
Ketika melihat kakaknya yang sudah tak berdaya diatas kursi, tampa sadar Luna menjatuhkan air matanya saat melihat orang-orang
yang dicintai terluka didepan matanya.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan kau hidup!" ucap Luna memegang erat pisaunya sembari mencoba berdiri.
Amarah Luna bagaikan api yang bergejolak, saat Farlan memerintahkan anak buahnya untuk menusuk tubuh Juna.
"Aahkk..." lirih Juna kesakitan saat beda tajam menebus tubuhnya.
Dorr!
Satu tembakkan tepat di kepala orang yang membuat Juna terluka, pelaku nya tak lain adalah Luna Azzurah. Saat pandangan Farlan dan anak buah Farlan teralihkan, Luna mengambil kesempatan itu untuk membunuh satu persatu anak buah Farlan.
"BUNUH DIA!" teriak Farlan ketakutan.
Slup!
Dorr!
Dalam sekejap Luna berhasil melumpuhkan semua anak buah Farlan, Farlan yang ketakutan berniat ingin mengancam Luna dengan meletakkan pisau di leher Juna.
"Aku akan membunuh kakak mu!" ancam Farlan seraya tersenyum devil, Luna yang melihat itu langsung bersimpuh di depan Farlan.
"Aku mohon jangan lakukan itu," ucap Luna seraya menjatuhkan air matanya.
"Aku akan berikan semua harta ayahku, tapi biarkanlah kakak ku hidup!" mohon Luna yang begitu terlihat putus asa.
"Hahahah... Akhirnya aku bisa menguasai harta Wilian!" ucap Farlan tertawa bahagia.
Dorr!
Satu tembakkan timah panas tempat dikepala Farlan, Farlan menyangka kalau Luna benar-benar telah putus asa. Namun sebaliknya Luna bersimpuh di depan Farlan, hanya untuk mengambil senjata yang masih di simpan dikaki kirinya.
"Seperti kataku. Aku tidak akan membiarkan mu HIDUP!" ucap Luna sembari bangun dari lantai. Luna langsung menghampiri Juna, Luna tidak bisa lagi menahan air matanya, saat melihat Juna tak berdaya.
"Ma-maaf kan aku datang terlambat kak, hiks..." ucap Luna sembari membuka tali pengikat Juna.
"Kak, bangun kak!" panggil Luna histeris saat Juna tak membuka matanya.
"Luna maafkan aku datang terlambat!" ucap Adrian yang baru saja muncul dari pintu dengan tubuh yang sudah terluka.
"Adrian! Hiks... Kak Juna!" panggil Juna menangis tersedu-sedu.
Adrian langsung menghampiri Luna dan Juna.
"Aku akan mengedong nya ke mobil," ucap Adrian seraya mengedong Juna turun dari atap bangunan, Luna mengikuti Adrian dari belakang.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Luna tak henti-henti menangis saat Luna melihat darah keluar dari tubuh Juna.
"Luna tetap tekan ini," ucap Adrian sembari menyuruh Luna untuk meletakan tangannya diatas tubuh Juna yang ditusuk, itu akan memperlambat darah keluar.
"Adrian lebih cepat lagi!" ucap Luna yang tak sanggup lagi melihat keadaan Juna.
Adrian pun mempercepat mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
"Dokter-dokter ada yang terluka!" teriak Adrian sesampainya di rumah sakit, tak beberapa lama kemudian beberapa suster dan dokter datang membawa brankar. Juna pun dipindahkan ke atas brankar, lalu di dorong ke ruang Operasi.
"Mohon tunggu di luar," ucap salah satu suster saat sampai di ruang Operasi.
"Tolong selamatkan kakak saya," pinta Luna menangis tersedu-sedu.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin," jawab suster itu sebelum menutup pintu.
Adrian dan Luna pun duduk di atas tempat duduk yang sudah disediakan, seraya menunggu Dokter keluar dan tak Lupa Luna juga berdoa pada Yang Maha Kuasa agar Juna selamat.
Dilain waktu Leon tampa sengaja melihat Luna dan Adrian sedang duduk didepan ruang UGD, Leon pun menghampiri Adrian dan Luna.
"Luna!"
"Ada apa Luna?" tanya Leon yang langsung berkokok di depan Luna.
"K-Kak Juna Leon!" jawab Luna terbata-bata.
"Udah-udah jangan nangis lagi. Kak Juna pasti akan baik-baik saja," ucap Leon yang berusaha menenangkan Luna seraya memeluk Luna.
"Leon aku bisa minta tolong gak?"
"Apa kak?" jawab Leon sopan.
"Aku harus menyelesaikan suatu urusan, tolong jaga Luna."
"Tapi kakak sedang terluka parah," ucap Leon saat melihat luka-luka di sekujur wajah atau baju Adrian yang penuh dengan darah.
"Aku akan mengobati nya setelah selesai," ucap Adrian sebelum pergi meninggalkan Luna dan Leon. Adrian ingat akan suatu hal yaitu bangunan yang penuh dengan mayat-mayat anak buah Farlan dan beberapa anak buahnya, Adrian berniat ingin menghacurkan bukti-bukti.
Sementara itu Dokter yang baru saja mengoperasi baru saja keluar, Luna dan Leon langsung menghampiri Dokter.
"Bagaimana dengan kakak saya Dok?" tanya Luna penasaran.
"Syukurlah kakak anda di bawa cepat kesini, jika terlambat beberapa menit. Maka nyawa kakak anda tidak bisa lagi tertolong," ucap Dokter itu menjelaskannya.
"Tapi sepertinya kepala kakak anda mengalami benturan yang cukup keras, Kemungkinan jika sadar, Kakak anda akan hilang ingatan."
"A-apa kakak saya hilang ingatan?" tanya Luna tak percaya.
"Itu hanya sementara waktu, jadi Tuan tidak perlu khawatir. Saya permisi dulu," ucap Dokter itu berlalu pergi.
Sementara itu Juna pun dipindahkan ke ruang pemulihan, Luna duduk di samping Juna sembari memegang tangan kakaknya.
"Kakak, Luna benar-benar minta maaf. Ini salah Luna, jika bukan karena Luna kakak pasti tidak akan dalam bahaya," ucap Luna sembari menghapus air matanya. "Sebenarnya keputusan kakak untuk tinggal di Amerika benar-benar tepat, menjadi seorang penyanyi yang di cintai banyak orang. Dibandingkan tinggal disini Kakak akan selalu dalam bahaya, aku tidak tau ini sampai kapan berakhirnya."
Ucap Luna menundukkan kepalanya, inilah resiko bagi seorang Bos Mafia. Semakin tinggi pangkatnya, maka semakin banyak musuh yang ingin menghacurkan demi menguasai hartanya.
Leon yang baru saja kembali dari toko baju dan tampa sengaja Leon mendengarkan perkataan Luna yang tampak putus asa.
"Huft!" Leon menghela nafasnya sebelum masuk keruang rawat Juna.
"Luna sebaiknya kamu ganti baju dulu," ucap Leon sembari memberikan kantong yang berisi pakaian untuk Luna.
"Terimah kasih Leon," ucap Luna menerima kantong itu, Luna pun berjalan masuk menuju toilet dan mengganti pakaiannya yang sudah dipenuhi dengan darah. Tak beberapa lama kemudian Luna keluar dengan baju yang sudah bersih.
"Leon, aku ingin berbicara sesuatu."
"Apa?" tanya Leon penasaran.
"Sebaiknya kita berbicara di luar."
"Baiklah," jawab Leon mengikuti Luna keluar, Leon dan Luna pun diatas kursi di depan ruang rawat kakaknya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Leon begitu penasaran.
"Leon, aku pernah berfikir untuk menerima cintamu karna aku juga mencintaimu. Tapi hari ini aku sadar, aku bukanlah orang yang pantas untuk dicintai oleh lelaki sebaik kamu. Aku seorang Bos Mafia!"
"Apa salahnya jika kamu seorang Bos Mafia?" potong Leon tiba-tiba.
"Aku tidak ingin lagi melihat orang-orang yang aku sayangi terluka, rasanya begitu menyiksaku. Sebaiknya mulai sekarang kita jangan bertemu lagi dan sampaikan maaf ku kepada Gio dan Rafka. Aku yakin kamu pasti menemukan orang yang lebih baik dariku," ucap Luna bangun dari tempat duduknya.
"Luna, aku tidak peduli kamu seorang Bos Mafia atau seorang psychofat. Bagiku cukup bersama itu sudah membuat ku bahagia," ucap Leon seraya memegang tangan Luna.
"Mungkin bagimu tidak masalah, tapi ibumu tidak akan merestui. Ibumu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya."
"Kalau soal itu kamu tidak perlu khawatir," ucap Leon yang berusaha menyakinkan Luna.
"Maafkan aku Leon. Terimah kasih atas semuanya," ucap Luna yang berusaha tersenyum di hadapan, Leon.