
Semua hidangan di atas meja, sudah selesai di makan Adrian, ini pertama kali Adrian makan begitu banyak.
Setelah selesai makan Adrian lebih memilih meletakan uangnya di atas meja dan pergi begitu saja meninggalkan warung ibu Raisa.
"Tuan!" panggil Raisa sembari mengejar Adrian ke pintu, saat mengetahui Adrian membayar begitu banyak, walau sebenarnya cuma 85 ribu total yang sebenarnya harus di bayar.
"Kenapa dia pergi begitu saja?" ucap Raisa heran sembari berjalan ke meja dan berniat ingin membersihkan meja, tiba-tiba tangan Raisa terhenti saat melihat irisan daun bawang di atas piring kecil. Raisa jadi ingat masa lalu ketika Raisa sedang makan bersama Ayah, ibu, dan kakak nya Adrian.
"Adrian, kenapa daun bawang nya di pisahkan?" tanya Tania heran.
"Ibu lupa, Kalau aku gak suka sama daun bawang?"
"Maaf kan ibu Adrian, lain kali ibu tidak akan lupa lagi."
"Raisa, tolong bantu ibu!" teriak Tania dari dapur.
"Baik ibu!" jawab Raisa bergegas membersihkan meja.
Waktu menunjukkan pukul 11dini hari, tiba\-tiba Luna terbangun dari tidurnya karna merasa haus.
"Haus nya," ucap Luna sembari mengambil gelas yang sudah kosong, dengan mata sedikit mengatuk Luna berjalan menuju dapur.
"Lega," ucap Luna selesai minun, Luna berniat ingin kembali ke kamar. Tiba\-tiba langkah nya terhenti saat melihat pintu kamar ayahnya terbuka.
"Kenapa pintu kamar ayah terbuka?" ucap Luna sembari berjalan menuju kamar Wilian dan berniat ingin menutup kembali pintu kamar Wilian.
Betapa kaget nya Luna, saat melihat Juna yang sudah tertidur pulas di atas sofa, bukan hanya itu. Luna juga melihat beberapa botol minuman yang sudah habis di minum Juna.
"Kakak tidak pernah minum sama sekali, ini semua salah ku. Karna sudah melukai perasaan kakak ku," ucap Luna sembari meneteskan air matanya.
"Kakak, maaffin Luna! Hiks...hiks..." ucap Luna menangis tersedu\-sedu sembari berjongkok di depan Juna.
"Luna!" panggil Juna yang terbangun karna suara tangisan Luna yang lumayan keras.
"Kakak, Luna minta maaf karna sudah egois. Hiks... Kakak jangan pergi lagi ke Amerika, sebenarnya Luna tidak bisa hidup tampa kakak . Cuma kakak yang Luna punya, hiks..." ucap Luna menangis tersedu\-sedu.
"Lu\-Luna!" ucap Juna dengan suara parau. "Mana mungkin kakak meninggalkan adik kakak ini," sambung Juna sembari memeluk Luna dengan erat.
"Kakak jangan minum\-minum lagi, jika kakak sakit. Siapa yang bakal jagain Luna? Hiks...hiks..."
"Maaffin kakak Luna. Kakak janji gak akan minum\-minum lagi," jawab Juna menyesal.
Bayu yang dari tadi berdiri di pintu pun juga ikut menangis, saat melihat Luna menangis tersedu\-sedu.
Semua anggota Geng Zurrah tengah berkumpul di tempat perkumpulan Geng Zurrah.
"Hari ini aku akan mengumumkan bahwa mulai hari ini ketua Geng Zurrah adalah Adrian Alexander, wakil ketua Bintang Saputra !"
Semua orang menerima keputusan Luna dengan lapang dada, karna mereka tau. Luna memiliki alasan sendiri, untuk mundur menjadi ketua Geng Zurrah yang dibuatnya.
Beberapa jam lalu.
"Adrian, aku punya permintaan?"
"Apa Luna?"
"Aku ingin kau menjadi ketua Geng Zurrah!"
"Apa?" jawab Adrian sedikit kaget dengan keputusan Luna. "Luna, kamu pasti becanda kan?" tanya Adrian yang tak percaya.
"Adrian, aku ingin mewujudkan keinginan ayah ku. Mulai sekarang aku akan fokos belajar, agar segera lulus dari sekolah."
"Aku mengerti Luna," jawab Adrian mengaguk.
~~~~~~••
Semenjak Luna memutuskan untuk mundur menjadi ketua Geng Zurrah dan fokos pada sekolah demi memenuhi keinginan terakhir ayahnya. Sedangkan bisnis ayahnya yang di Bogor, Luna menyerahkan kepada Bayu sekretaris Luna.
Sementara itu Juna mulai belajar bela diri dari anak buah Luna, hari demi hari Juna mulai mampu menguasai setiap gerakkan yang di anjarkan anak buah Luna.
"Bagaimana otot kakak?"
"Kakak harus banyak berlatih lagi!"
"Baiklah!" ketus Juna sembari mengambil apel yang sudah di gigit Luna.
"His!" ucap Luna yang kembali fokos membaca buku.
~~~~~•••
Luna dan Raisa sedang duduk santai di bawah pohon, bersama dengan ketiga pemuda tampan yang slalu ada di manapun Luna berada.
"Raisa!"
"Hmmm," jawab Raisa sembari menoleh je arah Luna.
"Kamu itu cantik kalau gak pakai kacamata," ucap Luna sembari mencopot kacamata Raisa.
"Luna!" teriak Raisa kesal saat kacamata nya di berikan pada Rafka.
"Habis itu kamu cantik kalau rambut kamu di lepas," ucap Luna sembari melepaskan ikatan rambut Luna, hingga rambut panjang yang hitam terurai.
"Wah ternyata kamu jauh lebih cantik kalau gak pakai kacamata," ucap Rafka keceplosan.
"Apaan sih!" ketus Rafka kesal.
"Raisa, sebenarnya Rafka suka sama kamu loh, makannya Rafka slalu gugup kalau dekat sama kam."
Wajah Rafka dan Raisa tiba\\-tiba berubah menjadi merah merona.
"Kenapa tiba\\-tiba panas?" ucap Raisa dengan polos dan kembali mengikat rambutnya.
Luna hanya tersenyum melihat wajah polos Raisa, yang tiba\\-tiba berubah menjadi merah merona. Sementara itu Luna tidak sadar, kalau Leon diam\\-diam memperhatikan Luna. Gio yang mengetahui bahwa Leon juga menyukai Luna, Gio pun lansung melupakan perasaanya keoada Luna.
"Luna, saat lulus sekolah nanti kamu ingin masuk universitas apa?" tanya Leon yang tiba\\-tiba membuat suasana menjadi
sunyi.
"Hmmm... Rencananya universitas tempat kakak ku."
"Amerika?" tanya Leon penasaran, Luna hanya membalas dengan anggukan.
"Kalau kamu Leon?" tanya Luna balik.
"Aku tidak bisa meninggalkan ibuku, jadi aku akan kuliah di Indonesia saja, lagian universitas Indonesia juga tak kalah dengan luar negri."
"Kalau kalian berdua?"
"kalau kita sih ikut Leon aja," jawab Gio tersenyum sembari merangkul bahu Leon.
"Raisa, kamu ingin masuk universitas apa?" tanya Rafka penasaran.
"Kalau aku sih belum memikirkan mau masuk universitas apa," ucap Raisa sedikit malu\\-malu.
~~~~~•••
"Adrian apa kita beritahu Bos muda. Kalau kita sudah menemukan siapa dalang di balik kecelakan itu?" tanya Bintang yang tak sabar ingin memberitahu kan kepada Luna.
"Tidak sesekarang, tunggulah beberapa bulan lagi. Selama itu kita akan mulai berlatih," ucap Adrian tersenyum sinis, seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Aku mengerti Adrian."
Beberapa bulan kemudian...
Akhirnya usaha Luna membuahkan hasil, Luna mendapatkan peringkat tujuh dari 155 siswa. Sedangkan Leon mendapatkan peringkat satu dan sementara itu Raisa juga mendapatkan peringkat dua.
"Luna, kakak bangga kepadamu."
"Akhirnya aku bisa menyelesaikan tugasku. Ini semua berkat kakak," jawab Luna tersenyum bahagia, yang akhirnya bisa memenuhi keinginan ayahnya, dengan hasil yang lumayan bagus.
"Jika ayah masih ada, pasti ayah sangat bangga melihat mu."
"Kakak benar," ucap Luna sembari menghapus air matanya.
"Teman\\-teman mari kita berfoto dulu!" teriak Gio yang sudah menyiapkan kamera.
"Gio ambilin fotoku bareng ibu!" pinta Leon sembari menarik ibu Leon yang begitu cantik ke dalam dekapan.
"Ok\\-ok."
~~~~~~•••
"Kak, bagaimana kalau kita ke makam ayah dulu?" tanya Luna yang sudah selesai mengambil foto\\-foto untuk kenang\\-kenangan.
"Baiklah," jawab Juna setuju.
"Luna mana?" tanya Leon penasaran.
"Luna baru saja pergi dengan kakaknya," jawab Gio sembari menujuk entah kemana.
"Kenapa dia sudah pergi? Padahal aku mau ngomong sesuatu!" keluh Leon begitu kecewa.
Gio hanya tertawa saat melihat Leon bersikap seperti anak kecil.
"Kamu ingin ngomong apa sama Luna?" tanya Rafka penasaran.