
"Kau tau kesalahan mu? Karna ulah mu yang licik ini, kau menghacurkan begitu banyak Geng!" ucap Luna yang begitu geram. "Dan juga kau Natalia. Bagaimana ayah mu kepala sekolah itu tau kelakuan anakknya di luar, pasti ayah mu bakal jatungan karna Mu!" sambung Luna sembari menatap Natalia.
"Wow!" ucap semua orang kagum.
"Wow Bos muda begitu keren!" puji anggota Geng Zurrah dengan serentak.
"Bagaimana kalau kita pergi makan untuk merayakannya?"
"Mau-mau Bos muda, udah lama nih kita gak kumpul-kumpul!" ucap anggota Geng Zurrah semangat.
"Baik, Adrian yang traktir!" ucap Luna sembari menujuk Adrian.
"Aku!" tunjuk Adrian pada diri sendiri, Luna hanya membalas dengan anggukan.
"Baiklah," jawab Adrian pasrah.
"Leon, Gio, Rafka kalian juga harus ikut!" ajak Luna.
"Kami?" jawab Gio sedikit kaget.
"Teman Bos muda berarti Kalian juga saudara kami," ucap Adrian tersenyum.
"Terima kasih," ucap Gio tersenyum.
"Ini tempat yang kamu maksud Adrian?" tanya Luna penasaran sesampainya di warung ibu Raisa.
"Selamat datang!" sambut Raisa saat melihat sengerombolan para lelaki berpakaian hitam, hanya Leon dan teman\-temannya berebeda.
"Kalian?" ucap Raisa kaget saat melihat Leon, Gio, dan Rafka.
"Bukan kah tuan?" tanya Raisa yang lebih bingung saat melihat Adrian.
"Raisa, buatkan yang enak ya!" ucap Luna sembari menepuk bahu Raisa dan berjalan mencari tempat duduk.
Raisa lebih terkejut lagi, saat seorang pemuda menyebut namanya.
"Juna gak kamu ajak?" tanya Adrian.
"Tenang aja, bentar lagi juga sampai kok. Nah itu dia muncul," tunjuk Luna saat Juna baru sampai.
"Maaf aku telat," ucap Juna sembari menghampiri kumpulan Geng Zurrah.
"Kak hari ini aku ijinin kakak minum."
"Kenapa?" tanya Juna bingung.
"Karna aku ingin minum\-minum," ucap Luna tersenyum sembari meminum minuman alkohol.
"Wow Bos muda hebat!" ucap anggota Geng Zurrah kagum, saat Luna meminum dari botolnya.
"Baiklah. Aku juga ingin minum," ucap Juna mencoba kemampuannya dalam minum.
1 jam kemudian.
"Luna berhenti minum!" ucap Adrian sembari menahan Luna untuk minum lagi.
"Aku masih ingin minum!" ucap Luna yang sudah mabuk berat.
"Luna, kenapa
kau tiba\-tiba minum begitu banyak?" tanya Adrian yang heran sembari mencoba menghentikan Luna minum.
"Rasanya begitu sakit melihat mereka berdua bermesraan!" batin Leon menatap tajam Luna dan Adrian yang begitu dekat, layaknya seorang pasangan kekasih di mata Leon.
"Aku akan menggatikan mu minum!" ucap Leon sembari merebut gelas Luna dan meminum habis minuman Luna.
"Leon kamu kan gak bisa minum?" tanya Rafka yang sudah mabuk.
"Itu pasti di lakukan demi Luna," sambung Gio tampa sadar mengatakan itu.
"Kau menyukai adikku?" tanya Juna yang juga ikut mabuk.
"Bagaimana mungkin kak, Dia berniat ingin melupakan ku. Kenapa aku malah marah saat dia mengatakan itu? Seharusnya aku senang!" ucap Luna yang tampa sadar mengatakan isi hatinya.
"Karna Bos muda juga mencintainya."
"Mencintainya?" tanya Luna yang tak mengerti dengan maksudnya.
"Wah bagaimana bisa kau begitu jahat pada adikku yang manis ini?"
"Sudah\-sudah. Sebaiknya kita pulang!" ajak Adrian.
"Kalau begitu gedong aku," ucap Luna manja.
"Baiklah," jawab Adrian sembari mengedong Luna kedalam mobil Juna.
"Sepertinya teman mu mabuk berat? Aku akan menyuruh anak buahku untuk mengatarkan kalian."
"Tolong antarin mereka!" titah Adrian kepada anak buahnya.
"Baik Bos," jawab anak buah Adrian sembari membantu Gio dan Rafka masuk ke dalam mobil.
"Terimah kasih," jawab Leon menudukkan sedikit kepalanya.
"Leon!" panggil Adrian saat Leon ingin masuk ke dalam mobil.
"Iya," jawab Leon menoleh ke arah Adrian.
"Kenapa kau mengatakan ini padaku?" tanya Leon penasaran.
"Karna kau menyukai Luna, Luna hanya butuh waktu untuk menyadari perasaannya."
"Aku mengerti," jawab Leon mengaguk sembari berjalan masuk ke dalam mobil.
Karna semua anggota Geng Zurrah pada mabuk berat, Adrian terpaksa menitipkan motornya kepada Raisa demi keselamatan anggotanya.
"Wah hari ini kita kedatangan tamu begitu banyak," ucap Tania kelelahan.
"Benar ibu," jawab Raisa tersenyum.
"Pantas saja Luna begitu hebat, ternyata Dia seorang Bos. Tapi kenapa dia berbohong soal ke Amerika?" ucap Raisa yang bertanya\-tanya pada diri sendiri.
~~~~~~~•••
"Aakh... Berapa banyak aku minum semalam?" ucap Luna yang baru bangun dari tidurnya sembari memegang kepalanya yang sakit.
"Aduh mafas bau minuman lagi!" ucap Luna saat mencoba membaunkan nafasnya.
"Bau badan juga kurang sedap!" ucap Luna mencium bau badannya sendiri, Luna pun berjalan pergi menuju kamar mandi untuk mengembalikan kesegaran badannya.
"Sepertinya kita membutuhkan beberapa pelayan untuk mengurus rumah ini deh," ucap Juna tiba\-tiba muncul.
"Terserah kau aja," jawab Adrian sembari meletakan sebuah sup di meja makan dan beberapa makanan lainnya.
"Ini semua kau yang buat?" tanya Junaa bingung saat melihat begitu banyak menu yang berbeda\-beda.
"Mana mungkin aku yang buat, Aku pesan tadi."
"Ohw aku kirain in kamu yang buat," ucap Juna yang menatap makanan itu.
Sementara itu Gio baru saja bangun dari tidurnya, Gio melihat Rafka yang masih tertidur pulas di sampingnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Leon yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kenapa aki ada di rumah mu?" tanya Gio penasaran.
"Kau tidak ingat semalam kalian berdua mabuk berat. Untung anah buah Adrian mau mengatarkan kita!"
"Lalu motor kita?"
"Ya terpaksa titipan tempat Raisa."
"Buruan mandi sana!" ucap Leon sembari melemparkan handuk kecil ke arah Gio.
"Gio tuh tolong di bangunin!" sambung Leon sembari berjalan menuju cermin.
"Iya\-iya!" jawab Gio kesal, Leon hanya tersenyum melihat kelakuan temannya, Leon pun berjalan menuju cermin.
Saat menatap dirinya dicermin, tba\-tiba Leon tersenyum saat mengingat perkataan Luna saat mabuk.
"Meskipun kagmu mengatakannya saat mabuk. Setidaknya aku sudah tau kalau kamu juga menyukaiku Luna," ucap Leon tersenyum.
~~~~~~~~~~•••
"Adrian, apa saat mabuk aku mengatakan hal aneh tidak?" tanya Luna penasaran sembari menyuap sarapannya.
"Hal aneh apa?" tanya Adrian pura tidak tau.
"Hal aneh seperti aku meengatakan..."
"Aku ingat!" potong Juna tiba\-tiba.
"Ingat apa?" tanya Luna kaget.
"Kau mengatakan, kalau dia ingin melupakan mu. Tapi kau malah marah saat dia mengatakan itu, seharusnya kau senang!" jelas Juna yang hampir tepat kata\-kata yang di sebutkan Luna semalam.
"Apa aku benar\-benar mengatakan itu kak?" tanya Luna yang tak percaya.
"Hmmm, kau mengatakan itu untuk yang bernama Leon kalau gak salah."
"Habislah aku!" ucap Luna yang tak percaya jika semalam dia mengatakan isi hatinya.
"Kalau boleh tau, Apa karna itu kamu jadi sensi kemaren?" tanya Juna mengoda.
"Bukan kok!" ketus Luna kesal sembari memasukkan roti kedalam mulut Juna.
"Aku cuma tanya. Apa yang salah dengan perkataan ku?" ucap Juna memgeluarrkan rotinya dari mulut.
"Seharusnya kamu lebih peka sebagai seorang kakak!" ucap Adrian yang juga ikutan memasukkan roti ke dalam mulut Juna.
"Woi, sarapan kalian belum habis!" teriak Juna keras saat Adrian dan Luna pergi meninggalkan meja makan.
"Habisin sendiri!" teriak Luna keras.