
Hari ini Juna sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, setelah dinyatakan benar-benar sembuh. Luna sedang mengemasi barang-barang Juna selama di rumah sakit, sementara itu Juna sedang mengganti pakaian di dalam toilet.
"Rambut kakak sekarang udah panjang!" ucap Luna memanyunkan bibirnya saat melihat Juna yang baru saja keluar dari dalam toilet.
"Udah jangan cemberut. Ntar kakak potong," jawab Juna tersenyum seraya mencubit pipi Luna.
"Iya deh. Nah pakai topi sama kacamatanya," ucap Luna tersenyum seraya memberikan kacamata dan topi kepada Luna.
Juna pun memakai kacamata dan topinya, karna Luna tidak ingin ada yang tau jika Juna baru saja keluar dari rumah sakit. Para anak buah Luna sudah menunggu Juna dan Luna di depan pintu, Luna pun memberikan tas yang berisi barang-barang Juna kepada anak buahnya. Tak ada yang mengenali Luna dan Juna selama perjalanan menuju mobil, yang sudah menunggu Juna dan Luna.
Sementara itu di rumah Luna, semua pelayan sedang sibuk menyiapkan makanan kesukaan Juna dan Luna, karena semenjak Juna koma, Luna tidak pernah makan dengan teratur.
Para anak buah Luna berlari, saat mobil Luna baru saja sampai di rumah.
"Benar ini rumah kita?" tanya Juna yang tampak kaget saat melihat rumah yang begitu besar dan megah.
"Ini benar-benar rumah. Kalau kakak gak percaya kakak bisa cek semuanya," jawab Luna tersenyum.
"Baiklah," jawab Juna seraya keluar dari dalam mobil dan diikuti Luna yang juga ikut keluar.
"Ayo masuk semua orang sudah menunggu kedatangan kakak," ajak Luna sembari menarik tangan Juna masuk kedalam rumah.
"Ternyata ini benar-benar rumah kita," ucap Juna tersenyum, saat melihat berbagai foto Juna, Luna dan Wilian terpapang di dinding.
"Selamat datang kembali ke rumah," ucap Adrian tersenyum senang sembari merangkul bahu Juna dan berjalan menuju meja makan. "Kita sudah buatkan makanan kesukaan mu," sambung Adrian seraya menujuk makanan enak di meja makan.
"Luna kamu juga harus makan. Para pelayan juga siap kan makaman kesukaan mu," ucap Adrian sembari menyuruh Luna duduk di samping Juna.
"Wah ini benar-benar enak," ucap Juna yang begitu menyukai ayam bakar dan berbeqiu, karna itu adalah makanan favorit Arjuna.
"Kalian semua juga ikut makan dong. Jangan cuma lihatin doang," ucap Luna tersenyum kepada Adrian dan para anak buahnya.
"Dengan senang hati kita ikut Bos muda," jawab anak buah Luna serentak seraya menyerbu menuju makan yang juga sudah di sediakan untuk anak buahnya.
"Bintang, kau sudah bekerja keras." Ucap Adrian sembari menyuruh Bintang duduk di sampingnya.
"Terimah kasih Adrian," jawab Bintang tersenyum malu, hari yang bahagia berlalu dengan gelak tawa.
Keesokan harinya.
Juna kembali masuk kantor dan Luna mulai kembali kuliah, setelah cuti sebulan penuh, Luna harus mengejar semua pelajaran yang ketinggalan.
"Hah sial kenapa ini begitu banyak!" keluh Luna saat melihat setumpuk buku yang harus di kerjakan.
"Luna!" panggil seorang wanita dengan lembut.
"Raisa?" jawab Luna sedikit kaget dengan penampilan baru Raisa. Raisa tidak lagi menggunakan kacamata, Raisa juga tidak mengikat rambutnya seperti saat di SMA.
"Wah Raisa kamu benar-benar cantik," puji Luna saat Raisa menghampirinya.
"Makasih Luna," jawab Raisa malu seraya menyelipkan rambutnya di telinga.
"Ohya maaf ya kemaren aku gak ikut nyambut kakak mu, " ucap Raisa menyesal sembari duduk di samping Luna.
"Gak apa-apa kok," jawab Luna tersenyum. "Bagaimana kabar Leon, Gio dan Rafka?" tanya Luna
"Kalau Gio dan Rafka alhamdulillah baik-baik aja, tapi kalau Leon aku gak tau."
"Kenapa?" tanya Luna bingung.
"Karena Leon udah satu bulan gak masuk kuliah dan juga ada berita tentang perusahaan ibu Leon yang bangkrut. Coba deh kamu tanya sama Rafka dan Gio, mereka berdua kan sahabat dekat Leon. Pasti mereka tau dimana Leon sekarang," jawab Luna seraya menyarankan Luna, Luna hanya membalas dengan anggukan pelan.
"Pantas aja aku tidak melihat Leon hari ini," bantin Luna yan g terlihat sedih.
"Gio, Rafka!" panggil Luna saat melihat Gio dan Rafka di tempat parkir.
"Luna?" jawab Gio dan Rafka serentak.
"Huft... Akhirnya kalian ketemu juga," ucap Luna dengan nafas turun naik.
"Ada apa?" tanya Gio heran.
"Kalian tau gak Leon ada dimana?" tanya Luna penasaran.
"Nggak, udah satu bulan kita gak ketemu dia dan juga rumah Leon sudah disita sama bank. Kita gak tau kemana dia sekarang," ucap Gio menjelaskan.
"Dan aku baru tau kalau ibu Leon udah meninggal karena penyakit kanker otak yang sudah lama di deritanya," sambung Rafka menjelaskan.
"Ibu Leon menderita kanker?" ucap Luna seraya mengingat terakhir kali Luna bertemu Leon, yaitu di rumah sakit.
\*\*\*\*\*
4 tahun kemudian.
Kring...kring...kring!
Tok...tok...tok!
Suara alaram di sertai dengan bunyi seseorang yang sedang mengetuk pintu di luar, itu tidak membuat Luna bangun dari tidur nyenyaknya.
Ceklek!
Seorang lalaki tampan yang berpakaian rapi membuka pintu kamar, dia adalah Bintang sekretaris Luna. Bintang berjalan santai menghampiri Luna, yang masih tertidur nyenyak.
"Percuma pasang alaram!" ucap Bintang seraya mematikan alaram Luna yang sudah menujukkan pukul delapan.
"Bos, bangun Bos!" panggil Bintang sembari mengoyangkan tubuh Luna.
"Hmmk..."
"Bos!"
"Hmmm..."
"Huft!" Bintang menghela nafasnya sebelum mengambil air diatas meja, lalu menuangkan keatas kepala Luna.
"BINTANG!" teriak Luna yang marah seraya bangun dari tidur dengan rambut yang sudah hampir basah.
"Bos, ini sudah jam delapan!" jawab Bintang santai.
"Apa harus pake air bangunin aku tiap pagi ya?" tanya Luna seraya menatap Bintang dengan sinis.
"Ya habisnya Bos di bangunin susah!" jawab Bintang seraya mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kenapa bangunin aku pagi\-pagi begini?" tanya Luna seraya bangun dari kasur.
"Bos lupa kalau hari ini Adrian bakal Menikah?" jawab Bintang yang balik bertanya.
"Astaga aku lupa. Kenapa kau tidak bangunkan aku dari tadi!" ucap Luna sembari mengambil handuk dan berlari masuk dalam kamar mandi.
"Ngomong\-ngomong siapa yang mau nikah dengannya?" ucap Bintang mengelengkan kepalanya seraya melihat Luna yang tiba\-tiba menjadi terburu\-buru. Tak beberapa lama kemudian Luna keluar dengan badan segar, Luna pun buru\-buru memakai pakaian seperti seorang laki\-laki. Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Luna berjalan keluar menuju tempat pernikahan Adrian.
"Ayok Bintang kita pergi," ucap Luna seraya memakai jas.
"Bos yakin akan pergi seperti itu?" tanya Bintang yang bingung.
"Kenapa?" tanya Luna berjalan turun tangga dengan cepat.
"Seharusnya bos memakai gaun."
"Ah ogah pakai gaun!" jawab Luna singkat.
"Terserah Bos deh," jawab Bintang yang pasrah dengan sifat Luna yang makin hari makin aneh.