My Girlfriend Is A Boss Mafia

My Girlfriend Is A Boss Mafia
My Girlfriend Is A Boss Mafia



"Syukurlah kalau kamu suka," jawab Leon tersenyum. "Bagaimana kalau aku tujukkin wahana yang paling aku suka?" Sambung Leon sembari menarik tangan Luna menuju berbagai macam permainan.


Leon dan Luna mulai memainkan permainan tembak-tembakkan, bagi Luna itu hanya hal kecil. Dengan lihai Luna menembak tepat sasaran dan berhasil memenangkan boneka beruang yang begitu besar. Leon pun tak ingin kalah dari Luna, Leon dan Luna pun mencoba permainan lempar bola basket. Kali ini Leon berhasil mengalahkan Luna,tentu saja Leon menang. Karna Leon terkenal jago main basket di SMA, selesai bermain lempar bola. Luna pun mengajak Leon membeli sebuah bendo yang memiliki telinga Kucing.


"Hahaha... Kamu benar-benar lucu, Leon."


Leon hanya tersenyum senang saat melihat Luna tersenyum bahagia, meskipun Leon harus rela di pasangkan bendo kucing diatas kepalanya. Jika dilihat sepintas Luna tidak terlihat seperti orang yang kejam, karna saat tertawa Luna berubah menjadi orang yang begitu manis.


Karna Leon, Luna dapat bersenang-senang, hingga tak terasa waktu berlalu begitu saja.


"Benar-benar melelahkan," ucap Luna seraya duduk diatas kursi bersama Leon.


"Terimah Kasih, Leon. Karna mu aku mendapatkan hari yang menyenangkan," ucap Luna tersenyum menatap Leon.


"Kamu pasti haus?" tanya Leon seraya memberikan jus jeruk.


"Makasih," jawab Luna menerima jus jeruk dan meminumnya sampai habis. Saat botol jus kosong, tiba-tiba Luna merasa heran saat melihat benda berkilau di dalamnya.


"Kenapa ada cincin?" tanya Luna bingung seraya mengambil cincin itu.


"Benarkah?" tanya Leon pura-pura tidak tau.


"Nah," jawab Luna menujukkanya kepada Leon.


"Cincin keberuntungan mungkin. Coba deh pasang dijari mu?"


"Cincinnya pas dijari ku," jawab Luna tersenyum sembari menujukkannya pada Leon. "Makasih Leon," sambung Luna tersenyum senang.


"Makasih buat apa?"


"Makasih karna sudah mencintai ku sampai saat ini dan aku juga tau kalau cincin darimu. Tadi tampa sengaja aku melihat mu memasukan cincin kedalam botol jus."


"Setidaknya kamu harus pura-pura tidak tau!" ketus Leon yang kecewa, Luna hanya tertawa saat melihat Leon memanyunkan bibirnya.


"Ketawa lagi!" ketus Leon yang kesal, saat Luna tak henti-henti tertawa.


"Maaf!"


Leon pun akhirnya tertawa, saat Luna tiba-tiba membuat wajah imutnya.


"Leon!" panggil Luna yang berubah menjadi serius.


"Iya?"


"Bagaimana kalau kita menikah saja?" tanya Luna tersenyum.


"Apa kamu yakin?" jawab Leon yang balik bertanya.


"Aku yakin sekali dengan keputusanku, Aku tidak ingin lagi berpisah dengan mu, rasanya begitu menyiksaku. Aku ingin slalu ada di sisimu," jawab Luna tersenyum.


"Baiklah jika itu mau mu, aku juga tidak ingin berpisah darimu. Kita akan menggelar pernikahan sebelum Raisa dan Rafka," ucap Leon seraya membelai kepala Luna dengan lembut.


"Kamu benar," jawab Luna tersenyum senang.


******


**Dua minggu kemudian.


"Ibu ini benar-benar susah!" rengek Luna saat belajar memakai haikgil.


"Kamu pasti bisa. Kamu mau permalukan suamimu saat pernikahanmu nanti?" tanya Sarah saat melihat Luna putus asa.


Mendengar perkataan ibunya, Luna mulai membayangkan saat dirinya jatuh didepan umum. Semua orang pasti akan menertetawakan dirinya, saat dirinya tak bisa memakai haikgil seperti wanita lain.


"Ayolah itu sangat memalukan," ucap Luna mengelengkant kepalanya, saat Luna membayangkan betapa malunya jika itu benar-benar terjadi.


"Itu tidak susah kok jika kamu melakukannya dengan niat," ucap Raisa seraya berjalan dengan anggun didepan Luna.


"Luna benar-benar berusaha dengan keras," ucap Rafka saat melihat Luna berusaha begitu keras mempersiapkan pernikahannya.


"Ini semua berkat teman kita!" jawab Gio seraya menepuk bahu Leon.


"Hehehe... Kamu bisa aja," jawab Leon seraya menatap Luna yang beberapa kali terpeleset saat berjalan.


"Gio benar Leon, kamu tau sendiri Luna kayak apa sebelum bertemu denganmu? Dia benar-benar pemarah, tapi sekarang berubah menjadi wanita yang lembut. Dia benar-benar bukan Luna yang dulu lagi," ucap Rafka tersenyum.


"Ohya Leon, ayahmu gak datang di pernikahanmu besok?" tanya Gio tiba-tiba.


"Benar juga tu Leon, hari bahagia ini. Jangan sampai Ayahmu tidak datang," sambung Rafka seraya menatap Leon dan menunggu jawaban Leon.


"Ayah sekarang sudah berada di Indonesia. Ayah sedang mengujungi makam ibu bersama nenek," jawab Leon setelah terdiam sejenak.


"Wah Leon kau benar-benar membuatku jantungan," ucap Gio seraya memegang dadanya.


"Lebai kamu!" jawab Rafka sembari memukul kepala Gio, Leon hanya terseyum saat melihat Gio yang tiba-tiba bersikap konyol.


Sementara itu Juna dan Adrian tengah melihat-lihat tempat yang akan dipakai Luna dan leon besok. Disebuah gedung yang begitu luas dan mewah untuk menyambut para tamu, Juna dan Adrian berjalan seraya melihat keadaan sekitar.


Setelah hampir dua minggu mempersiapkan pernikahan Luna dan Leon, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Para anak buah Luna diperintahkan menjaga keamanan, selama pesta berlansung.


Sementara itu Luna tengah berada diruang pengantin wanita, dengan ditemani Sarah, Raisa dan ibu Raisa, Tania. Luna mulai dirias oleh perias yang sudah frofesional, untuk pertama kali Luna menggunakan gaun yang begitu indah.


"Wah Luna," ucap Adrian dan Juna terkesima saat melihat Luna yang sudah selesai dirias.


"Kalian sudah datang," ucap Sarah saat melihat Adrian dan Juna berdiri seperti pantung didepan pintu.


"Iya bu," jawab Juna singkat.


"Luna kamu benar-benar cantik," puji Adrian yang tak percaya, jika Luna begitu cantik sangat mengunakan riasan yang tak terlalu tebal dan gaun putih yang cantik.


"Terimah kasih kak," jawab Luna dengan lembut.


"Ah benar kita harus turun," ucap Juna yang baru sadar. Jika Bapak penghulu sudah menunggu Luna, dilantai bawah bersama pengantin pria yaitu Leon.


Luna pun mengadeng tangan Adrian dan Juna, dengan diikuti Sarah, Raisa, Tania dan beberapa pelayan lainnya. Semua mata tertuju pada Luna, saat Luna turun dari tangga bagaikan seorang tuan putri.


"Wah dia benar-benar cantik!"


Gio pun mulai mengambil foto saat Luna turun dari tangga, dengan diikuti para fotografer yang sudah profesional.


"Leon!" panggil Rafka saat Luna berjalan menghampiri tempat akad nikah bersama Adrian dan Juna.


"Cantiknya," ucap Leon tampa sadar, Luna hanya tersenyum saat mendengar Leon mengatakan itu.


"Bagaimana acara bisa dimulai?" tanya Bapak penghulu saat Luna sudah duduk disamping Leon.


"Bisa pak," jawab semua orang serentak.


Dalam hitungan menit Luna dan Leon pun sah menjadi suami-istri, Luna pun mencium punggung tangan Leon setelah memakaikan cincin dijari Leon. Tak lupa Leon juga mencium kening Luna, wajah Luna lansung memerah saat Leon menciumnya untuk pertama kali.


"Sekarang giliran kamu lagi Gio," ucap Rafka seraya merangkul bahu Gio.


"Biarkan kakak Juna yang lebih dulu," jawab Gio seraya menujuk Juna.


"Lah kenapa aku?" tanya Juna kaget.


"Karna kakak lebih tua dariku. Masak iya kalah sama Luna," jawab Gio nyengir.


"Sebenarnya cari seorang istri itu tidak semudah yang kamu bayangkan, susah untuk mendapatkan orang yang mau menerima aku apa apa adanya."


" Yang dikatakan kak Juna memang benar," sambung Gio yang tampak sedih.


"Ayolah jangan sedih. Ini hari bahagis teman kita," ucap Rafka tersenyum seraya merangkul bahu Gio**.