
"Jangan panggil aku Luna Azzurah jika tidak mampu mengalahkan orang seperti mu!"
Semua orang yang mendengarnya termasuk Leon ikut kaget.
"Bagaimana mungkin dia?" bisik-bisik semua orang tak percaya jika raja balapan sudah kembali dengan penampilan yang berbeda.
"Leon!"
"Jangan khawatir kan aku!" ucap Leon yang tampak begitu kecewa.
"Kita balapan di jalan dekat bukit jam delapan!" ucap Luna tersenyum devil sebelum meninggalkan lokasi balapan.
"Luna, sayang kamu harus menangkan balapan besok!" ucap Natalia yang tampak khawatir.
"Kamu tenang aja sayang, aku gak akan kalah kok!" jawab Yondri yang begitu percaya diri.
"Huft!" Leon menghela nafasnya seperti memikirkan sesuatu yang berat, karna lelah Leon menghempaskan badannya ke atas kasur, sembari membayangkan masa\-masa bersama Luna.
"Siapa Luna sebenarnya?" tanya Leon sembari memejamkan kedua matanya.
"Luna kenapa kau mengukapkan siapa dirimu?" tanya Adrian sembari mengikuti Luna masuk ke dalam rumah.
"Karna aku tidak ingin memalukan Geng Zurrah yang kita buat. Kau tau, karna Yondri lah kau mengalami kecelakaan!" jawab Luna sembari berjalan cepat menaiki tangga.
"Itu bukannya salahnya!" jawab Adrian berhenti.
"Kau tau aku paling benci dengan tiga hal, kebohongan, kecurangan dan orang\-orang yang suka mengijak orang lemah!"
"Lalu apa yang kau lakukan kepada teman\-teman mu dan apa kau tau? Leon dan teman\-temannya juga ada di sana!" tiba\-tiba langkah Luna terhenti saat Adrian mengatakan itu.
"Bukannya kau tidak ingin teman\-teman mu tau siapa jati dirimu sebenarnya?"
"Aku sudah tak memperdulikan lagi!" ucap Luna berjalan pergi menuju lantai atas.
"Apa yang terjadi?" tanya Juna yang ternyata belum tidur.
"Bukan apa\-apa," jawab Adrian yang tak ingin membuat Juna khawatir.
"Kau mau minum denganku?" tanya Juna mengajak.
"Luna akan marah jika tau kau minum\-minum."
"Aku cuma mengajak mu minum bersoda kok!" jawab Juna memperlihatkan minuman kaleng.
"Baiklah," jawab Adrian sembari menerima minuman kaleng dari Juna.
"Leon, kamu mau kemana pagi\\-pagi?" tanya Ibu Leon sembari meletakan sarapan pagi di atas meja.
"Aku ingin olahraga Ibu," jawab Leon singkat.
"Berhati\\-hati lah," ucap Ibu Leon dengan lembut.
Leon mulai berlari\\-lari santai di dekat taman dengan di temani musik Alan Wallker.
Sementara itu Luna juga ikut berlari\\-lari santai dekat taman, karna sudah lama tak ber olahraga di pagi hari.
"Udaranya benar\\-benar segar," ucap Luna mencoba menghirup udara segar.
"Kring...kring...kring!"
"Hah sial!" ketus Luna kesal saat tiba\\-tiba musiknya terhenti karna ada yang menelpon.
"Luna, kamu ada di mana?" tanya Juna yang khawatir.
"Aku lagi berolahraga dekat taman kak!" jawab Luna sembari berhenti berlari.
"Kakak pikir kamu pergi kemana. Baiklah kalau begitu lanjut olahraga kembali," ucap Juna sembelum mematikan teleponnya.
"Mengganggu saja!" ucap Luna yang kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Luna!" panggil seseorang dari belakang.
Luna merasa mengenali suara itu, Luna pun memutuskan untuk melihat kearah belakang dan melihat Leon tengah berdiri.
"Leon!"
"Aku pikir kamu benar\\-benar pergi ke Amerika, tapi ternyata itu cuma kebohongan belaka saja. Aku benar\\-benar kecewa dengan mu Luna!"
"A\\-aku bi\\-sa jelasin semua Leon," jawab Luna yang tiba\\-tiba menjadi gugup.
"Aku tidak peduli jika kamu merahasiakan dari yang lain. Tapi setidaknya jangan kamu rahasia kan dari ku!" ucap Leon yang tiba\\-tiba meranjuk.
"Apa?" jawab Luna sedikit kaget.
"Apa kau tau kalau aku sangat menyukaimu dari dulu, aku tidak peduli jika kamu seorang pembalap atau apalah. Meskipun aku sudah berusaha melupakan perasaan ini, tetap saja aku tak mampu melupakan."
Luna sedikit kaget saat Leon tiba\\-tiba mengatakan perasaannya, tapi Luna tidak marah ketika Leon mengukapkan isi hatinya yang sudah lama di pendam.
"Tapi kamu jangan khawatir, aku akan segera melupakan perasaan ini padamu."
"Me\\-melupakan?" batin Luna sedikit ada rasa sakit saat mendengarnya.
"Aku pergi dulu. Maaffin aku karna sudah buat kamu tak nyaman," ucap Leon berlalu pergi mendahului Luna.
"Kenapa tiba\\-tiba dada ku sakit?" tanya Luna tak mengerti sembari meletakan telapak tangannya di dada.
Selama perjalanan pulang, tiba\\-tiba perasaan Luna bercampur aduk, ada marah, kecewa.
"Tadi dia bilang tidak bisa melupakan ku, tapi kenapa tiba\\-tiba dia ingin melupakan ku. Dasar plilan!" ketus Luna marah sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
"Bos kenapa?" tanya anak buah Luna heran.
"Luna sarapannya sudah masak," panggil Juna saat melihat Luna ingin naik tangga.
"Aku mengerti kak," jawab Luna yang lansung memutar kaki nya menuju meja makan.
"Kau bilang ingin melupakan ku? Baik lupakan saja!" ketus Luna kesal sembari menusuk dadar telur dengan garpu.
"Dia kenapa?" tanya Juna kepada Adrian.
"Berapa menit?" tanya Luna kepada Bingtang.
"12, 45 detik," jawab Bintang.
"Bagaimana skor ku turun?" tanya Luna tak percaya.
"Mungkin Bos muda lagi banyak pikiran, makannya Bos muda gak fokos. Sebaiknya Bos melupakan masalah itu untuk sementara waktu, agar Bos muda bisa fokos latihan."
"Lu\\-pa\\-kan. Kau pikir semudah itu kau melupakannya!" bentak Luna yang tiba\\-tiba marah.
"Hah!" ucap Bintang dengan mulut terbuka, Bintang tak mengerti apa yang salah dengan perkataannya tadi.
"Kenapa hari ini Luna tiba\\-tiba jadi suka marah?" tanya Juna heran. "Kemarin masih baik\\-baik saja kok, sekarang tiba\\-tiba menjadi sensi?"
"Mungkin Luna sedang jatuh cinta," jawab Adrian.
"Hah?"
"Udah tenang aja, itu biasa kok dalam masa muda!" ucap Adrian tersenyum, Juna hanya mengaguk mengerti.
Brum...brum...brum!
Bunyi suara motor yang begitu riuh terdengar dari tempat balapan, wanita\\\\-wanita sexsi berjalan lalu lalang, begitupun para pemotor yang mencoba menujukkan kehebatannya.
"Luna, itu Leon!" tunjuk Adrian kepada tiga pemuda tampan yang menghampiri mereka.
"Luna semoga menang," ucap Gio memberi semangat.
"Semangat Luna," ucap Rafka mengikuti.
Luna hanya membalas dengan senyuman.
"Leon!" ucap Gio memberi isyarat agar Leon memberikan Luna semangat.
"Jangan sampai terluka."
"Kamu tidak perlu khawatir Leon," jawab Luna tersenyum manis.
"Aham..." Ucap Adrian yang tiba\\\\-tiba berdeham.
"Apaan sih!" ucap Luna dengan wajah sudah memerah.
"Bos muda semangat!" teriak anggota Geng Zurrah serentak, saat Luna menuju garis star.
"Kau tidak perlu khawatir, aku bukanlah orang seperti mu!" ucap Luna tersenyum sinis sembari menatap Yondri.
"Yondri!"
"Yondri!"
"Yondri!"
Teriak para suppoter Yondri memberikan semangat.
"Sayang, kamu harus menang!" teriak Natalia dengan keras.
Setelah aba\\\\-aba yang di berikan oleh wasit, Luna mulai menacap gas nya dengan kecepatan penuh. Luna dengan santai melewati tingkungan maupun perkelokkan, sementara itu Yondri tampak kesulitan karna belum terlalu hafal dengan jalan ini. Balapan cukup berlansung selama 15,4 detik, Luna berhasil mencapai garis finis duluan.
"Yeaa..." teriak anggota Geng Zurrah senang.
"Terbukti kan siapa yang paling cepat dan siapa yang curang!" ucap Luna tersenyum saat berhasil mengalahkan Yondri dan mengembalikan harga diri Geng Zurrah.