My Girlfriend Is A Boss Mafia

My Girlfriend Is A Boss Mafia
My Girlfriend Is A Boss Mafia



Raisa pun kembali dari dapur dengan membawa pesanan Adrian.


"Selamat menikmati tuan," ucap Raisa sembari meletakan pesanan Adrian di atas meja.


"Saya sengaja tidak memasukkan daung bawang ke dalam pesanan tuan, saya lihat hari itu tuan tidak memakan daun bawangnya." sambung Raisa yang masih ingat kalau Adrian tidak menyukai daun bawang.


"Terima kasih."


"Ohya, ini uang tuan. Hari itu tuan membayar terlalu banyak," ucap Raisa sembari menyodorkan amplop yang berisi uang Adrian.


"Buat kamu saja."


"Tidak tuan, meskipun kami tidak kaya. Saya tidak boleh menerima uang dari orang asing," jawab Raisa dengan polos, Adrian hanya terdiam saat Raisa mengatakan itu.


"Permisi!" ucap Rafka muncul dari pintu bersama Leon dan Gio.


"Ka-kalian!" ucap Raisa sedikit kaget saat melihat Leon, Gio dan Rafka muncul.


"Raisa aku mau pesan semua menu disini. Aku dengar masakkann ibumu sangat enak," ucap Rafka tersenyum.


"Baiklah, kalian silahkan duduk. Aku akan mengambilnya ke dapur," ucap Raisa sembari berjalan menuju dapur, tak beberapaa lama kemudian Raisa kembali membawa pesanan Gio, Leon dan Rafka.


"Raisa, kamu sudah bertemu Luna belum?" tanya Leon penasaran.


"Belum Leon," jawab Raisa sembari meletakan pesanan di atas meja.


"Apa dia pergi ke Amerika tampa permamitan dengan kita?" ucap Gio sembari memanyunkan bibirnya.


"Mana mungkin. Kita kan teman-temannya," sambung Rafka sembari mencoba mie ayam buatan ibu Raisa.


"Jika Luna pergi tampa berpamitan dengan kita, maka cinta pertama ku memiliki kenangan yang buruk!" ucap Leon yang begitu sedih.


"Uhuk...uhuk!"


Mendengar Adrian batuk karna keselek makanan, dengan serentak Leon, Gio, Rafka dan Raisa melihat ke arah Adrian.


"Kenapa makanan ini tiba-tiba pedas?" ucap Adrian selesai minuman.


"Huft..." ucap Gio dan Leon menghela nafas dengan serentak.


 


Sementara itu Juna sedang duduk dikursi samping brankar, sembari mengelap tangan Luna dengan kain basah.


"Luna kapan kamu bangun?"


"Ini sudah satu hampir minggu kamu tidur. Kamu gak lelah apa?" ucap Juna berbicara sendiri, berharap Luna akan segera bangun saat mendengar suaranya.


"Aku di mana?" tanya Luna yang tampak kebingungan.


"Luna, akhirnya kamu sadar!" ucap Juna tersenyum haru, saat melihat Luna bangun dari koma Nya.


"Sudah berapa lama aku di sini kak?"


"Sudah hampir satu minggu," jawab Juna yang tampak sedih.


"Kak, maaffin Luna udah bikin kakak khawatir.


"Tidak. Seharusnya kakak yang minta maaf, karna gak bisa melindungi mu. Kakak bukan yang baik," ucap Juna yang tampak begitu bersalah, sembari menudukan kepalanya.


"Kakak gak minum lagi kan?"


"Tidak\-tidak," jawab Juna yang lansung mengelengkan kepalanya.


"Tapi kenapa bau mulut kakak bau akohol?"


"Mana mungkin. Kakak tidak pernah minum lagi semenjak hari itu," jawab Juna bingung.


"Aku cuma bencanda kok kak," ucap Luna tertawa tipis. Mendengar ucapan Luna, Juna pun ikut tertawa.




Sementara itu Leon tengah tidur diatas sofa yang ada balkon, sembari menatap bulan yang begitu indah di malam hari yang begitu cerah.



"Cinta pertama ku bagaikan bulan. Indah tapi tidak bisa ku genggam," ucap Leon sembari melebarkan tangannya dan mencoba mengenggam bulan.



"Seadainya Luna juga merasakan apa yang kurasakan saat ini. Pasti tidak akan sesakit ini," ucap Leon sembari meletakan telampak tangganya didada dan merasakan sesuatu yang sesak didada.



~~~~~~~~~~•••



"Bagaimana dengan Farlan dan Teo?" tanya Luna kepada Adrian.



"Saat bintang ingin memaksudkan Farlan ke dalam mobil, tiba\\-tiba seorang lelaki bertopi membawanya kabur. Sedangkan Teo melarikan diri saat aku pergi membantu mu," jelas Adrian sembari mengupaskan apel untuk Luna.



"Kamu tidak perlu khawatir. Kita pasti melindungi kalian berdua," ucap Adrian sembari memberikan apel yang sudah di kubas.



"Terima kasih," ucap Luna menerima apel dengan tersenyum.



"Luna!"



"Hmmm."



"Kamu masih ingat gak? Kalau aku pernah bilang, aku punya adik perempuan yang seumuran dengan mu."



"Masih," jawab Luna yang asik memakan apel.



"Sebelum ayah meninggal, ayah memberikan alamat ibu ku. Aku tidak tau kalau kalian berteman di sekolah," ucap Adrian sembari menatap Luna.



"Maksud mu?" tanya Luna tak mengerti.




"Raisa?" tanya Luna tak percaya, Adrian hanya mengaguk pelan.



"Dia sudah tau kalau kalian adik kakak?" tanya Luna penasaran.



"Tidak. Aku tidak berani mengatakannya, karna aku yang memilih pergi meninggalkan mereka. Aku tidak mau mereka membenci ku yang sekarang, ibuku sangat membenci ayahku. Bagiku sekarang sudah bisa melihat mereka dan makan masakan ibuku, itu sudah membuat ku bahagia."



"Hidup kita hampir sama, bedanya aku masih memiliki seorang kakak di samping ku. Tapi kau tak perlu khawatir, aku selalu ada disisi mu." Ucap Luna sembari menempuh lengan Adrian.



"Terima kasih," jawab Adrian tersenyun. "Ohya aku hampir lupa, tadi pas aku makan. Aku dengar salah satu teman mu, mengatakan kalau dia mencintaimu."



"Siapa?"



"Yang mirip orang Korea itu!"



"Uhuk...uhuk... Maksudmu Leon?" jawab Luna kaget.



"Mana aku tau," jawab Adrian mengedipkan bahunya.



"Aku baru ingat. Kalau dia pernah bilang, ingin mengatakan sesuatu padaku setelah acara kelulusan. Jangan\\-jangan dia ingin mengatakan itu? Aaa..." Ucap Luna yang terlihat panik sendiri, Adrian hanya tertawa melihat Luna bersikap konyol.



~~••~•


beberapa hari kemudian Leon dan Gio tengah bercanda gurau.



"Kamu aja kali yang \*\*\*\*," ucap Leon tertawa sembari menyegol Gio.



"Aku gak \*\*\*\*!" ketus Gio yang kesal sembari menyegol Leon cukup kencang. Karna tubuh Leon oleng, tampa sengaja Leon menyegol seorang seorang laki\\-laki bertato alias preman.



"Kamu punya mata gak sih!" bentak preman itu marah saat minumannya mengenai bajunya.



"Maaf bang saya gak sengaja."



"Maaf\\-maaf, kamu pantasnya di giniin!" ucap preman itu sembari melayangkan pukulan ke wajah mulus Leon.



"Santai aja dong, kita kan udah minta maaf!" ucap Rafka yang balik marah saat preman itu memukul waja Leon.



"Kamu lagi ikut campur!" bentak preman itu yang balik marah sembari mendorong bahu Rafka.



"Leon, Gio Rafka!" ucap Luna saat melihat Leon, Rafka dan Gio tengah di pukul oleh para preman.



"Luna tunggu!" tahan Adrian saat melihat Luna ingin menghampiri mereka.



"Kenapa? Aku hanya ingin menolong mereka!"



"Kamu baru sembuh. Biar aku yang tangani," ucap Adrian sembari berjalan menghampiri para preman itu.



"Kalau kau berani, sini lawan aku!" bentak Adrian yang kesal.



"Kamu!" jawab preman itu tersenyum sinis. "Bukankah kau ketua Geng Zurrah yang terkenal hebat dalam balapan, tapi kalah saat tingkungan pertama!"



Mata Adrian lansung membesar saat mendengar perkataan preman itu. "Siapa Dia? Bagaimana dia tau?" batin Adrian yang penasaran dengan lelaki itu.



"Ohya kau pasti lupa, aku ketua Geng Eden. Yondri Antoni," ucap preman itu memperkenalkan dirinya.



"Ternyata kau orang yang menatang balapan waktu itu, kali ini aku yang menatang mu balapan. Akan ku kembalikan nama Geng Zurrah yang sudah kau permalukan!"



"Luna!" ucap Adrian tampa sadar, kalau Leon, Gio, dan Rafka masih ada.



"Kau tak perlu khawatir," ucap Luna tersenyum.



"Baik, aku terima. Kita balapan jam delapan di tempat biasa." jawab Yondri tersenyum devil.