
Adrian pun di pindahkan ke ruang penyembuh, Luna duduk di samping brankar sembari memperhatikan Adrian yang tengah tidur begitu nyaman.
Sementara itu sang surya baru saja terbit dari timur, Juna baru saja bangun dari tidurNya. Juna tidak sadar kalau dirinya tidur disofa karna menunggu Luna pulang semalam.
"Ini sudah pagi," ucap Juna sembari mengusap kedua matanya, Juna pun beranjak dari sofa dan berjalan ke lantai atas dan berniat membangunkan Juna.
"Luna!" panggil Juna sembari membuka pintu.
"Luna?" panggil Juna yang tak melihat Luna dikamarnya.
"Apa dia tidak pulang semalam?"
Juna pun meronggoh ponselnya di dalam saku celana dan mencoba menghubungi nomor Luna.
"Nomor yang ada tuju sedang berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi."
"Luna kamu dimana?" tanya Juna yang khawatir dan mencoba kembali menghubungi nomor ponsel Luna.
"Bos muda tidak pulang semalam tuan?" tanya Bayu tiba-tiba muncul dari pintu.
"Tidak, Luna juga mematikan ponselnya."
"Di manapun Bos muda saat ini, semoga dia baik-baik saja," ucap Bayu yang juga tampak khawatir.
"Adrian maaf kan aku, ini semua salahku. Jika ayah ku tidak ikut campur mungkin ini gak akan terjadi," ucap Luna merasa bersalah sembari menatap Adrian yang terbaring lemah di atas brankar.
"Aku ingin kau segera sadar. Aku tidak ingin kehilangan mu," ucap Luna sebelum pergi meninggalkan ruang rawat Adrian.
"Ketua mau kemana?" tanya Bintang yang baru saja datang bersama teman\-temannya.
"Bintang aku titip Adrian ya," ucap Luna yang tidak menjawab pertanyaan Bintang.
"Ketua tidak perlu khawatir saya akan jaga Adrian."
"Ayah apakah Luna pergi ketempat ayah?"
"Tidak, Luna tidak kesini."
"Lalu Luna pergi kemana? Ponselnya juga mati," ucap Juna yang begitu khawatir.
"Ketua, Bos muda ada disini," ucap James melapor.
"Juna kita bicara nanti saja."
"Baiklah ayah. Aku senang kalau Luna ketempat ayah," ucap Juna sebelum menutup telponnya.
"Syukurlah Bos muda ketempat ketua," ucap Bayu lega.
"Luna kenapa kau kesini bukannya ke sekolah?" tanya Wilian penasaran.
"Aku akan berhenti sekolah," jawab Luna dengan nada dingin.
"Kenapa?"
"Karna ayah sudah melanggar janji ayah, karna ayah Adrian masuk kerumah sakit!"
"Luna ayah hanya ingin kamu fokos sekolah. Ayah tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari," ucap Wilian yang mencoba menjelaskan maksudnya.
"Ayah tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyesal besok. Mulai sekarang ayah jangan ikut campur dengan Geng Zurrah!" ucap Luna sebelum pergi.
"Luna ayah belum selesai berbicara!" teriak Wilian yang mencoba menghetikan Luna, tetapi Luna tidak menghiraukan panggilan Ayahnya.
"Bagaimana bisa anak perempuan ku mengwarisi sifat keras kepala ku," keluh Wilian sembari meminum kopinya.
~~~~~•••
Sementara itu Raisa tengah menikmati makan siangnya sendiri.
"Kenapa hari ini Luna tidak pergi sekolah?" batin Raisa yang merasa kesepian.
"Raisa!" panggil Gio menghampiri Raisa bersama Leon dan Rafka.
"I\\\-iya," jawab Raisa terbata\\\-bata.
"Luna gak ngasih tau kenapa dia gak sekolah?" tanya Gio penasaran.
"Enggak Gio," jawab Raisa gugup. "Aku pergi dulu," sambung Raisa yang tampak terburu\\\-buru.
"Dia kenapa?" tanya Rafka heran saat melihat Raisa yang tiba\\\-tiba menjauh dari mereka.
"Gak tau," jawab Gio mengedipkan bahunya.
~~~~•••
Sementara itu Luna baru saja kembali dari Bogor dengan keadaan yang cukup lelah, badan Luna terasa sakit\\\-sakit dimana\\\-mana.
"Luna kamu baik\\\-baik saja?" tanya Juna khawatir saat melihat wajah Luna pucat.
"Aku baik\\\-baik saja kak," jawab Luna berjalan menuju lantai atas.
"Kamu sudah makan? Biar kakak masakkin makanan kesukaan mu."
"Aku tidak lapar kak."
"Pasti terjadi sesuatu dengannya," ucap Juna khawatir
~~~••••••
Waktu berlalu begitu saja, sudah satu minggu Adrian terbaring di rumah sakit. Selama Adrian koma, Luna tidak pernah pergi sekolah, Luna lebih memilih menjaga Adrian di rumah sakit di bandingkan pergi ke sekolahnya.
"Aku juga," ucap Leon tiba\\\-tiba membuat Rafka dan Gio dengan serentak menatap Leon.
"Huft... Bagaimana bisa dia menghilang tampa kabar?" ucap Leon yang begitu sedih, seperti baru saja kehilangan penyemangatnya.
"Leon kamu kemana?" tanya Rafka bingung.
"Kembali ke kelas. Makanan kantin kurang enak!"
"Leon benar makanan kantin kurang lezat," ucap Gio yang juga beranjak dari kursinya.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Rafka heran, padahal makanan kantin begitu lezat menurutnya.
Dilain waktu Raisa tengah dibuly oleh Natalia dan teman\\\-temannya.
"Gimana cupu? Sekarang penyelamat mu juga sudah pergi," ucap Natalia tersenyum bahagia.
"Aku mohon jangan siksa aku," ucap Raisa menangis.
"Cup\\\-cup jangan buat kita seperti orang jahat dong!" ucap Natalia sembari memjambak Raisa dengan sangat kasar.
"He kamu sadar gak? Gara\\\-gara kamu Kita\\\-kita mengalami hari\\\-hari yang buruk!" bentak Bunga sembari mendorong kepala Raisa.
"Kenapa kalian begitu jahat padaku? Hiks...Apa salah ku?" tanya Raisa sembari menangis tersedu\\\-sedu.
"Karna kamu sudah berani dekat dengan calon My Love!" jawab Bunga tersenyum senang akhirnya bisa membalaskan dendamnya.
"Hentikan semua ini!" teriak Rafka dari pintu.
"Aku benar\\\-benar sudah muak dengan kelakuan kalian," ucap Rafka sembari menghampiri Natalia dan Bunga. "Dasar manusia hina, apa kalian tidak punya perkerjaan selain menidas orang\\\-orang lemah?"
Semua orang kaget ketika Rafka tiba\\\-tiba membela Raisa, Rafka yang terkenala cuek dan bodo amat soal wanita.
"Apa kalian sudah lupa? Karna ulah kalian teman sebangku Raisa meninggal karna bunuh diri, tapi karna ayah Natalia kepala sekolah, rumor itu ditepis begitu saja. Apa belum cukup membunuh satu orang saja? Apa begitu membosankan hidup kalian?"
Semua orang yang mendengarkan penuturan Rafka begitu kaget, jika rumor itu memang benar.
"Rafka, ayo kita kembali ke kelas?" ajak Leon yang mencoba menghentikan kemarahan Rafka.
"Jangan lupa kejadian 2 bulan lalu!" ucap Rafka sembelum Leon menarik Rafka keluar dari kelas 3B.
Natalia dan Bunga hanya terdiam membeku saat Rafka mengukit kejadian 2 bulan lalu, saat seorang siswa bunuh diri di dalam toilet.
~~~~~~~•••
Sementara Luna begitu bahagia setelah mendapat kabar, kalau Adrian sudah siuman dari komanya.
"Benarkah?" tanya Luna yang tampak begitu bahagia.
"..."
"Baiklah aku akan kesana," ucap Luna tersenyum lebar sembelumm menutup telpon.
"Kenapa Luna?" tanya Adrian yang baru saja kembali dari suatu tempat.
"Temanku Adrian sudah siuman," ucap Luna senang.
"Syukurlah. Apa perlu kakak antar kesana?" tanya Juna yang juga ikut senang, Luna hanya membalas dengan anggukan.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Luna tak berhenti\\\-henti tersenyum. Sesekali Juna menatap Luna dengan tersenyum, Juna belum pernah melihat Luna tersenyum semanis itu semenjak kembali dari Amerika.
Sesampainya di rumah sakit, Luna lansung berlari masuk kedalam rumah sakit, karna tak sabar ingin bertemu Adrian.
"Luna hati\\\-hati," ucap Juna khawatir sembari berjalan mengikuti Luna masuk.
"Ketua kau sudah datang," ucap Bintang saat mtelihat Luna muncul dari pintu.
Seperti biasa Luna slalu menghiraukan pertanyaan Bintang, Luna berlari menghampiri Adrian.
"Aku senang kau sudah sadar," ucap Luna menangis haru sembari memeluk Adrian.
"Ayolah Luna aku baik\\\-baik saja kok," jawab Adrian tersenyum sembari membalas pelukkan dari Luna.
"Kenapa kau berubah menjadi cengeng sekarang Luna?"