
"Ada apa Gio?" tanya Rafka penasaran saat Gio tiba-tiba mencarinya.
"Ada orang yang ingin bertemu dengan mu," jawab Gio seraya merangkul bahu Rafka.
"Siapa?" tanya Rafka yang begituak penasaran.
"Ikut aja," jawab Gio seraya b menuju mobilnya.
"Itu dia?" tunjuk Gio sesampainya di mobil.
"Leon?" panggil Rafka kaget saat Leon membalikan badannyat, Leon hanya tersenyum seraya mengaruk kepalanya tidak gatal.
"Kemana aja kamu?" tanya Rafka yang lansung memeluk Leon. "Aku benar-benar merindukanmu," ucap Rafka yang tampa sadar menangis seperti anak kecil.
"Maafkan aku," jawab Leon seraya menepuk pelan punggung Rafka.
"Aku sedang kau baik-baik saja," ucap Rafka melepaskan pelukkannya.
"Selamat ya sekarang impianmu tercapai," ucap Leon tersenyum.
"Berkat mu juga," jawab Rafka tersenyum.
"Aku senang kita bertiga kembali berkumpul. Aku harap mulai sekarang kita tidak berpisah lagi," ucap Gio seraya merangkul bahu Leon dan Rafka.
"Aminn..." jawab Leon dan Rafka serentak.
*****
Jarum jam berdetang beberapa kali, menujukkan pukul 19:00 malam. Luna sedang duduk santai diatas kursi seraya memakan kacang, sesekali Luna menghela nafasnya karna bosan.
"Huft!" ucap Luna menghela nafasnya, seraya melemparkan kulit kacang ke tong sampah.
"Bos!" panggil Bintang muncul dari balik pintu.
"Ada apa?" tanya Luna yang tak semangat.
"Ada yang menatang Bos balapan malam ini."
"Siapa?" tanya Luna penuh selidik.
"Gak tau. Dia udah nungguin Bos di arena balapan."
"Dia ingin bertaruh berapa?" tanya Luna penasaran.
"Katanya jika Bos menang, dia akan memberikan motornya dan uang senilai seratus juta. Tapi kalau Bos kalah, Bos harus menuruti satu permintaannya."
"Cuma satu permintaan, apa itu?" tanya Luna penasaran.
"Aku cuma di suruh sampaian ini saja," jawab Bintang nyengir.
"Siapkan motor kalau begitu," ucap Luna yang lansung bangun dari kursi dan memakai jaketnya.
"Baik Bos!" ucap Bintang yang lansung pergi menyiapkan motor untuk Luna.
Semua orang sudah bersiap-siap menunggu kedatangan Luna di arena balapan.
"Itu penantang Luna?" tanya seorang wanita kepada temannya.
"Iya," jawab temannya seraya melihat kearah seorang pria yang menggunakan masker untuk menutupi wajahnya.
"Wah seperti Dia ganteng."
"Dasar kamu mata keranjang!"
Tak beberapa lama kemudian Luna datang bersama anak buahnya, semua orang berteriak senang.
"Luna!" teriak suppoter Luna.
Luna berhenti tepat di depan pria bertopeng itu, Luna pun membuka helmnya, terlihat wajah yang begitu manis meskipun Luna berpenampilan seperti seorang pria.
"Ohw jadi kau orangnya. Ngomong-ngomong kau ketua Geng mana?" tanya Luna seraya menatap pria itu dari atas sampai bawah.
"Bukan urusanmu, jika aku menang kau harus berhenti dari balapan!"
"Wow!" ucap semua orang kaget, saat pria itu berani mengatakan itu kepada Luna.
"Berhenti dari balapan?" tanya Luna sedikit membentak. "Baiklah!" sambung Luna setuju.
"Bos!" ucap Bintang kaget saat Luna setuju.
"Tapi jika kau kalah, kau harus menyerahkan tanganmu!" ucap Luna tersenyum devil.
"Aku setuju!"
"Apa-apa dia setuju?"
"Mungkin dia belum tau siapa Luna!"
Bisik-bisik semua orang kaget.
"Baiklah-baiklah!" ucap Luna yang tak sabar untuk memulainya.
Luna dan Pria itu pun bersiap-siap di garis star, sesekali Luna melihat kearah orang yang menatangnya.
Brumm...brumm...brumm!
"Luna kamu pasti bisa!" teriak semua orang.
"Satu...dua...mulai!" teriak seorang wanita seraya melambaikan bendera berwarna merah.
"Kalian ingin bertaruh untuk siapa?" tanya Bintang.
"Aku ingin bertaruh untuk Luna!" ucap suppoter Luna seraya meletakkan uang kedalam kardus kecil.
"Aku akan bertaruh untuk pria itu," ucap seorang lelaki yang menggunakan topi hitam, seraya meletakan satu ikat uang seratus yang bernilai 10 juta.
"Waw kau salah bertaruh!"
"Tidak!" jawab lelaki bertopi itu tersenyum mau sinis.
Beberapa jam yang lalu.
"Gio, aku ingin balapan bersama Luna."
"Gila!" jawab Gio kaget seraya menghetikan mobilnya. "Kamu tau sendiri kan Luna kayak apa, Dia begitu cepat. Lagian kamu juga pernah dikalahkan!"
"Aku yakin kali ini aku bisa mengalahkannya," jawab Leon yang begitu yakin.
"Terserah lo aja deh," jawab Gio seraya menjalankan kembali mobilnya.
"Nanti pas balapan kamu ikut aku ya, ntar aku kasih uang buat taruhan.
"Baiklah," jawab Gio setuju.
"Dia benar-benar mampu mengalahkannya," ucap Gio tersenyum saat Leon berhasil sampai di garis finis lebih awal.
"Sialan bagaimana dia begitu cepat!" ketus Luna yang marah sembari membuka helmnya.
"Kamu hebat," ucap Gio merangkul bahu Leon.
"Terimah kasih," ucap Leon seraya membuka helmnya, Leon pun berjalan menghampiri Luna.
"Aku menang, sesuai janji kamu harus berhenti dari balapan!" ucap Leon sembari berdiri di depan motor Luna dan menatap wajah Luna yang berubah menjadi merah karna menahan amarahnya.
"Anj*i!" batin Luna yang begitu kesal.
"Dan aku juga punya permintaan. Kamu harus memberikan hatimu padaku," ucap Leon tersenyum.
"Bangs*t, apa kau bilang? HATI? Hati aku cuma satu, bagaimana mungkin aku kasih hati ini sama kamu. Jika ku kasih sama aja memberikan nyawa ku kepadamu!" jawab Luna yang tak mengerti maksud dari Leon.
"Kenapa aku bisa tergila-gila sama wanita sepertimu, meskipun kamu menyuruhku untuk melupakan mu. Tetap aku tidak bisa," ucap Leon berdiri tegak seraya membuka maskernya yang menutupi wajah gantengnya.
"Le-Leon!" panggil Luna terbata-bata saat melihat Leon tengah berdiri di depannya.
"Bintang, kenapa halusinasinya begitu nyata?" tanya Luna yang tak percaya, jika yang dilihatnya benar-benar Leon.
"Bos muda ini bukan halusinasi, tapi ini kenyataan."
"Kamu bohong kan?" tanya Luna tak percaya.
"Benar Bos, aku gak bohong."
"Kalau begitu cubit aku."
"Ini Bos yang nyuruh," ucap Bintang yang berniat mencubit Luna, tapi Leon menahan Bintang untuk tidak mencubitnya.
"Ini bukan halusinasi," ucap Leon mendekatkan wajahnya kedepan wajah Luna, seraya mencubit pipi kiri Luna.
Mata Luna lansung membesar, saat wajahnya begitu dekat dengan Leon. Luna memperhatikan dari sudut mata Leon, hingga bibir merah muda Leon.
"Ternyata ini bukan halusinasi lagi," ucap Luna yang tampa sadar juga mencubit wajah Leon.
Suasana yang tadinya memanas, sekarang malah berubah menjadi saling tatap menatap. Semua anak buah Luna hanya tersenyum-senyum melihat Luna yang tidak sadar jika disini, dunia ini bukan milik mereka berdua.
"Bapernya aku!" ucap wanita-wanita histeris.
"Ahaam!" ucap Gio yang tiba-tiba muncul. "Kenapa udaranya jadi panas ya?" ucap Gio membuka topi sembari mengipaskannya.
"Maaf!" ucap Luna yang lansung melepaskan cubitannya dari wajah Leon, tiba-tiba wajah Luna lansung berubah menjadi merah merona saat sadar. Kalau disini bukan hanya dirinya dan Leon, tapi begitu banyak orang yang menoton.
"Cie-cie ada yang lagi jatuh cinta ni!" ucap anak semua orang serentak.
"Diam kalian!" bentak Luna yang malu, semua orang hanya tertawa saat Luna bersikap konyol.
"Udah empat tahun gak bertemu, kamu masih sama seperti dulu. Gak ada yang berubah," ucap Leon sembari membelai kepala Luna dengan lembut, Luna hanya tersenyum malu saat Leon membelai kepalanya di depan umum. Selain Adrian dan Juna, hanya Leon yang meperlakukan Luna seperti seorang wanita. Itulah mengapa Luna begitu bahagia bertemu dengan Leon, setelah sekian lama berpisah dengan Leon.