"Jangan Lupa aku pernah mengalahkan Bos mu Teo!" ucap Luna sebelum melayangkan pukulan yang begitu keras kewajah Teo, hingga membuat Teo tak sadarkan diri alias pingsan.