My Girlfriend Is A Boss Mafia

My Girlfriend Is A Boss Mafia
My Girlfriend Is A Boss Mafia



"A-ayah?" ucap Juna yang tiba-tiba merasakan sesak di dada.


"Tuan, ayo kita pergi ke rumah sakit?" ajak Bayu sembari berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan.


Dilain waktu Adrian tengah berjalan dengan tongkat menghampiri ruang UGD, dengan dibantu Bintang.


"Ayah!" panggil Adrian membuang tongkatnya dan lansung memeluk James yang sudah tak berdaya.


"A-adrin ma-afkan Ayah yang belum bisa menjadi Ayah yang baik. Mungkin ini yang bisa Ayah lakukan untukkmu," ucap James dengan susah payah berbicara sembari memberikan sebuah kertas putih, Adrian pun menerima kertas yang berisi alamat seseorang.


"A-drian paman rasa pa-man tidak bisa ber-tahan lebih lama lagi, Paman ingin kau sam-paikan ini pada Luna dan Juna. Kalau pa-man amat menya-nyangi mereka berdua," ucap Wilian yang susah payah berbicara sembelum menghembuskan nafas terakhirnya.


"A-yah rasa Ayah juga tidak bisa ber-tahan lebih lama lagi A-drian, Ayah juga men-yanyangi kalian berdua. Sampaikan maaf ayah pada adikkmu," ucap Jemes susah payah menyudahi perkataannya sembelum menutup matanya untuk selama-lamanya.


"Kalian berdua tidak boleh pergi!" ucap Adrian histeris, sesekali Bintang menghapus air matanya.


"Ayah, Paman!" panggil Adrian bergatian menatap Wilian dan Jemes.


"A-ayah!" ucap Juna terbata-bata dari pintu dan melihat Wilian dan James terbaring di atas brankar.


"Ayah jangan tinggalin kita! Hiks..." ucap Juna menangis sembari meluk tubuh Ayahnya yang sudah tak bernyawa.


Sementara itu Luna sangat kaget dengan kedatangan anggota Geng Zurrah kesekolahnya.


"Ayolah aku sudah melarang kalian untuk tidak datang ke sekolah, ini bisa mengukap siapa aku sebenarnya!" ketus Luna yang kesal.


"Ketua ini masalah penting," ucap anggota Geng Zurrah sedikit ragu mengatakannya.


"Jika ini tidak begitu penting. Aku akan menghajar kalian habis\-habisan!"


"Ayah ketua..."


"Ayah ku kenapa?" tanya Luna penasaran saat tiba\-tiba anggota Geng Zurrah terdiam.


"Ayah ketua mengalami kecelakaan, saat ini beliau berada dirumah sakit \*."


Mendengar perkartaan itu Luna lansung berlari menuju mobil.


"Mau kemana dia?" tanya Leon penasaran saat melihat Luna terburu\-buru pergi.


"Bagaimana mungkin ayahku yang sehat\-sehat bisa mengalami kecelakan. Kalian pasti bohongkan?" mereka tidak berani menjawab pertanyaan Luna, sesampainya dirumah sakit Luna lansung berlari menuju UGD dan menemukan Juna dan Adrian yang sudah berada disana, dengan mata yang sudah merah karna menangis.


Luna melihat dua jenazah yang sudah di tutupi dengan kain putih, dengan perlahan Luna membuka kain yang menutupi wajah Ayahnya.


"AYAH!" tangis Luna tiba\-tiba pecah saat kain putih itu terbuka dan melihat wajah ayahnya yang sudah terluka.


"Ayah! Hiks...hiks... Bagaimana bisa ayah meninggalkan ku? Hiks... Ayah tidak boleh pergi," ucap Luna menangis tersedu\-sedu, Juna tak bisa menahan air matanya saat melihat Luna menangis tersedu\-sedu. Begitu pun semua orang yang ada dalam ruangan itu, tak mampu menahan air matanya saat melihat Luna menangis tersedu\-sedu.


"Kak ini pasti bohong kan? Hiks..."


"Kakak berharap begitu tapi ini benar\-benar terjadi," ucap Juna sembari memeluk erat Luna lansung.


"A\-ayah ja\-jangan pergi, huwaa..." ucap Luna menangis tersedu\-sedu di pelukkan Juna.


Juna tidak menyangka jika itu adalah kata\-kata terakhir Wilian.


 


James dan Wilian dimakam kan di tempat yang sama, sementara supir Wilian di serahkan kepada keluarganya.


Semenjak kembali dari pemakaman ayahnya, Luna lebih memilih mengurung diri di kamar.


"Luna!" panggil Juna muncul dari balik pintu sembari membawa sarapan untuk Luna di atas napan.


"Luna, dari kemaren sore kamu belum makan. Ayo makan," ucap Juna sembari mengoyang kan tubuh Luna pelan, Juna tau kalau Luna sedang tidak tidur.


"Luna!"


"Aku gak lapar kak," jawab Luna dengan suara parau, sementara itu mata Luna mulai bengkak, karna menangis dari kemarin.


"Sedikit aja."


"Aku bilang aku gak lapar!" bentak Luna kesal.


"Sampai kapan kamu begini? Meskipun kamu menangis sepanjang hari, menolak makan. Ayah gak akan kembali lagi, terima kenyataan, kalau ayah gak akan kembali lagi."


"Bagaimana kakak bisa bicara seperti itu?" tanya Luna yang kembali menangis. "Ohya, kakak kan dari dulu emang gak pernah suka punya ayah seorang mafia, sama seperti ibu yang meninggalkan ayah. Bagiku ayah adalah segalanya, jadi wajar saja aku begitu kehilangannya."


"Luna, bukan itu maksud kakak."


"Sudah lah kak, kakak boleh pergi ke tempat ibu. Tampa kalian berdua aku bisa bahagia!" potong Luna yang kembali tidur.


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, saat Luna berbicara seperti itu.


"Jika itu kemauan mu. Besok kakak akan kembali ke Amerika!" jawab Juna sebelum pergi meninggalkan kamar Luna.




Raisa sedang duduk melamun di bawah pohon yang begitu rindang, sesekali Raisa membuka kacamata nya dan menghapus air mata nya jatuh di pipi Raisa yang mulus.




"Tidak. Tadi mataku kelilipan debu kok," jawab Luna berbohong.



"Kamu pasti sedang memikirkan Luna ya?" tanya Rafka sembari duduk di samping Raisa.



"Tentu saja. Raisa kan sahabat Luna," potong Gio sembari duduk di samping Raisa.



"Aku gak bisa bayangkan betapa terpukul Luna saat ini," ucap Leon sembari menedang batu\\-batu kecil.



"Dasar caper!" ketus Natalia kesal saat melihat Raisa duduk di antara tiga pria tampan.



"Iya, aku benar\\-benar jijik tengok nya. Makin hari makin gak tau diri aja tu si cupu!" ketus Bunga yang kesal.



~~~~~~~~•••



Sementara itu Adrian tengah berdiri di depan warung makan yang cukup sederhana, sembari melihat sebuah kertas yang berisi alamat seseorang, yang di berikan James sebelum meninggal.



Merasa sudah betul alamat yang di tuju, Adrian pun memutuskan untuk masuk ke dalam warung.



"Selamat datang," ucap seorang wanita paruh baya menyambut Adrian.



Tiba\\-tiba langkah Adrian terhenti saat melihat wanita yang di depannya.



"Ibu?" batin Adrian yang tak sanggup memanggilnya secara langsung.



"Mau pesan apa tuan?" tanya wanita itu saat melihat Adrian bengong, Dia bernama Ara Tania Fatmawati, mantan istri James sekaligus ibu dari Adrian Alexander.



"Oh..." jawab Adrian sedikit kaget. "Aku ingin semua menu yang ada disini," sambung Adrian sedikit gugup.



"Baik tuan, kalau begitu tuan silahkan duduk. Saya akan menyiapkan segera," ucap Tania berjalan menuju dapur.



Adrian melihat sekeliling tempat dan melihat sebuah foto tempanpang di dinding. Seorang perempuan cantik, yang tengah tersenyum manis bersama Tania.



"Ibu, aku pulang!" ucap perempuan itu muncul dari pintu, Dia adalah Raisa Agatha Sari.



"Ibu mau ku bantuin?" tanya Raisa tersenyum sembari mengambil alih napan yang di bawa Tania.



"Silahkan bawa ke meja no 8," ucap Tania sembari menujuk ke arah Adrian.



"Siap bos," jawab Raisa tersenyum sembari mengatarkan pesanan Adrian.



"Selamat menikmati tuan," ucap Raisa lembut sembari meletakan pesanan Adrian di atas meja, Adrian hanya membalas dengan anggukan.



Adrian mulai mencoba nasi yang di campurkan dengan daun bawang, karna Adrian tak menyukai daun bawang. Adrian pun menyisihkannya ke dalam piring kecil dan mulai memakan makanan ibunya untuk pertama kali, setelah 15 tahun berpisah, dengan lahap Adrian menyantap makanan yang begitu lezat.