My Girlfriend Is A Boss Mafia

My Girlfriend Is A Boss Mafia
My Girlfriend Is A Boss Mafia



Teo yang mendengar teriakkan itu lansung berlari dan melihat apa gerangan yang telah terjadi.


"Siapa kalian?" tanya Teo ketika melhat klub berubah menjadi kapal pecah, tiba-tiba anak buah Luna memukul tengkuk lutut Teo hingga membuat Teo bersimpuh di hadapan Adrian dan Luna.


"Baru beberapa bulan kita tidak bertemu, tapi sekarang kau sudah lupa kami!" jawab Adrian tersenyum sinis.


"Kau!" ucap Teo yang tiba-tiba ingat.


"Di mana bos mu?" tanya Luna tampa basa basi.


"Penjaga!" teriak Teo keras.


"Mau berteriak sekeras apapun. Mereka tidak akan datang!" ucap Luna tersenyum devil.


"Hah kau pikir aku masih seperti dulu?" ucap Teo yang balik tersenyum sinis. Dengan mudah Teo melepaskan tangannya hingga membuat anak buah Luna jatuh pingsan.


"Habisi dia!" perintah Luna.


Beberapa anak buah Luna maju melawan Teo, dengan mudah Teo mengalahkan anak buah Luna.


"Luna, biar aku saja yang melawannya. Sebaiknya kamu pergi mencari Farlan," ucap Adrian memberi saran.


"Baiklah. Aku serahkan Teo padamu," ucap Luna beranjak dari kursi.


"Kalian pergi lindungi Bos muda. Biar aku yang menghadapi Teo," titah Adrian kepada anak buahnya.


"Baik Bos!" jawab anak buah Luna serentak, sembari mengikuti Luna.


"Kenapa kalian ikut?"


"Bos Adrian ingin kami melindungi Bos muda," ucap salah satu anak buah Luna.


Satu persatu anak buah Luna mulai membuka pintu kamar, yang di gunakan untuk melakukan hubungan ****.


"Aaak!" teriak wanita kaget saat anak buah Luna salah membuka pintu.


Luna pun berjalan menuju lantai atas dengan di ikuti beberapa anak buah Luna.


"Buka!" titah Luna kepada anak buahnya.


"Plak!" suara yang cukup keras saat anak buah Luna mendobrak pintu.


"Aaaa..." teriak wanita tampa busana kaget.


"Menjijikkan!" ucap Luna saat melihat adegan yang tak pantas di lihatnya.


Farlan yang kaget lansung mengambil senjata apinya di bawah bantal.


"Dor!" satu tembakkan berhasil tepat di dada anak buah Luna. Anak buah Luna lansung membawa Luna untuk bersembunyi di balik dinding.


"Dia bersenjata Bos," ucap anak buah Luna khawatir.


"Kau takut Luna?" teriak Farlan tertawa dari dalam.


"Kita tidak bisa melawan dia Bos."


"Kalian tidak perlu khawatir, aku sudah pernah mengalahkannya. Sebaiknya kalian pergi membantu Adrian," titah Luna kepada anak buahnya.


"Tapi Bos?"


"Kalian tau akibatnya jika melawan perintah?"


"Kami mengerti Bos," jawab anak buah Luna pergi. Luna tidak ingin lagi melihat anak buahnya mati tempat di mata Luna.


"Ayah lindungi aku," ucap Luna sembari mengeluarkan sebuah pisau yang sudah di rancang.


"Tamoa senjata api aku juga bisa melawannya," ucap Luna tersenyum sinis sembari keluar dari persembunyian.


"Ternyata kau cukup berani rupanya!" ucap Farlan yang sudah memakai baju handuk.


"Aku menatang mu duel tampa senjata api. Jika kau benar-benar Bos yang di bicarakan mereka!"


"Baiklah!" jawab Farlan yang lansung meletakan senjatanya. Farlan cukup tertarik mendengar perkataan Luna, tampa berfikir kalau ini hanya lah jebakkan, Farlan tidak tau kalau orang yang menatangnya adalah Luna Azzurah.


Perkelahian antara Farlan dan Luna pun di mulai, dengan mudahnya Farlan mengalahkan Luna meski tampa senjata.


"Aakh!" ucap Luna kesakitan saat Farlan membantingnya ke dinding.


"Mana kekuatan ku dulu?" batin Luna yang berusaha bangun.


"Hei anak muda jangan sok belagu kalau kau masih pemula!" ucap Farlan sembari memegang dagu Luna.


"Aku tidak akan kalah begitu muda," ucap Luna tersenyum devil.


"Kau benar-benar membuatku muak!" ucap Farlan kesal sembari menusuk tubuh Luna dengan pisau.


 


Sementara itu Adrian berhasil mengalahkan Teo.


"Seharusnya aku membunuh mu saat itu!" ucap Adrian sembari memukul Teo bertubi\-tubi, hingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Masukkan dia ke mobil. Aku akan menolong Luna," titah Adrian yang sudah puas memukul Teo.


"Baik Bos," jawab anak buah Adrian sembari memapah yang tak berdaya keluar.




"Kau pikir aku bisa kalah dengan mudah!" ucap Luna sembari memegang tangan Farlan dengan kuat.



"Ternyata kau sudah lupa dengan Luna Azzurah. Anak dari musuh yang kau bunuh!" ucap Luna dengan marah, tiba\\-tiba mata Farlan melebar saat mendengar perkataan Luna.




"Kau pikir kau bisa menguasai harta Ayahku? Tidak akan. Selama aku hidup, tidak akan ku biarkan kau menyentuh harta Ayah ku!" ucap Luna dengan marah, sebelum memukul kepala Farlan dengan siku tangan Luna.



"Luna, kau baik\\-baik saja?" ucap Adrian yang tiba\\-tiba muncul dari balik pintu bersama beberapa anak buahnya.



"Seperti yang kau lihat," ucap Luna tersenyum. "Sisa kau yang bereskan," sambung Luna sembari berjalan keluar.



"Bawa dia ke mobil!" titah Adrian kepada anak buahnya.



Saat perjalanan menuju mobil, tiba\\-tiba Luna pingsan karna luka tusukkan yang di sebabkan Farlan.



"Luna!" panggil Adrian yang lansung menghapiri Luna sebelum jatuh ke tanah.



"Ka\\-kau terluka!" ucap Adrian kaget saat melihat darah beegitu banyak mengalir dari tubuh Luna.



~~~~~~~~~••



"Luna, kenapa kau lakukan ini pada kakak?" tanya Juna dengan air mata jatuh, sembari memegang tangan Luna dengan erat.



"Juna, maaffin aku. Karna gak bisa lindungi Luna," ucap Adrian sembari memegang bahu Luna.



"Kau tidak perlu meminta maaf, kau selalu melindungi Luna. Seharusnya aku berterima kasih, karna kau sudah menjaga Adikku selama aku di Amerika. Seharusnya dulu aku tidak pergi ke Amerika, jika aku tidak pergi. Mungkin Luna tidak akan pernah menjadi seperti ini," ucap Juna yang begitu menyalahkan diri sendiri.



"Juna jangan terlalu manyalahkan diri mu sendiri, Luna melakukan ini karna keinginannya. Luna ingin menjadi pelindung buat Paman Wilian, Luna tidak ingin lagi Paman Wilian menjadi Bos mafia. Luna hanya ingin Paman Wilian menjadi ayah yang sederhana buat kalian berdua, itu sebabnya Luna bertekad menjadi seorang Bos dan menjalankan bisnis ayah mu. Agar kau tidak pergi lagi ke Amerika dan kalian bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi lama kelamaan Luna menyukai dunia ini, baginya ini seperti hiburan. Jadi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri," ucap Adrian sembari menepuk bahu Juna dengan pelan, sebelum pergi meninggalkan Juna dan Luna.



~~~~~~~~•••



Dilain waktu Leon, Gio dan Rafka sedang berkumpul di sebuah kafe.



"Sudah lama kita gak bertemu Luna," ucap Leon kepada Gio dan Rafka.



"Kau benar, semenjak kita lulus. Kita tidak pernah bertemu lagi dengan Luna dan Raisa. Ngomong\\-ngomong bagaimana kabar mereka ya?" ucap Gio sembari menopang dagu nya dengan kedua tangan.



"Ohya aku dengar ibu Raisa punya warung lo, makanannya begitu lezat. Bagaimana kalau kita mencoba Nya?" ucap Rafka mengusulkan.



"Boleh juga tuh," jawab Leon dan Gio serentak.



"Go kita pergi!" ucap Rafka dengan penuh semangat pergi menuju warung Ibu Raisa.



~~~~~~~•••



"Permisi!" ucap Adrian sembari mengakat sebelah tangannya ke atas.



"Tuan!" ucap Raisa sedikit kaget.



"Aku sudah menduga kalau tuan bakal datang lagi," ucap Raisa tersenyum saat melihat Adrian yang kembali datang, Adrian hanya membalas dengan anggukan.



"Mau pesan apa tuan?" tanya Raisa dengan sopan.



"Seperti waktu itu," jawab Adrian tersenyum, karna Raisa masih mengingat wajah Adrian.