
Sebuah mobil merah sudah menunggu Luna, Doni lansung membuka pintu mobil untuk Luna, Bintang pun berlari masuk kedalam mobil. Doni pun meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi, karna sebentar lagi acara pernikahan Adrian akan segera di mulai. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai di tempat pernikahan Adrian, Bintang langsung berlari keluar dan membukakan pintu untuk Luna. Luna pun berjalan menuju aula pernikahan Adrian dengan diikuti beberapa anak buahnya.
"Luna!" panggil Raisa sedikit kaget melihat penampilan Luna.
"Kenapa?" tanya Luna seraya menaikan sebelah alisnya.
"Hah gak apa-apa," jawab Raisa mengelengkan kepalanya.
"Maaf Raisa kita telat," ucap Gio dan Rafka yang juga baru sampai.
"Gak apa-apa. Ayo masuk sebentar lagi akadnya akan segera di mulai," ajak Raisa seraya berjalan lebih dulu.
"Luna, kamu makin hari makin aneh aja. Masak iya di hari pernikahan kamu berpakaian seperti laki-laki!" ucap Gio sembari menatap Luna dari atas sampai bawah.
"Ah bodo amat!" jawab Luna singkat.
"Udah biarin aja," ucap Rafka berjalan bersama Raisa di depan.
"Anj*i mesra-mesra an kalian depan ku!" ketus Luna yang kesal saat melihat Raisa mengadeng tangan Rafka.
"Hehehe... Ada yang iri ni!" ejek Gio sembari berjalan mendahului Luna, sebelum Luna memukulnya.
"Sial*n kamu Gio!" ketus Luna yang geram dengan ejekkan Gio.
Luna, Gio, Raisa dan Rafka pun duduk di kursi belakang Adrian, Adrian begitu tampan saat memakai baju berwarna putih dan memakai topi berwarna putih.
"Kamu benar adikku Luna?" tanya Juna saat melihat Luna bernampilan sama sepertinya.
"Hah?" jawab Luna sedikit kaget, saat Juna mempertanyakannya.
"Ingatan kakak sudah kembali?" tanya Luna penasaran.
"Belum sih, tapi kamu gak ada femininnya jadi cewek. Beda sama foto-foto yang di dinding," jawab Juna menatap Luna dari atas, Luna hanya membalas dengan cengiran seraya mengarut kepalanya tak gatal.
"Wah pengantin wanitanya begitu cantik," puji Gio saat pengantin wanitanya berjalan menuju tempat akad nikah, seraya mengadeng tangan ayahnya. Dia bernama Suci Permata Indah, serektaris Adrian yang sekarang menjadi istri Adrian. Saat melihat Suci yang mengunakan baju pengantin muslim, tiba-tiba Luna membayangkan dirinya berada di sana. Berjalan menghampiri Leon yang sedang menunggu Luna, ditempat akad nikah bersama Bapak penghulu.
"Hello..." ucap Juna seraya melambaikan tangannya di depan wajah Luna, yang tiba-tiba senyum sendiri kayak orang gila.
"Hah?" jawab Luna tersadar dari lamunannya.
"Lagi bayanhin apa?" tanya Juna penasaran.
"Bukan apa-apa," jawab Luna mengelengkan kepalanya.
"Kenapa aku tiba-tiba memikirkan Leon," batin Luna seraya menatap kearah Adrian yang sedang menjabat tangan ayah suci, sembari membaca akad nikah dengan lancar. "Leon aku benar-benar menyesal telah mengatakan itu, kamu dimana sekarang Leon. Aku benar-benar merindukan mu," batin Luna sembari memainkan jari jemarinya.
Sementara itu seorang laki-laki yang menggunakan pakaian rapi, tiba-tiba terbantuk saat sedang makan.
"Uhuk...uhuk!"
"Bos baik-baik saja?" tanya seorang laki-laki berpakaian rapi sembari mengambilkan air untuk lelaki itu.
"Saya baik-baik saja," jawab lelaki itu dengan nada suara yang begitu dingin, Dia adalah Lee Jo Hoon alias Leon, yang menghilang 4 tahun. Saat ini Leon tengah berada di Korea, di tempat. ayahnya tinggal.
"Kenapa aku tiba-tiba memikirkan Luna?" monolog Leon seraya menghetikan makannya.
"Kenapa tiba-tiba berhenti Leon?" tanya seorang lelaki dengan memakai bahasa Korea.
"Tidak apa-apa ayah," jawab Leon yang juga memakai bahasa Korea, Dia adalah Lee Do Wook ayahnya Leon, seorang Bos mafia yang terkenal cukup kejam di Korea.
"Ayah, aku ingin kembali ke Indonesia besok."
"Kenapa tiba-tiba ingin kembali ke Indonesia?" tanya Ayah Leon penasaran.
"Aku ingin melakukan sesuatu, jika aku tidak bisa menaklukkannya. Aku akan kembali kesini setelah menyesaikan tugas ku!"
"Jika itu mau mu, ayah tak bisa lagi menahan mu disini. Ayah akan memerintahkan anak buah untuk memesankan tiket ke Indonesia besok," ucap ayah Leon yang makin bingung melihat kondisi Leon, yang makin hari makin gak jelas. Selama di Korea, Leon lebih suka minum-minum bahkan Leon juga sering marah-marah gak jelas kepada anak buah ayahnya. Sifat Leon benar-benar jauh berubah, saat ayahnya membawa Leon empat tahun lalu. Leon yang lembut sekarang berubah menjadi singa jantan terluka, Ayah Leon tidak ingin Leon menjadi sepertinya. Jika lebih lama lagi Leon berada di Korea, ini akan membuat sifaf Leon semakin lebih buruk dari biasanya.
"Adrian aku harus pergi," ucap Luna berbisik kepada Adrian, Adrian hanya membalas dengan senyuman.
"Berhati\-hati lah," ucap Adrian yang tidak mengeluarkan suaranya.
"Ok," jawab Luna berjalan pergi meninggalkan pesta pernikahan Adrian yang belum selesai.
"Baiklah Bos muda," jawab Doni yang masih memanggil Luna dengan sebutan Bos muda.
Luna pun membawa mobilnya pergi meninggalkan lokasi pesta pernikahan Adrian, Luna baru saja mendapat pesan dari Leon. Leon ingin bertemu dengan Luna,di tempat balapan yang biasa di lakukan Luna. Sesampainya di sana Luna tidak melihat ada Leon, Luna melihat motor merah yang hampir mirip dengan motor Leon empat tahun lalu.
"Leon, kamu dimana?" panggil Luna sembari berjalan meenghampiri motor.
"Hahaha... Luna\-Luna kamu benar\-benar naif. Mau aja dibodohin!" tawa seorang wanita dari belakang Luna, Luna pun memutar badannya dan melihat Natalia tengah berdiri bersama Yondri dan para anak buahya.
"SIAL!" ucap Luna saat mengetahui ini hanya jebakkan. "Bagaimana aku bisa seceroboh ini?" monolog Luna saat melihat begitu banyak anak buah Yondri dan Natalia.
"BUNUH DIA!" titah Yondri kepada anak buahnya.
"Sial, Ini bakal merepotkan!" ketus Luna yang sudah bersiap menunggu kedatangan anak buah Yondri dengan tangan kosong. Anak buah Yondri mulai menyerang Luna dengan besi, tapi Luna berhasil mengnakis semua serangan. Luna mulai kelelahan saat melawan anak buah Yondri begitu banyak, sementara Luna hanya sendirian.
Dilain waktu Juna tengah menelpon Luna.
"Nomor yang ada tuju sedang berada di luar jangkauan..."
"Kenapa Luna tidak mengakat telpon?" tanya Juna bingung.
"Ada apa tuan?" tanya Bayu tiba\-tiba muncul.
"Ini Luna tumbe\-tumben gak angkat telpon!" ketus Juna yang kesal.
"Ini bukan seperti Bos muda," ucap Bayu yang merasa curiga, karna Luna selalu mengakat telponnya.
"Sialan!" ucap Luna dengan nafas turun naik sembari memegang tongkat besi di tangannya.
"Dasar bajing\*n kalian!" teriak Luna marah seraya memukul para anak buah Yondri, Luna bagaikan seekor singa yang mengamuk. Tak ada kata ampun bagi Luna, dengan lihai Luna memukul semua anak buah Yondri hingga jatuh tak berdaya diatas aspal.
"Apa kau ingin balas dendam?" tanya Luna menatap Natalia dan Yondri dengan tatapan tajam.
"Asalkan kau tau, karena mu ayahku meninggal!"
"Apa yang ku lakukan pada ayahmu?" tanya Luna tak mengerti.
"Kau kan yang memberitahu ayahku tentang apa yang kulakukan di luar Karna mu ayahku mengalami jantungan!" jawab Natalia dengan mata yang merah karna menahan marah.