
Beberapa mobil hitam memasuki gerbang rumah Luna, saat pintu mobil terbuka Luna melihat Pak Bayu dan semua anak buahnya di Bogor.
"Kenapa kalian disini? Lalu siapa dia?" tanya Luna heran saat melihat seseorang yang bukan berasal dari anak buah Ayahnya.
"Ini pengacara almarhum Ayah Bos muda. Dia ingin membicarakan sesuatu kepada Bos muda, Tuan muda, Tuan Adrian." ucap Bayu menjelaskan.
"Ohw begitu," jawab Luna singkat.
~•~
Saat ini Luna, Juna dan Adrian tengah berada di sebuah ruangan. Luna begitu penasaran apa yang ingin di bicarakan pengacara Ayahnya.
"Saya Defrianto Saputra, Pengacara Ayah kalian. Pertama saya turut berduka cinta atas meninggalnya Tuan Wilian,Beliau orang yang begitu baik yang saya kenal." Ucap pengacara Wilian sebelum memulai percakapkan. "Baiklah, disini saya ingin menyampaikan amanah Tuan Wilian sebelum beliau wafat. Vila yang ada di Bogor sudah di beli oleh perusahaan ternama."
"Apa?" potong Luna kaget.
"Sebentar saya belum selesai berbicara."
"Lanjutkan Pak," jawab Juna tenang.
"Kalian tidak perlu khawatir. Tuan Wilian sudah membangun sebuah perusahaan yang sahamnya hampir 78% dan ingin Tuan Juna dan Tuan Adrian yang mengelola perusahaan itu."
"Ayah punya perusahaan?" tanya Luna tak percaya, yang Luna tau Ayahnya hanya memiliki bisnis nakorba yang akan di impor ke luar negeri.
"Sementara itu Tuan Wilian ingin Bos muda atau lebih tepatnya Nona Luna Azzurah melanjutkan pendidikan ke sebuah universitas," jelas Defri sembari memberikan sebuah kertas yang berisi universitas yang ingin Luna daftar.
"Bagaimana bisa Ayahku menyiapkan semua ini?" tanya Juna bingung.
"Tuan Wilian sudah tau kalau suruhan Farlan akan menabraknya."
"Jika Paman tau anak buah Farlan akan membunuhnya, Kenapa Paman tetap aja pergi ke Bogor?" tanya Adrian yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Tuan Wilian membiarkan ini demi memasukkan Farlan Berserta anak buahnya kedalam penjara. Tuan James yang mengetahui niat Tuan Wilian pun ikut membantu Tuan Wilian demi membalaskan kematian Bibi mu," ucap Defri menjelaskan.
"Bibi?" tanya Adrian tak mengerti.
"16 tahun lalu adik dari Ayahmu meninggal karena di perkosa oleh Farlan, saat itu ayah mu tak punya kekuatan untuk mengukap kebenaran. Karna Farlan bekerja sama dengan polisi dan hakim, setahun kemudian Ayahmu mengetahui kalau musuh terberat Farlan adalah Tuan Wilian. Ayahmu memutuskan bekerja kepada Tuan Wilian, namun Ibumu menolak keputusan Ayahmu, karna Ibumu tau. Jika masuk kesebuah jaringan para Mafia hanya kematian yang bisa mengakhiri. Mengingat kalian bertiga yang masih muda, Ayah kalian tidak ingin berakhir sepertinya. Yang harus berpisah dengan orang-orang yang di cintai, Ayah kalian ingin, kalian bertiga memiliki masa depan yang cerah. Tuan Wilian dan James tidak ingin kalian menyesal di kemudian hari,"
Luna, Juna dan Adrian hanya terdiam saat mendengarkan perkataan Bapak pengacara.
"Tuan Wilian juga memiliki hadiah untuk Bos muda."
"Apa?" tanya Luna penasaran.
"Tuan Wilian tau kalau Bos muda begitu mencintai dunia balapan. Jadi Beliau sudah menyiapkan sebuah motor yang khusus untuk Bos muda, motor yang sudah di modifikasi demi menjaga keamanan Bos muda saat balapan. Tuan Wilian juga berharap kalau Geng Zurrah bisa membawa pengaruh yang bagi masyarakat."
Mendengarkan perkataan Defri, Luna tak mampu lagi menahan air matanya.
"Terimah kasih sudah mengatakannya," jawab Luna sembari menghapus air matanya.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu."
"Terimah kasih atas kerasnya selama ini," ucap Juna sembari berjabat tangan den Defri.
"Tuan Adrian, Ibu anda begitu merindukan anda. Beliau ingin bertemu dengan anda segera, saya sedikit membantu sedikit. karna anda telalu takut mengatakannya," ucap Defri sembelum pergi.
"Terimah kasih atas batuannya," jawab Adrian tersenyum bahagia.
Saya permisi dulu," ucap Defri berlalu pergi.
Keesokan harinya Adrian dan Juna sedang bersiap-siap di kamarnya, ini pertama kali Adrian menggunakan baju yang rapi. Sementara itu Luna juga sedang bersiap-siap untuk masuk ke kampus pertamanya, Luna menggunakan baju kemeja kotak-kotak. dan bawahannya Luna memakai celana levis longgar, sebagai tambahan Luna juga memakai jeket levis.
"Kamu benar-benar keren," ucap Luna memuji diri sendiri sembari menujuk dirinya di cermin.
Luna pun mengambil tasnya diatas kasur dan berjalan pergi keluar.
"Wah Adrian kau benar-benar tampan!" puji Luna saat Adrian bernampilan yang begitu berbeda pada hari biasanya.
"Bisa aja kamu Luna," jawab Adrian yang terlihat malu.
"Serius kau benar-benar tampan, kalau seadainya aku tidak mengagap mu seperti kakakku. Pasti aku sudah mengecani mu," ucap Luna tersenyum nyengir.
"Aham Leon jangan lupa!" ucap Juna yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ngapain juga mikirin Dia. Dia kan sudah berniat ingin melupakanku!" ketus Luna kesal.
"Bukannya kah itu yang kamu inginkan?" tanya Juna penasaran.
"Udah ah. Aku mau pergi kuliah!" ucap Luna tiba-tiba mengalihkan pertanyaan Juna.
"Kapan kamu dewasanya?" tanya Adrian yang juga ikut pergi.
"Dasar aneh!" ketus Juna kesal.
Semua orang memberikan hormat saat Juna dan Adrian berjalan masuk kesebuah gedung yang begitu tinggi dan besar.
"Selamat datang di perusahaan Presdir," ucap Bayu sembari memasangkan kalung yang terbuat dari bunga ke leher Juna.
"Selamat datang di perusahaan Pak Direktur," ucap Bayu kembali memasangkan kalung bunga di leher Adrian.
"Terimah kasih," jawab Adrian tersenyum.
Sementara itu Leon tersenyum Lebar saat melihat Luna masuk ke jurusan yang sama dengannya.
"Hari ini kedatangan mahasiswa baru. Silahkan perkenalkan dirimu," ucap Dosen kepada Luna.
"Nama saya Luna Azzurah, semoga kita bisa berteman dengan baik!" ucap Luna mempekenalkan dirinya.
"Silahkan duduk," ucap Dosen mempersilahkan, Luha hanya menuduk dan berjalan menuju kursi sebelah Leon.
"Aku pikir dia tadi laki\-laki ternyata perempuan." ucap salah satu perempuan yang tampak kecewa.
"Tapi dia mirip artis... Ah benar Arjuna Agatha," ucap salah satu wanita yang ingat.
"Luna kita bertemu lagi," ucap Leon tersenyum saat Luna duduk di sampingNya.
"Hehehe... Kamu benar Leon," jawab Luna sedikit canggung.
Luna pun mengalihkan pandangannya kearah depan, seperti sedang fokos mendengarkan arahan dari dosen, walau sebenarnya otak Luna sedang berputar.
"Apa Leon tau aku mengatakan itu ya?" batin Luna sesekali mencuri pandang. "Jika di perhatikan dia benar\-benar tampan," ucap Luna tersenyum dalam hati.
"Ada apa?" tanya Leon saat Luna menatapnya.
"Eh bukan apa\-apa," jawab Luna sedikit gugup dan mengalihkan kembali padangannya kedepan, Leon hanya tersenyum saat Luna ketahuan menatap dirinya diam\-diam.
"Habis lah aku!" batin Luna sembari menutup wajahnya dengan buku.
~~~~~~~•••
Sementara itu di tempat kantor Juna, para karyawan wanita sedang berkumpul\-kumpul untuk menghabiskan jam istirahat.
"Presdir dan Direktur kita benar\-benar tampan."
"Aku dengar Presdir punya adik perempuan yang manis, selain manis dia juga seorang Bos muda yang dikelilingi begitu banyak anak buah yang tampan\-tampan dan keren"
"Aaa ... Aku jadi iri sama adiknya Presdir, dia dikelilingi dengan banyak laki\-laki tampan dan bergelimang harta."
"Gosip apa kalian?" tanya Bayu yang tiba\-tiba muncul.
"Pak Bayu?" jawab karyawan wanita sedikit kaget dengan kedatangan Bayu. tiba\-tiba muncul.
"Kalian gak tau ini sudah lewat jam makan. Kembali bekerja!" bentak Bayu marah saat melihat para karyawannya berkumpul\-kumpul