
"Hmm...Malam ini aku sangat puas bermain!" ucap Luna tersenyum bahagia sembari berjalan sempoyonga kearah Adrian.
"Kamu baik-baik saja Luna?" tanya Adrian yang lansung menghampiri Luna yang akan jatuh, Adrian pun memapah Luna menuju mobilnya.
"Uhukk...uhuk! Ini bukan apa-apa," jawab Luna tertawa tipis disertai dengan suara batuk.
"Seperti nya Farlan tau kalau kita bakal kesini," ucap Adrian saat tak menemukan Pemimpin nya.
"Biarkan saja, lagian aku sangat terhibur malam ini."
"Dasar Luna!" ucap Adrian sembari mencubit hidung Luna pelan.
"Ohya! Bagaimana kamu akan sekolah besok? Wajah mulus mu berubah menjadi jelek sekarang," ejek Adrian saat melihat wajah Luna penuh dengan luka, Luna hanya tertawa tipis sembari memukul bahu Adrian.
"Kalian baik\-baik saja?" tanya Luna saat melihat teman\-teman nya saling memapah satu sama lain.
"Kami baik\-baik saja ketua!" jawab teman Luna serentak.
"Ngomong\-ngomong siapa yang bakal bawa mobil?"
Semua orang hanya tertawa mendengar pertanyaan konyol dari Luna.
Sang surya mulai terbit dari arah timur, Juna baru saja kembali dari Bogor. Juna lansung berjalan menuju lantai atas dan mengecek apakah Luna masih belum bangun, Juna berniat ingin membangunkan nya.
"Luna!" panggil Juna sembari berjalan masuk kedalam kamar adiknya, Juna tidak menemukan adiknya berada dalam kamar nya. Juna pun berjalan tergesa\-gesa menuju lantai bawah dan mengetuk pintu kamar Bayu.
"Pak Bayu! Luna tidak pulang semalam?"
"Apa! Bos muda tidak pulang semalam?!" jawab Bayu lebih terkejut lagi, Bayu lansung menghubungi nomor Luna.
"Kring...kring...kring!"
Luna tidak mengakat telpon dari Bayu, karna Luna masih merasa ngantuk.
"Kring...kring...kring!"
"Ya hallo!" jawab Luna dengan suara melek.
"Bos muda ada di mana?" tanya Bayu khawatir.
"Aku ada di markas."
"Apa terjadi sesuatu semalam?"
"Aku baru siap bermain. Rasanya amat menyenangkan," jawab Luna tertawa tipis disertai dengan suara batuk.
"Luna kamu baik\-baik saja?" sela Juna khawatir saat mendengar suara batuk dari telpon, Luna tidak tau kalau Bayu mengeraskan volume telponnya agar dapat didengar Juna.
"Aku baik\-baik saja kakak. Hanya sedikit mengantuk, padahal hari ini aku ada ulangan matematika. Kakak boleh minta tolong tidak? Bawakan seragam ku ke markas," ucap Luna sebelum menutup telponnya.
"Bermain! Jika bermain kenapa dia terdengar begitu kelelahan?" tanya Juna kebingungan.
"Bermain itu artinya Bos muda baru saja siap bertarung dengan seseorang," jelas Bayu.
"Apa?" jawab Juna membelalakkan kedua bola mata nya karna kaget.
"Maaf tuan, Bos muda bilang kalau hari ini dia ada ulangan. Saya harus mempersiapkan keperluan nya," ucap Bayu berlari menuju kamar Luna, tak beberapa lama kemudian Bayu kembali turun dengan perlengkapan sekolah Luna.
"Doni!" panggil Bayu.
"Ya pak!" jawab Doni yang baru saja keluar dari dapur.
"Tolong antarin tuan Juna ke markas Bos muda," titah Bayu.
"Hah!" ucap Juna kaget.
"Semoga ini bisa menebus kesalahan tuan," ucap Wilian sembari memberikan perlengkapan sekolah Luna.
Doni pun membawa Juna pergi menuju markas Luna yang tak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke markas Luna.
"Jadi adikku tidur ditempat seperti ini?" ucap Juna sembari berjalan masuk kedalam rumah yang cukup besar dan bersih, Juna juga melihat beberapa teman Juna sedang tertidur pulas diatas sofa.
"Ini kamar nya tuan," tunjuk Doni.
"Luna!" panggil Juna sembari mengetuk pintu.
"Masuk saja," jawab Luna dari dalam.
Ceklek!
"Kenapa kakak lama sekali?" ketus Luna yang sudah selesai mandi.
"Maaf!" ucap Juna sembari memberikan seragam Juna.
Setelah selesai berganti pakaian Luna pun berangkat sekolah dengan diantarkan oleh Juna.
"Luna!"
"Jangan sering\-sering berkelahi ya. Kakak tidak ingin wajah manis adik kakak berubah menjadi jelek," pinta Juna saat melihat luka didekat suging bibir, pipi dan kening Luna.
Luna hanya diam tak menjawab.
"Aku pergi dulu," pamit Luna sembari menyalami tangan Juna.
"Maaf untuk semuanya," ucap Juna yang terlihat menyesal sembari mencium puncak kepala Luna.
Aku juga minta maaf," jawab Luna tersenyum sembari memberi kecupan hangat di pipi kanan Juna.
"Wajah yang mirip ibu tapi sifat nya mirip ayah," ucap Juna sembari menatap Luna masuk kedalam gerbang sekolah.
Juna menyesal karna pergi ke Amerika dan meninggalkan adikknya, jika bukan karna nya mungkin Luna tidak akan pernah terjerumus sama seperti ayah nya.
"Ini bukan salah Ayah semua nya, kau tau kenapa adik mu yang manis berubah menjadi Singa? Itu karena kau pergi ke Amerika. Kau kira adikmu Luna tidak tau, kalau kau pergi ke Amerika bukan hanya untuk sekolah musik. Tapi kau juga pergi ketempat Ibumu, Ayah hanya menuruti apa yang dia suka. Mungkin kau benar, kalau ayah bukan lah ayah baik dan juga suami yang baik untuk Ibu kalian. Ayah memilih pekerjaan ayah dibandingkan keinginan ibumu, selama kau pergi Luna merasa kesepian. Hanya perkelahian yang bisa menghibur nya, maafkan Ayah karna tidak bisa menjadi Ayah yang baik buat kalian," tutur Wilian menyesal sembari menghapus air mata nya. Perkataan Wilian yang masih tergiang sampai saat ini oleh Juna, Juna merasa adiknya berubah karnanya.
"Bagaimana?"
"Is soalnya susah semua!"
"Kalian aja yang gak belajar!"
Gerutu siswa\-siswa yang baru saja mengumpulkan lebaran jawaban di atas meja guru.
"Hei Luna!" sapa Gio yang tiba\-tiba muncul di depan meja Luna, saat Luna sedang sibuk memasukkan kotak pensil kedalam tas nya.
"Luna! Wajah kamu kenapa?" tanya Gio khawatir saat melihat bekas luka disuging bibir Luna, dengan refleks Gio menyentuh nya.
"Hah! Oh ini bukan apa\-apa," jawab Luna yang tiba\-tiba wajah nya berubah menjadi merah merona.
"Maaf! Aku gak sengaja," ucap Gio yang sadar.
"Gio. Kita kekantin yuk?" ajak Rafka menghampiri Gio bersama Leon.
"Kalian mau ikut gak?" tanya Gio yang malah balik bertanya kepada Luna dan Raisa.
"Mau\-mau," jawab Raisa mengaguk senang.
"Aku benar\-benar benci dengan gadis itu!" ketus Natalia yang melihat ke abkraban Luna dengan tiga cowok tampan sekaligus.
"Natalia! Kita kekantin juga yuk?" ajak salah satu teman Natalia yang bernama Bunga Cahya.
"Hmm..." balas Natalia menghela nafasnya sembari bangun dari kursinya.
Tok...tok...tok!
Ketuk seseorang dari luar.
"Masuk!" jawab Wilian singkat.
"Ketua, saya baru dapat kabar kalau Bos muda bertarung semalam dengan anak buah Farlan," jelas tangan kanan Wilian yang bernama James Alexander.
"Lalu bagaimana keadaan Luna saat ini?" tanya Wilian yang begitu khawatir.
"Bos muda mengalami sedikit luka, tapi Bos muda tetap pergi sekolah."
"Gak ada kapok\\-kapok nya si Farlan. Masih berani menyerang putriku!" ucap Wilian yang geram.
"Perintahkan anak buah untuk memberi pelajaran si Farlan!"
"Baik Ketua!" jawab James yang lansung melaksanakan perintah dari Wilian.
Sementara itu Juna sedang menunggu Luna di depan gerbang sekolah, sesekali Luna melirik jam tangan nya yang menunjukkan pukul tiga kurang.
"Itu dia," ucap Juna tersenyum senang saat melihat Luna muncul bersama dengan Raisa, Juna pun keluar dari mobil. Saat perjalanan menuju Luna, tiba\\\\-tiba Juna melihat beberapa pria tampan menghampiri Luna dengan motornya.
"Kalian butuh tumpangan?" tanya Leon dengan tersenyum manis.