
"Ayolah untuk apa aku melakukan itu semua, siapa kau bukan hal penting untukku!" jawab Luna tersenyum sinis.
"Jangan bohong kau, aku yakin kau pelakunya. Karna kau sangat membenci ku!" ucap Natalia mengepalkan kedua tangannya.
"Tidak, aku tidak pernah membenci mu. Lalu untuk apa aku melakukan itu semua?!" bentak Luna yang kini balik marah.
"Jangan bohong kamu Luna!" bentak Natalia yang masih tak percaya.
"LUNA!" teriak Juna keras saat salah satu anak buah Yondri ingin memukul kepala Luna dari belakang, Luna yang mendengarkan suara teriakkan itu lansung mencari arah suara.
Took!
Satu pukulan tongkat besi tepat di belakang kepala Luna.
"LUNA ...!" teriak Juna keras seraya menghampiri Luna yang sudahg tergeletak dilantai, Natalia yang melihat semua itu, lansung menutup mulutnya dengan kedua tangan karna ngeri.
Replay.
"Luna!" panggil Juna saat melihat anak buah Yondri ingin memukul kepala Luna dengan besi, tapi dengan sigap Luna memegang tongkat besi itu dan lalu menjatuhkannya.
"Enyalah kau dari hadapan ku!" bentak Luna seraya mematahkan tangan anak buah Yondri.
"Aaakkk!" teriak anak buah Yondri kesakitan.
"Tuan muda!" panggil Bayu saat melihat Juna berhenti berlari dan menjerit seperti orang yang sedang kesakitan.
"Kakak!" panggil Luna yang khawatir saat melihat Juna yang tiba-tiba menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Aakh!"
Teriak Juna kesakitan saat perlahan-lahan semua ingatan Juna mulai kembali, saat melihat anak buah Yondri megayunkan besi ke kepala Luna. Semua yang dilihat Juna, hanyalah bayangan Juna saat kepalanya di pukul Teo. Arjuna tak mampu menerima semua ingatannya, yang tiba-tiba kembali. Juna merasakan bumi tengah berputar, keseimbangan tubuhnya mulai goyah dan tampa sadar Juna jatuh keatas lantai. Sesekali Juna mendengarkan suara Luna yang memanggilnya, saat sebelum menutup matanya.
"KAKAK!" panggil Luna yang lansung menghampiri Juna yang sudah tak sadarkan diri.
Sementara itu Natalia dan Yondri lansung melarikan diri, saat anak buah Luna datang bergerombolan.
"Jangan sampai Adrian tau soal ini!" ucap Luna kepada para anak buahnya, karna Luna tidak ingin mengganggu hari bahagia Adrian dan Suci.
"Kami mengerti Bos!" jawab anak buah Luna serentak.
Sedangkan Bayu lansung memapah Juna masuk kedalam mobil, Luna lansung mengambil alih setir mobil dan melaju begitu cepat menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Juna lansung di periksa oleh dokter. Sementara itu Luna menunggu Juna, bersama Bayu di luar. Tak beberapa lama kemudian dokter yang memekriksa Juna pun keluar, Luna lansung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan kakak saya dok?" tanya Juna yang khawatir.
"Tuan Juna baik-baik saja, Tuan Juna hanya mengalami shock saat semua ingatannya kembali. Sebentar Tuan Juna akan segera bangun," jawab Dokter itu menjelaskan.
"Syukurlah," jawab Luna dan Bayu serentak.
"Saya permisi pak dulu," ucap Dokter itu sebelum berlalu pergi.
"Terimah kasih Dok," ucap bayu menudukkan kepalanya.
Luna pun berjalan masuk menghampiri Juna yang masih terbaring diatas brankar, Luna pun duduk di samping brankar sembari memperhatikan Juna yang masih tertidur.
"Inilah yang aku takutkan saat ingatan Kakak kembali, karna aku kakak jadi bangini. Seharusnya aku lebih waspada tadi," ucap Luna menyesal seraya memegang tangan kakaknya, sementara itu Bayu hanya memepehatikan Luna dari atas sofa.
Keesokan harinya Juna baru saja bangun, Juna melihat Luna tengah tertidur pulas dan Juna juga melihat Bayu yang tengah tertidur diatas Sofa.
"Lagi-lagi kamu yang menyelamatkan ku. Aku benar-benar payah menjadi seorang kakak," ucap Juna seraya membelai lembut kepala Luna.
"Ohw Tuan sudah bangun," ucap Bayu yang baru saja bangun.
"Suuitt!" ucap Juna terseyum seraya meletakkan jari telunjuknya di bibir merah muda.
"Saya mengerti Tuan," angguk Bayu yang bangun dari sofa dan berjalan dengan pelan menuju pintu agar tidak membangunkan Luna.
"Huwaa!" ucap Bayu seraya melebarkan kedua tangannya.
"Pak Bayu!" panggil Raisa yang tiba-tiba, Bayu pun menolehkan kearah belakang dan melihat Raisa dan Rafka tengah berdiri menggunakan baju Dokter.
"Eh Nona Raisa dan Tuan Rafka," jawab Bayu sedikit malu.
"Kenapa disini?" tanya Raisa penasaran.
"Aaa..."
"Apa dia terluka?" potong Raisa penasaran.
"Bos muda baik-baik saja, tapi Tuan muda yang masuk rumah sakit."
"Apa kak Juna baik-baik saja?" tanya Raisa yang terlihat khawatir.
"Tuan muda sekarang baik-baik saja kok," jawab Bayu tersenyum.
"Syukurlah," ucap Raisa lega.
"Dokter Double R ada pasien gawat darurat!" teriak salah satu suster, R berarti Raisa dan Rafka.
"Pak Bayu kami harus pergi!" ucap Rafka yang lansung menarik tangan Raisa.
"Iya-iya," jawab Bayu mengaguk.
Sementara itu Luna baru saja bangun dari tidurnya.
"Baru bangun?" tanya Juna tersenyum.
"Ohw kakak udah bangun?" ucap Luna seraya mengusap matanya.
"Maaf ya gara-gara kakak kamu harus tidur di rumah sakit," ucap Juna menyesal.
"Gak apa-apa kok. Ohya, bagaimana kepala kakak sekarang?"
"Baik-baik aja kok," jawab Juna terseyum.
"Bagus deh," jawab Luna yang senang mendengarnya.
"Ayok kita pulang?" ajak Juna yang turun dari atas brankar.
"Kakak yakin udah baik-baik aja?" tanya Luna yang masih khawatir.
"Yakin," jawab Juna terseyum seraya mengambil jaketnya yang tergantung, Luna pun mengikuti Juna keluar dari ruangan itu.
Dilain waktu Leon baru saja sampai di bandara, Leon sudah menelpon Gio untuk menjemputnya di bandara.
"Leon!" teriak Gio senang saat melihat Leon yang begitu tampan dengan setelan jasnya, Leon hanya tertawa tipis melihat sahabatnya Gio tak berubah dari empat tahun lalu.
"Leon kemana aja kamu?" tanya Gio sembari memeluk Leon.
"Ayolah Gio ini di bandara," ucap Leon yang risih saat orang-orang melihat Gio memeluknya.
"Aku tidak peduli. Aku benar-benar merindukan mu," jawab Gio yang tak bisa menahan kerinduannya pada Leon.
"Maafkan aku pergi tampa pamit pada kalian. Ngomong-ngomong Rafka gak ikut?" tanya Leon yang tak melihat Rafka.
"Rafka sekarang udah jadi dokter dan Dia bakalan nikah sama Raisa bulan depan," ucap Gio tersenyum senang.
"Kalau Luna?" tanya Leon penasaran.
"Haduh, Luna makin hari makin gak jelas hidupnya."
"Gak jelas gimana?" tanya Leon penasaran.
"Hari-hari dia gunakan untuk balapan, berkelahi..."
"Kalau pacar?" tanya Leon memotong perkataan Gio yang belum selesai berbicara.
"Siapa yang bakal mau dengan wanita galak kayak dia, yang kerjaannya cuma berkelahi dengan para-para Bos mafia!" ucap Gio sembari meletakan koper Leon di bagasi, Leon hanya tersenyum senang mendengarnya.
"Jangan bilang kamu masih suka dengan Dia?" tanya Gio penasaran seraya menahan Leon masuk, Leon hanya membalas dengan senyuman.
"Astaga!" ucap Gio tak percaya seraya mengelengkan kepalanya.
"Salah?" tanya Leon seraya masuk kedala mobil.
"Entahlah, aku tidak mengerti gapa yang membuat mu tergila-gila padanya. Heran aja padahal ini sudah 4 tahun," ucap Gio mengelengkan seraya menginjak pegal gas. dan meninggalkan bandara.
"Kita kerumah sakit dulu, aku kangen banget sama Rafka.".
"Baik Bos," jawab Gio seraya menambah kecepatan mobilnya. Sesampainya di rumah sakit Gio langsung berjalan menuju meja, sementara Leon menunggu Rafka di mobil. Setelah beberapa menit, Rafka pun keluar dari mengunakan jubah dokternya seraya menghampiri Gio.