
Dilain waktu Juna sedang menunggu Luna pulang, Juna berjalan mondar mandir sembari memegang ponsel ditangannya.
"Punya adek satu tapi kelakuannya kayak cowok!" ucap Juna yang khawatir.
"Apa Tuan gak lelah berjalan terus?" tanya Bayu yang sudah pusing melihat Juna berjalan mondar-mandir. "Bos muda pasti baik-baik saja kok. Lagipun Bintang dan anak buah lainnya juga ikut dengan Bos muda," sambung Bayu yang berusaha menenangkan pikiran Juna.
"Aku gak bisa percaya sama mereka!"
"Itu Bos muda pulang," saat Bayu mendengarkan bunyi motor Luna, Juna lansung berjalan menuju pintu.
"Luna, kamu dari mana aja?" tanya Juna yang tiba-tiba menjadi pemarah.
"Dari arena balapan," jawab Luna memberikan kunci motornya pada Bintang dan berjalan menaiki tangga rumahnya.
"Luna, gak bisa apa berhenti dari balapan? Kamu itu seorang wanita dan sekarang usia kamu udah 23, bentar lagi kamu akan menikah jika ketemu jodoh. Kalau kamu gini terus, siapa bakal mau nikah sama kamu?" omel Juna seraya mengikuti Luna masuk.
"Udah selesai marahnya?" tanya Luna sembari membalikan badannya kearah Juna.
"U-udah!" jawab Juna sedikit terbata-bata. "Kamu ingin marahin kakak balik atau mau pukul kakak?" tanya Juna yang mulai khawatir saat Luna menatapnya dengan tatapan tajam.
Luna hanya diam saja sembari menatap Juna yang mulai ketakutan. "Tidak," jawab Luna setelah sekian lama diam. "Aku ingin meluk kakak,"sambung Luna tersenyum sembari memeluk Juna.
"Apa?" jawab Juna yang kaget saat Luna memeluknya.
"Bos kenapa?" tanya Bayu kepada Bintang yang baru saja masuk.
"Bos muda bertemu dengan cinta pertamanya tadi di balapan. Asal ayah tau, cinta pertama Bos muda berhasil mengalahkan Bos muda dalam balapan. Yang taruhannya, Bos muda berhenti dari dunia balapan dan memberikan hati Bos muda. Wah dia benar-benar keren!"
"Lalu Bos muda menyagupinya?" tanya Bayu penasaran.
"Ya jelaslah. Ayah kayak gak pernah muda aja!" jawab Bintang mengejek ayahnya.
"Dasar bocah!" jawab Bayu sembari memukul kepala Bintang.
"Sakit ayah!" jawab Bintang seraya mengusap kepalanya.
"Syukurlah kalau ada orang yang mampu merubah sifat Bos muda," ucap Bayu yang bahagia sembari menatap Luna yang tertawa bahagia bersama Juna.
"Kak, aku masuk kamar dulu ya."
"Iya-iya," jawab Juna yang bingung dengan sifat Luna yang tiba-tiba berubah menjadi manis.
"Dia kenapa?" tanya Juna seraya mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bos muda lagi jatuh cinta Tuan muda," jawab Bayu.
"Ohw," jawab Juna berjalan menaiki tangga. "Apa Luna jatuh cinta? Kirain gak ada yang mau dengannya," sambung Juna berjalan menaiki tangga.
Keesokan harinya.
Alaram yang cukup keras membuat Luna terbangun dari tidurnya, Luna pun mematikan alaramnya.
"Huwaa!" ucap Luna menguap seraya melebarkan kedua tangannya. Luna pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, tak beberapa lama kemudian Luna pun keluar dengan badan segar. Luna pun mengeringkan rambutnya, setelah merasa rapi Luna pun berjalan keluar menuju dapur.
"Bos muda!" ucap pelayan yang kaget saat Luna sudah bangun.
"Bos muda lapar atau haus?"
"Tidak, aku hanya ingin belajar masak. Mau kan kalian ajarin aku?" tanya Luna tersenyum manis.
"A-apa?" jawab para pelayan kaget saat mendengar Luna tiba-tiba ingin belajar masak. "Tentu Bos muda," sambung salah satu pelayan.
Para pelayan pun mulai mengajarkan Luna cara memotong sayur dan bawang, dengan perlahan Luna mengikuti cara yang di anjarkan pelayan. Setelah beberapa lama, akhirnya Luna berhasil membuat nasi goreng dan telur dadar gulung.
"Susah juga ternyata," keluh Luna yang sudah mengeluarkan keringat.
Sementara itu Juna baru saja turun dari lantai atas, dengan pakaian yang sudah siap untuk pergi kantor, begitu pun dengan Bayu dan Bintang yang juga baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.
"Tumben kamu bangun pagi," ucap Juna saat melihat Luna yang sedang sibuk membantu pelayan meletakkan sarapan diatas meja, Luna hanya membalas dengan senyuman manisnya.
"Tumben Bos muda bantu-bantu para pelayan," ucap Bintang seraya duduk di kursi.
"Gak ada yang salah kok, besok jika kamu sudah menikah. Kamu akan melakukan hal seperti ini," jawab Juna terseyum.
"Hehehe... Kak ini aku yang bikin lo," ucap Luna seraya menujuk nasi goreng dan telur dadar gulung.
"Benarkah?" tanya Juna tak percaya, Luna hanya mengaguk pelan.
"Baiklah coba kakak cicipi dulu," ucap Juna seraya mencicipi masakkan Luna.
"Lumayan enak," ucap Juna setelah mencicipinya.
"Benarkah?" tanya Bintang seraya mencoba nasi goreng Luna.
"Ayah ini beneran enak lo," puji Bintang setelah memakannya, Bayu pun juga ikut memakannya.
"Kamu juga harus memakannya," ucap Juna seraya menyodorkan sendok yang berisi nasi goreng dan telur dadar gulung, Luna pun menerima suapan dari Juna.
Sementara itu Leon baru saja keluar dari kamarnya dengan wajah yang fres, nenek Leon sudah menyiapkan sarapan untuk Leon diatas meja.
"Kamu sudah bangun Leon?" tanya Nenek Leon sembari meletakan nasi putih diatas meja.
"Udah nek," jawab Leon singkat.
"Ayo sini duduk, nenek sudah masakkin makanan kesukaan mu."
"Iya nek," jawab Leon berjalan menuju makan, Leon pun makan dengan lahap. Setelah selesai makan, Leon pun membantu neneknya mencuci piring. Meskipun nenek Leon melarang, Leon tetap bersikeras membantu neneknya mencuci piring.
"Nek, Leon mau pergi ke makam ibu dulu." Ucap Leon setelah mencuci piring.
"Iya hati-hati Leon."
Leon pun pergi meninggalkan rumah neneknya dengan mobil dan menuju pemakaman ibunya yang tak jauh dari rumah nenek Leon. Sesampainya disana, Leon tak lupa membeli bunga kepada pedagang, untuk disebarkan diatas makan ibunya.
Sebelum menebarkan bunga, Leon pun mencabut rumput-rumput yang mulai tumbuh diatas makam ibunya. Setelah selesai Leon pun menebarkan bunga diatas tanah dan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Ibu, maaf Leon baru datang sekarang. Ibu baik-baik saja kan disana? Ohya ibu, Leon berencana ingin membuka sebuah restoran. Seperti impian Leon dulu," ucap Leon yang berusaha untuk tersenyum sembari menatap papan nama ibu Leon.
Dilain waktu Luna juga baru kembali dari makam ayahnya, tampa sengaja Luna bertemu dengan Leon saat ingin menuju tempat parkir.
"Leon!" sapa Luna dengan lembut.
"Luna?" jawab Leon sedikit kaget.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Luna penasaran.
"Oh aku baru saja kembali dari makam ibuku. Kalau kamu?" jawab Leon yang balik bertanya.
"Sama, aku juga baru kembali dari makam ayahku."
"Benar juga," jawab Leon yang tampak canggung. "Ingin jalan bersama ku?" tanya Leon.
"Hmmm... Boleh juga," jawab Luna tersenyum.
"Kalian bisa pergi lebih dulu," ucap Luna kepada para anak buahnya.
"Baik Bos muda," jawab anak buah Luna menuduk.
"Silahkan," ucap Leon tersenyum seraya membukakan pintu mobil untuk Luna, Luna hanya tertawa tipis saat Leon berubah menjadi romantis.
"Terimah kasih," jawab Luna tersenyum seraya masuk ke dalam mobil.
Leon pun membawa Luna kesebuah tempat yang belum pernah di datanginya, yaitu tempat berbagai macam wahana permainan.
"Wah tempat ini benar-benar keren!" ucap Luna yang terpesona dengan berbagai macam permainan.
"Benarkah?"
"Hmm... Ini pertama kalinya aku datang kesini. Aku senang kamu mengajakku kesini," ucap Luna tersenyum.