
"Baiklah kakak mengerti," jawab Juna yang tampak kecewa.
"Jangan terlalu kecewa, ini juga toh demi kebaikan kakak," ucap Luna tersenyum manis, Juna hanya membalas dengan anggukan pelan.
Dilain waktu Gio sedang menunggu Luna di depan gerbang sekolah.
"Tumben kamu berangkat nya pagi," ucap Leon yang baru saja sampai bersama Rafka.
"Aku mau nungguin Luna," jawab Gio singkat.
"Sejak kapan kamu tertarik sama perempuan?" tanya Rafka heran.
"Entahlah aku juga gak tau," jawab Gio sembari mengedipkan bahunya.
"Luna!" panggil Leon saat melihat Luna yang baru saja masuk kedalam gerbang.
"Kalian?" jawab Luna sedikit kaget.
"Ngapain kalian disini?" sambung Luna sembari menghampiri ketiga pemuda tampan itu.
"Ngapain lagi kalau bukan nungguin kamu," potong Gio.
"Benarkah?" tanya Luna tak percaya.
"Hmmm," jawab Gio mengaguk.
"Terimah kasih," ucap Luna tersenyum manis. Tiba-tiba wajah Gio berubah menjadi merah merona, saat melihat senyuman Luna yang begitu manis dan begitu pun dengan Leon yang tiba-tiba jantungnya berdegup sangat kecang saat melihat senyuman Luna.
"Ada apa dengan ku?" batin Leon yang tak mengerti kalau dirinya sedang jatuh cinta kepada Luna.
"Kenapa wajah ku merasa panas?" batin Gio yang tiba-tiba merasa gerah.
"Kalian gak mau masuk? Bel nya sudah bunyi loh," tiba-tiba Leon dan Gio tersadar dari lamunannya saat mendengar perkataan Rafka.
"Apa?" ucap Gio dan Leon serentak.
"Astaga pagi-pagi udah ngelamun," ucap Rafka tertawa tipis, sementara itu Luna hanya tersenyum melihat kelakuan konyol Gio dan Leon.
Sementara itu Adrian begitu serius mendengarkan telpon dari seseorang.
"Aku mengerti ayah. Ayah tidak perlu khawatir," ucap Adrian sembelum menutup telponnya.
"Adrian!" panggil seorang pemuda yang baru saja masuk. Dia bernama Bintang Kristalian, anak yang cukup kuat di Geng Zurrah.
"Hmmm," jawab Adrian singkat.
"Geng Eden menatang ketua balapan malam ini," ucap Bintang melapor.
"Eden?" tanya Adrian yang tampak heran.
"Eden adalah geng yang baru saja dibangun beberapa minggu yang lalu, ketua nya terkenal dengan kecepatan dalam balapan, Dia berhasil mengalahkan ketua geng Tornigt."
"Baiklah. Kau boleh peergi," jawab Adrian yang tampak khawatir.
Dilain waktu Luna sedang menikmati makan siangnya bersama Gio, Leon dan Rafka di kantin.
"Luna!" panggil salah satu teman sekelas Luna, menghampiri Luna dengan nafas tersengal\-sengal.
"Ya ada apa? "
"Raisa..."
"Ada apa dengan Raisa?" potong Luna yang lansung berdiri.
"Raisa disiksa di toilet oleh Natalia dan te..." belum sampai Dia berbicara, Luna sudah pergi meninggalkan kantin.
"Teman\-temannya," ucap nya meneruskan perkataan yang belum selesai.
"Hei cupu! Makin hari makin berani aja sekarang ya!" bentak Natalia sembari mendorong kepala Raisa dengan kasar.
"A\-apa salahku?"" tanya Raisa terbata\-bata.
"Masih nanya lagi. Kamu itu udah berani dekatin calon pacarku!" potong Bunga sembari mendorong Raisa hingga terjatuh.
"Ma\-maafkan aku!" ucap Raisa ketakutan.
"Maaf\-maaf! Kamu itu pantasnya diginiin biar tau diri!" ucap Bunga sembari menguyur Raisa dengan air.
GEDUBAK!
Tiba\-tiba pintu toilet terbuka saat seseorang mendobrak nya dengan sangat keras.
"Lu\-Luna!" ucap Natalia dan Bunga serentak saat Luna muncul dari pintu.
"Kenapa?" tanya Luna berjalan santai menghampiri Natalia dan Bunga, tampa sadar Natalia dan Bunga berjalan mundur kebelakang.
"Apa aku mengganggu mu?"
"Tidak\-tidak," jawab Bunga sembari melambaikan kedua tangannya. Luna pun mengalihkan pandangannya kearah Raisa yang sudah basah kuyup, hingga memperlihatkan isi dalam baju Raisa.
"Kau tau apa yang paling kubenci didunia ini?" tanya Luna kepada dua perempuan yang sudah ketakutan, Bunga dan Natalia hanya mengelengkan kepalanya.
Wajah Natalia dan Bunga lansung berubah menjadi pucat saat Luna menekankan kata terakhir.
"Apa hidup kalian kurang menyenangkan? Hingga kalian menindas orang\-orang yang lemah!"
"Aku hanya memberi pelajaran kepada dia, karna sudah berani dekat dengan calon pacarku!" ketus Bunga yang tidak tau tengah berurusan dengan siapa.
"Calon bukan suami kan? Jika masih calon, Raisa masih bebas dekat dengannya!"
"Aa..." Kedua bola mata Bunga membulat saat mendengar perkataan Luna.
"Jika kalian tau siapa aku, kalian tidak akan berani mengganggu temannku!"
"Ayo Raisa kita pergi!" ajak Luna sembari membuka jaket nya dan memakaikan kepada Raisa.
"Wah Luna sangat keren!" puji orang\-orang yang menonton.
Waktu berlalu begitu saja semua orang sudah bersiap ditempat yang ditentukan, Adrian tengah duduk melamun di atas motornya.
"Adrian kau baik\-baik saja?" tanya Bintang.
"Aku baik\-baik saja," jawab Adrian seperti nya sedang menyebunyikan sesuatu.
"Apa kau yakin akan menggatikan ketua balapan?" tanya Bintang yang khawatir.
"Kau jangan khawatir," ucap Adrian tersenyum.
"Adrian, Ketua ingin Bos muda menjauh dari balapan untuk sementara waktu. Ketua hanya ingin Bos muda fokos pada sekolahnya," pesan ayah Adrian yaitu James Alexander.
Balapan antara Geng Zurrah dan Geng Eden tengah bersiap digaris finis menunggu aba\-aba, Para pendukung berteriak keras memberi semangat.
"Aku tidak boleh mempermalukan Geng Zurrah," batin Adrian sembari menunggu aba\-aba.
Satu...dua...mulai!
Adrian mulai menyusul penatang yang begitu cepat, awalnya Adrian baik\-baik saja, tapi pada saat perkelokkan tiba\-tiba saja Adrian kehilangan keseimbangannya. Karna laju motor yang begitu cepat saat diperkelokkan, hingga Adrian tak mampu menguasai motor nya.
"Adrian!" teriak Bingtang kaget sembari menghampiri Adrian yang sudah tergeletak dijalan.
"Panggil 911!" titah Bingtang yang panik.
"Bagaimana mungkin Ketua Geng Zurrah yang terkenal jago dalam balapan, bisa jatuh saat perkelokkan pertama?" monolog orang yang menantang Geng Zurrah.
Setelah mendengar kecelakaan Adrian, Luna lansung bergegas menuju rumah sakit yang diberitahukan Bintang.
"Luna mau kemana malam\-malam begini?" panggil Juna heran saat melihat Luna pergi terburu\-buru, namun Luna tidak menghiraukan panggilan dari Juna.
Sesampainya dirumah sakit, Luna lansung menuju ruang operasi setelah memakirkan motornya.
"Ke\-ketua," ucap anggota Geng Zurrah kaget dengan kedatangan Luna.
"Bagaimana bisa kalian membiarkan Adrian menggatikan aku ikut balapan?" tanya Luna geram.
"A\-Adrian melarang kami memberitahu ketua," jelas salah satu anggota Geng Zurrah terbata\-bata.
"Tapi kalian sudah tau kalau Adrian tidak bisa balapan!" bentak Luna yang begitu marah.
"Ini perintah dari Ayah ketua," potong salah satu anggota geng Zurrah.
"Maksudnya?" tanya Luna tak mengerti.
"Ayah ketua ingin ketua menjauh dari dunia balapan untuk sementara, karna itu Adrian menggatikan ketua balapan, ayah ketua ingin ketua fokos sekolah sampai lulus."
Mendengar penjelasannya Luna bagai disambar petir di siang bolong, bagaimana bisa ayah nya melakukan ini.
"Ketua!" panggil Bintang saat melihat Luna yang tiba\-tiba terduduk.
"Aku baik\-baik saja," ucap Luna menahan Bintang.
"Bukan kah Adrian sudah melarang kita untuk tidak memberitahu ketua!" bisik salah anggota geng Zurrah yang marah.
Tak beberapa lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang operasi.
"Bagaiman keadaan teman saya dok?" tanya Luna yang begitu khawatir.
"Kami berhasil menghentikan pedarahannya, tapi sebaiknya kalian bersiap dengan kemungkinan yang terjadi."
"Teman saya pasti bakal sadar," ucap Luna kesal mendengar penjelasan dokter.
"Saya hanya mengatakan yang kemungkinannya. Baiklah kalau begitu saya permisi," ucap dokter itu sembelum berlalu pergi. Luna berharap Adrian segera bangun, Luna tidak ingin kehilangan Adrian.